Rabu, 17 Agustus 2011

Jenis Lain Kemusyrikan


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ


MENGAPA AGAMA DAN SEKTE AGAMA DI DUNIA BERMACAM-MACAM?

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

BAB IV

JENIS LAIN KEMUSYRIKAN

فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ حَنِیۡفًا ؕ فِطۡرَتَ اللّٰہِ الَّتِیۡ فَطَرَ النَّاسَ عَلَیۡہَا ؕ لَا تَبۡدِیۡلَ لِخَلۡقِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ الدِّیۡنُ الۡقَیِّمُ ٭ۙ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٭ۙ۳۱ مُنِیۡبِیۡنَ اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿ۙ۳۲ مِنَ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ وَ کَانُوۡا شِیَعًا ؕ کُلُّ حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ ﴿۳۳

Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, [turutilah] fitrah Allah yang atasnya Dia menciptakan manusia. Tiada perubahan dalam ciptaan Allah, itulah agama yang kekal tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Kembalilah [bertaubat] kepada Allah dan bertakwalah kepada-Nya, dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi golongan-golongan, tiap-tiap golongan gembira dengan apa yang ada pada mereka (Al-Rum [30]:31-33).

Dalam Bab II sebelum ini – yakni QS.21:93-94 dan QS.30:31-33 -- akibat penolakan mereka terhadap agama Islam (Al-Quran) dan Nabi Besar Muhammad saw., para pemuka agama serta para pemuka sekte-sekte agama yang diturunkan sebelum agama Islam tersebut telah terjerumus ke dalam suatu bentuk kemusyrikan lainnya, yakni mereka telah mempertuhan nabi mereka bahkan mempertuhankan para pemuka agama mereka, firman-Nya:

قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿۳۰ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿۳۱ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿۳۲

Dan orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu anak Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih itu anak Allah.” Demikian itulah perkataan mereka dengan mulut mereka. Mereka hanya meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah membinasakan mereka, sangat jauh mereka berpaling. Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan [begitu juga] Al-Masih ibnu Maryam. Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan kecuali Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan. Mereka berkehendak memadamkan Cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan Cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir tidak menyukai (Al-Taubah [9]:30-32). Lihat pula QS.5:18-19 & 73-78.

Kemusyrikan tersebut mengakibatkan terjadinya berbagai bentuk perpecahan umat beragama -- baik perpecahan antar umat beragama yang berbeda mau pun perpecahan antar sekte umat beragama yang seagama – firman-Nya:

کَانَ النَّاسُ اُمَّۃً وَّاحِدَۃً ۟ فَبَعَثَ اللّٰہُ النَّبِیّٖنَ مُبَشِّرِیۡنَ وَ مُنۡذِرِیۡنَ ۪ وَ اَنۡزَلَ مَعَہُمُ الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ لِیَحۡکُمَ بَیۡنَ النَّاسِ فِیۡمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ ؕ وَ مَا اخۡتَلَفَ فِیۡہِ اِلَّا الَّذِیۡنَ اُوۡتُوۡہُ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ۚ فَہَدَی اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ مِنَ الۡحَقِّ بِاِذۡنِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿۲۱۴

Manusia adalah satu umat, lalu Allah mengutus nabi-nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Dia menurunkan beserta mereka Al-Kitab dengan haq (benar), supaya Dia menghakimi di antara manusia hal-hal yang mereka perselisihkan. Dan [kemudian] sekali-kali tidak ada yang memperselisihkan hal (kenabian dan Kitab) itu kecuali orang-orang yang diberi [Kitab] itu sesudah Tanda-tanda yang nyata datang kepada mereka karena kedengkian di antara mereka, maka Allah dengan perintah-Nya telah menunjuki orang-orang yang beriman kepada haq (kebenaran) yang mereka perselisihkan itu, dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (Al-Baqarah [2]:214).

Firman-Nya lagi:

اِنَّ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ وَ کَانُوۡا شِیَعًا لَّسۡتَ مِنۡہُمۡ فِیۡ شَیۡءٍ ؕ اِنَّمَاۤ اَمۡرُہُمۡ اِلَی اللّٰہِ ثُمَّ یُنَبِّئُہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ﴿۱۵۹

Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama dan mereka menjadi golongan-golongan, engkau tidak memiliki kepentingan apa pun dengan mereka, sesungguhnya urusan mereka terserah kepada Allah, kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan (Al-An’ām [6]:66).

Sebelum kedatangan seorang nabi (rasul) Allah semua orang seperti satu kaum (satu umat), dalam arti bahwa mereka semua adalah orang-orang kafir. Tetapi bila nabi (rasul) Allah muncul, mereka itu – walau pun satu sama lain berbeda dan saling bertentangan dalam hal kekafiran (kemusyrikan) mereka – tetapi mereka merupakan satu front (kesatuan) dalam mendustakan dan menentang nabi (rasul) Allah tersebut.

Dua Macam “Perselisihan” Umat & Dua Golongan Umat

Ada pun “perselisihan” yang dikemukakan dalam ayat tersebut (QS.2:214) pada dua tempat yang terpisah merujuk kepada ketidaksepahaman yang berlainan. Sebelum kedatangan seorang nabi Allah orang-orang berselisih di antara mereka sendiri mengenai perbuatan musyrik mereka. Tetapi sesudah nabi Allah itu muncul mereka bersatu-padu dan berselisih melakukan pendustaan dan penentangan mengenai dakwah nabi Allah tersebut.

Nabi Allah tersebut tidak menimbulkan perselisihan, sebab sebelumnya pun perselisihan di antara kaum itu sendiri sedang terjadi, hanya saja sesudah kedatangan nabi Allah perselisihan tersebut mengambil bentuk baru. Sebelum seorang nabi Allah datang orang-orang meskipun berselisih paham antara satu sama lain mengenai berbagai hal, tetapi mereka nampak seperti satu kaum (satu umat), dan mereka mulai terpisah (pecah) menjadi dua blok (golongan) yang sangat berbeda – yakni orang-orang beriman dan orang-orang kafir – sesudah nabi Allah itu datang.

Dipandang secara kolektif ayat ini menggambarkan 5 tingkat berlainan yang telah dilalui umat manusia: (1) Mula-mula ada kesatuan di antara manusia, semuanya merupakan satu umat. (2) Dengan bertambahnya penduduk serta meluasnya kepentingan mereka dan kian ruwetnya masalah-masalah yang dihadapi mereka, mereka mulai berselisih antara satu sama lain. (3) Kemudian Allah Swt. membangkitkan para nabi Allah serta mewahyukan kehendak-Nya. (4) Setiap wahyu-baru dijadikan sebab kekacauan dan pertikaian, terutama oleh kaum yang kepadanya Amanat Ilahi dialamatkan. (5) Allah Swt. akhirnya membangkitkan Nabi Besar Muhammad saw. dengan membawa Kitab Suci terakhir beserta ajaran yang universal, berseru kepada seluruh umat manusia untuk berkumpul di sekitar panjinya. Dengan demikian lingkaran telah bertemu dan dunia yang mulai dengan kesatuan untuk berakhir dalam kesatuan pula.

Dengan kata lain -- sebagaimana telah dikemukakan pada awal uraian ini -- diturunkannya agama-agama pada masa awal silsilah kenabian adalah dalam warna “Islam” dan umatnya adalah “Muslim” maka berakhir pula dalam bentuk agama Islam dan umat Islam atau Muslim, firman-Nya:

وَ مَنۡ یَّرۡغَبُ عَنۡ مِّلَّۃِ اِبۡرٰہٖمَ اِلَّا مَنۡ سَفِہَ نَفۡسَہٗ ؕ وَ لَقَدِ اصۡطَفَیۡنٰہُ فِی الدُّنۡیَا ۚ وَ اِنَّہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ لَمِنَ الصّٰلِحِیۡنَ ﴿۱۳۱ اِذۡ قَالَ لَہٗ رَبُّہٗۤ اَسۡلِمۡ ۙ قَالَ اَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿۱۳۲ وَ وَصّٰی بِہَاۤ اِبۡرٰہٖمُ بَنِیۡہِ وَ یَعۡقُوۡبُ ؕ یٰبَنِیَّ اِنَّ اللّٰہَ اصۡطَفٰی لَکُمُ الدِّیۡنَ فَلَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿۱۳۳﴾ؕ اَمۡ کُنۡتُمۡ شُہَدَآءَ اِذۡ حَضَرَ یَعۡقُوۡبَ الۡمَوۡتُ ۙ اِذۡ قَالَ لِبَنِیۡہِ مَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِیۡ ؕ قَالُوۡا نَعۡبُدُ اِلٰہَکَ وَ اِلٰـہَ اٰبَآئِکَ اِبۡرٰہٖمَ وَ اِسۡمٰعِیۡلَ وَ اِسۡحٰقَ اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚۖ وَّ نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ ﴿۱۳۴ تِلۡکَ اُمَّۃٌ قَدۡ خَلَتۡ ۚ لَہَا مَا کَسَبَتۡ وَ لَکُمۡ مَّا کَسَبۡتُمۡ ۚ وَ لَا تُسۡـَٔلُوۡنَ عَمَّا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿۱۳۵

Dan siapakah yang berpaling dari millat (agama) Ibrahim selain orang yang berlaku bodoh atas dirinya? Dan sesungguhnya dia telah Kami pilih di dunia dan sesungguhnya di akhirat pun dia benar-benar termasuk orang-orang saleh. Ketika Tuhannya berfiman kepadanya: “Aslim (berserah dirilah).” Ia berkata: “Aslamtu (aku telah berserah diri) kepada Tuhan seluruh alam.” Dan Ibrahim mewasiyatkan demikian kepada anak-anaknya, dan [juga] Ya’qub: “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah memilih agama ini bagi kamu maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (berserah diri).” Apakah kamu hadir pada saat kematian menghampiri Ya’qub, ketika berkata kepada anak-anaknya: “Apakah yang akan kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhan engkau dan Tuhan bapak-bapak engkau: Ibrahim, Isma’il dan Ishaq, yaitu Tuhan yang Esa dan kepada-Nya kami berserah diri (Muslimūn).” Itulah umat yang telah berlalu, bagi mereka apa yang diusahakan mereka dan bagimu apa yang kamu usahakan, dan kamu tidak akan ditanyai mengenai apa yang telah mereka kerjakan (Al-Baqarah [2]:131-135).

Firman-Nya lagi:

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ارۡکَعُوۡا وَ اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ۷۸ وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ ِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿۷۹

Hai orang-orang beriman, rukuklah kamu dan sujudlah serta sembahlah Tuhan kamu dan berbuatlah kebaikan supaya kamu memperoleh keberhasilan. Dan berjihadlah kamu di [jalan] Allah dengan sebenar-benar jihad, Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan kesukaran atas kamu dalam [urusan] agama, [ikutilah] millat (agama) bapakmu Ibrahim, Dia telah memberi kamu nama Muslimin dahulu dan dalam [Kitab Al-Quran] ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas kamu dan kamu menjadi saksi atas umat manusia, maka dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan berpegangteguhlah kepada Allah, Dia-lah Pemelihara kamu, maka Dia-lah sebaik-baik Pemelihara dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hajj [22]:78-79).

Kalimat “Dia telah memberi kamu nama Muslimin dahulu dan dalam kitab ini” merujuk kepada nubuatan Nabi Yesaya a.s.: “Maka engkau akan disebut dengan nama yang baharu, yang akan ditentukan oleh firman Tuhan.....” (Yesaya 62:2 dan 65:15). Sedangkan isyarat “dan dalam kitab ini” merujuk kepada doa Nabi Ibrahim a.s. yang dikutip Al-Quran ketika bersama Nabi Isma’il a.s. meninggikan kembali fondasi Ka’bah (Baitullah), yaitu: “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua ini hamba yang berserah diri kepada Engkau, dan juga dari anak cucu kami jadikanlah satu umat yang berserah diri kepada engkau...” (QS.2:128-130).

Dengan demikian jelaslah bahwa sejak awal pun agama di sisi Allah Swt. adalah Islam (QS.3:20 & 86) tetapi nama Islam dan Muslim baru diberikan ketika proses penyempurnaan hukum-hukum syariat telah mencapai puncak kesempurnaannya dalam wujud agama Islam (Al-Quran – QS.5:4), diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad saw. – yang merupakan nabi pembawa syariat terakhir dan tersempurna -- sehingga beliau saw. diberi gelar “Khātaman-Nabiyyīn (QS.33:41), dan umat yang mengamalkan sepenuhnya ajaran Islam (Al-Quran) sebagaimana yang beliau saw. contohkan (QS.3:32; QS.33:22) disebut Muslim (umat Islam), sekaligus sebagai “umat terbaik” yang dibangkitkan untuk kepentingan seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111).

Pembangkangan Terhadap Janji Kemusliman

Namun dalam kenyataannya keturunan Nabi Ya’qub a.s. atau Bani Israil tersebut mengingkari pernyataan Kemusliman mereka sebagaimana firman-Nya:

وَ قَالُوۡا کُوۡنُوۡا ہُوۡدًا اَوۡ نَصٰرٰی تَہۡتَدُوۡا ؕ قُلۡ بَلۡ مِلَّۃَ اِبۡرٰہٖمَ حَنِیۡفًا ؕ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿۱۳۶ قُوۡلُوۡۤا اٰمَنَّا بِاللّٰہِ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡنَا وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلٰۤی اِبۡرٰہٖمَ وَ اِسۡمٰعِیۡلَ وَ اِسۡحٰقَ وَ یَعۡقُوۡبَ وَ الۡاَسۡبَاطِ وَ مَاۤ اُوۡتِیَ مُوۡسٰی وَ عِیۡسٰی وَ مَاۤ اُوۡتِیَ النَّبِیُّوۡنَ مِنۡ رَّبِّہِمۡ ۚ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡہُمۡ ۫ۖ وَ نَحۡنُ لَہٗ مُسۡلِمُوۡنَ ﴿۱۳۷

Dan mereka berkata: “Jadilah kamu Yahudi atau Nasrani kamu akan mendapat petunjuk.” Katakanlah: “Tidak, bahkan [turutilah] millat (agama) Ibrahim yang hatinya senantiasa condong [kepada Allah] dan ia sekali-kali tidak termasuk orang-orang musyrik”. Katakanlah oleh kamu: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan keturunannya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, dan kepada apa yang diberikan kepada seluruh nabi dari Tuhan mereka, kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan hanya kepada-Nya kami berserah diri”. Maka jika mereka beriman sebagaimana kamu beriman terhadapnya niscaya mereka mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling maka sesungguhnya mereka telah menimbulkan perpecahan, maka pasti Allah akan memadai bagi engkau menghadapi mereka, dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Al-Baqarah [2]:136-137).

Dalam Surah lainnya Allah berfirman lagi mengenai pembangkangan mereka terhadap Tauhid Ilahi dan Kemusliman yang mereka ikrarkan:

وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿۳۰ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿۳۱ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿۳۲ ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿۳۳

Dan orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu anak Allah”; dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih itu anak Allah.” Demikian itulah perkataan mereka dengan mulut mereka. Mereka hanya meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah membinasakan mereka. Betapa jauh mereka berpaling. Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan [juga] Al-Masih Ibnu Maryam, padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya mereka menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Dia, Maha Suci Dia dari apa yang mereka sekutukan. Mereka berkehendak memadamkan Nur Ilahi dengan mulut mereka tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan Nur-Nya walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. Dialah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar) supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama walau pun orang-orang musyrik tidak menyukai. (Al-Taubah [9): 30-33).

Demikianlah gambaran sekilas proses terjadinya perpecahan umat di kalangan umat manusia -- khususnya di kalangan umat beragama -- sehingga ajaran Tauhid Ilahi secara bertahap berubah menjadi ajaran Kemusyrikan, serta kesatuan dan persatuan umat berubah menjadi perpecahan umat, yang bahkan menimbulkan pertumpahan darah, sehingga jiwa “persaudaraan” dan “kasih-sayang” pun menjadi hilang sirna dan berganti menjadi semangat kebencian antar umat dan golongan, padahal Allah Swt. sejak awal pun telah meminta kesaksian setiap ruh (jiwa) manusia mengenai Tauhid Ilahi, dan berikut adalah firman Allah Swt. mengenai perjanjian Allah Swt. dengan setiap jiwa (ruh) manusia:

وَ اِذۡ اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿۱۶۳﴾ۙ اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿۱۶۴ وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿۱۶۵

Dan [ingatlah] ketika Tuhan engkau mengambil (menjadikan) keturunan Bani Adam dari tulang sulbi mereka dan menjadikan mereka saksi atas diri mereka sendiri [seraya berfirman]: “Bukankah Aku Tuhan kamu?” Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi”. Supaya pada Hari Kiamat kamu tidak berkata: “Sesungguhnya kami lengah (lalai) dari hal ini.” Atau kamu berkata: “Sesungguhnya bapak-bapak (leluhur) kami dahulu yang berbuat syirik sedangkan kami [hanyalah sekedar] keturunan sesudah mereka. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang diperbuat oleh orang-orang yang berbuat kebatilan [dahulu]?” Dan demikianlah Kami menjelaskan Tanda-tanda itu dan supaya mereka kembali [kepada yang haq] (Al-‘Araf [7]:173-175).

Pentingnya Berpegangteguh pada “Tali Allah” & Persaudaraan Muslim” yang Hakiki

Pendek kata, Tauhid Ilahi erat hubungannya dengan kesatuan dan persatuan umat sedangkan kemusyrikan erat hubungannya perpecahan umat, atas dasar itu Allah Swt. dalam Al-Quran telah memperingatkan umat Islam untuk tetap berpegang teguh pada “tali Allah” agar tidak berpecah-belah, yakni kembali terjerumus ke dalam suatu bentuk kemusyrikan yang baru -- yaitu mempertuhan para pemimpin firqah mereka secara membabi-buta – sebagaimana telah disinyalir oleh Nabi Besar Muhammad saw. pada awal makalah ini -- firman-Nya:

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿۱۰۳ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ لَعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ ﴿۱۰۴ وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿۱۰۵ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿۱۰۶﴾ۙ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan ketakwaan yang sebenarnya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri (muslimūn). Dan berpegangteguhlah kamu sekalian pada tali Allah serta jangan bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan lalu Dia menyatukan hatimu dengan kecintaan antara satu sama lain, sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara; dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api kemudian Dia menyelamatkanmu darinya. Demikianlah Allah menjelaskan Tanda-tanda-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan yang mengajak [manusia] kepada kebaikan dan menyuruh kepada kebaikan serta melarang terhadap kemurkaran, dan mereka itulah orang-orang yang berhasil. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih sesudah Tanda-tanda yang nyata datang kepada mereka, dan mereka itulah yang bagi mereka azab yang besar (Ali ‘Imran [3]:103-106).

Habl berarti: seutas tali atau pengikat yang dengan itu sebuah benda diikat atau dikencangkan; suatu ikatan, suatu perjanjian atau permufakatan; suatu kewajiban yang karenanya kita bertanggungjawab untuk keselamatan seseorang atau suatu barang; persekutuan dan perlindungan (Lexicon Lane) Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkana telah bersabda: “Kitab Allah itu tali Allah yang telah diulurkan dari langit ke bumi” (Tafsir Ibnu Jarir IV, 30).

Menurut Allah Swt. upaya mempersatukan “hati manusia” dalam suatu “persaudaraan yang hakiki” bukanlah wewenang dan upaya manusia melainkan sepenuhnya wewenang Allah Swt., yaitu dengan cara mengulurkan “Tali Allah” dari langit berupa pengutusan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada umat manusia (QS.7:35-37).

Berikut adalah firman Allah Swt. mengenai “persaudaraan Muslim” yang terbentuk di kalangan bangsa Arab yang keadaannya terpecah-belah bagaikan tulang-belulang berserakan menjadi bagaikan suatu “tubuh yang utuh dan hidup” melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:

وَ اَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ ؕ لَوۡ اَنۡفَقۡتَ مَا فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا مَّاۤ اَلَّفۡتَ بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ اَلَّفَ بَیۡنَہُمۡ ؕ اِنَّہٗ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿۶۴

Dan Dia telah menanamkan kecintaan di antara hati mereka. Seandainya engkau membelanjakan apa pun yang ada di bumi ini seluruhnya, engkau tidak akan dapat menanamkan kecintaan di antara hati mereka, tetapi Allah telah menanamkan kecintaan di antara mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana (Al-Anfal [8]:64).

“Makhluk Baru” & “Rasul Akhir Zaman”

Kenyataan tersebut telah menjawab ketidakpercayaan bangsa Arab jahiliyah terhadap misi kerasulan Nabi Besar Muhammad saw. mengenai adanya kehidupan akhirat, dimana manusia akan dibangkitkan lagi oleh Allah Swt. berupa “makhluk yang baru” (khalqan jadīd). Kenyataan membuktikan bahwa berkat beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. maka keadaan mereka yang sebelumnya -- dalam segala bidang kehidupan – bagaikan tulang-belulang berserakan tiba-tiba mereka secara ruhani berubah menjadi “makhluk baru yakni sebagai umat terbaik” yang dibangkitkan untuk kebaikan seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111), firman-Nya:

وَ قَالُوۡۤاءَ اِذَا کُنَّا عِظَامًا وَّ رُفَاتًاءَ اِنَّا لَمَبۡعُوۡثُوۡنَ خَلۡقًا جَدِیۡدًا ﴿۵۰ قُلۡ کُوۡنُوۡا حِجَارَۃً اَوۡ حَدِیۡدًا ﴿ۙ۵۱ اَوۡ خَلۡقًا مِّمَّا یَکۡبُرُ فِیۡ صُدُوۡرِکُمۡ ۚ فَسَیَقُوۡلُوۡنَ مَنۡ یُّعِیۡدُنَا ؕ قُلِ الَّذِیۡ فَطَرَکُمۡ اَوَّلَ مَرَّۃٍ ۚ فَسَیُنۡغِضُوۡنَ اِلَیۡکَ رُءُوۡسَہُمۡ وَ یَقُوۡلُوۡنَ مَتٰی ہُوَ ؕ قُلۡ عَسٰۤی اَنۡ یَّکُوۡنَ قَرِیۡبًا ﴿۵۲ یَوۡمَ یَدۡعُوۡکُمۡ فَتَسۡتَجِیۡبُوۡنَ بِحَمۡدِہٖ وَ تَظُنُّوۡنَ اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ اِلَّا قَلِیۡلًا ﴿۵۳

Dan mereka berkata: “Apakah apabila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda yang hancur, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan [lagi] sebagai makhluk yang baru?” Katakanlah: “Jadikah kamu batu atau besi; atau pun [menjadi] makhluk yang nampaknya terkeras dalam hati kamu.” Maka segera mereka akan berkata: “Siapakah yang akan mengembalikan kami [hidup kembali]?” Katakanlah: “Dia-lah Yang menciptakan kamu pertama kali.” Mereka masih juga akan menggelengkan kepalanya terhadap engkau dan berkata: “Kapankah itu [terjadi]?” Katakanlah: “Boleh jadi itu [sudah] dekat, [yaitu] pada hari ketika Dia akan memanggil kamu lalu kamu akan menyambut dengan memuji-Nya dan kamu beranggapan bahwa kamu tinggal [di dunia] hanya sebentar.” (Bani Israil [17]:50-53).

Jika dalam kenyataannya Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda bahwa umat Islam di masa kemudian -- setelah masa beliau saw. dan masa para sahabah beliau saw. yang penuh berkat serta terjalin dalam suatu “persatuan dan kesatuan umat” serta “persaudaraan Muslim” yang hakiki – akan terpecah-belah menjadi 73 firqah, maka berarti keadaan umat Islam di Akhir Zaman ini telah kembali menjadi bagaikan “tulang-belulang berserakan”.

Akibatnya, sekali pun jumlah mereka itu sangat banyak akan tetapi di Akhir Zaman ini mereka tidak mampu sekedar menghadapi “negara sementara Israel” sekali pun, padahal di masa awal ketika jumlah umat Islam masih sedikit dan keadaan persenjataannya pun sangat lemah, tetapi mereka mampu mengalahkan musuh-musuh mereka yang bukan saja jumlahnya jauh lebih besar tetapi juga kesiapan persenjataannnya jauh lebih lengkap, contohnya dalam perang Badar, sehingga firman Allah Swt. berikut ini tentang kemenangan Thalut (Gideon) dan para pengikutnya yang hanya sebanyak 313 orang, berlaku pula pada waktu perang Badar.

قَالَ الَّذِیۡنَ یَظُنُّوۡنَ اَنَّہُمۡ مُّلٰقُوا اللّٰہِ ۙ کَمۡ مِّنۡ فِئَۃٍ قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً کَثِیۡرَۃًۢ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿۲۵۰

“Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: “Banyak golongan yang sedikit bisa mengalahkan golongan besar dengan izin Allah.” Dan Allah beserta orang-orang yang sabar (Al-Baqarah [2]:250).

Dua Kali Kebangkitan dan Dua Kali Kehancuran

Dengan demikian jelaslah bahwa sebagaimana halnya keunggulan umat Islam di masa awal dimulai dengan terciptanya “persaudaraan ruhani” yang hakiki melalui pengutusan Rasul Allah – yakni Nabi Besar Muhammad saw. maka demikian pula di Akhir Zaman pun untuk mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali telah ditakdirkan oleh Allah Swt. dimulai dengan terciptanya “persaudaraan ruhani” yang hakiki melalui pengutusan “Rasul Akhir Zaman” yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama dengan nama (sebutan/gelar) yang berlainan, firman-Nya:

ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿۱۰

Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar) untuk mengunggulkannya atas semua agama walau pun orang-orang musyrik tidak menyukai” (Al-Shaf [61]:10).

Firman-Nya lagi:

ہُوَ الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿۳ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿۴ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿۵

Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan [bangsa] yang buta-huruf seorang Rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, walau pun sebelumnya mereka dalam kesesatan yang nyata. Dan [Dia akan membangkitkannya lagi] pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka, dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memiliki karunia yang besar (Al-Jumu’ah [63]:3-5).

Dengan demikian benarlah wasiyat Allah Swt. kepada bani Adam (keturunan) mengenai kesinambungan pengutusan para Rasul Allah dari kalangan mereka sendiri (QS.7:35-37) yaitu dalam rangka menegakkan Tauhid Ilahi dan “persaudaraan ruhani” yang hakiki atau “kesatuan dan persatuan umat” (QS.3:103-105), sehingga akan terciptalah “bumi baru dan langit baru” (QS.14: 49-53), dan kehidupan surgawi bukan hanya akan dirasakan oleh orang-orang yang bertakwa di alam akhirat nanti tetapi juga di dalam kehidupan mereka di dunia ini (QS.55:47), firman-Nya:

وَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ فَصَعِقَ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَنۡ فِی الۡاَرۡضِ اِلَّا مَنۡ شَآءَ اللّٰہُ ؕ ثُمَّ نُفِخَ فِیۡہِ اُخۡرٰی فَاِذَا ہُمۡ قِیَامٌ یَّنۡظُرُوۡنَ ﴿۶۹ وَ اَشۡرَقَتِ الۡاَرۡضُ بِنُوۡرِ رَبِّہَا وَ وُضِعَ الۡکِتٰبُ وَ جِایۡٓءَ بِالنَّبِیّٖنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ قُضِیَ بَیۡنَہُمۡ بِالۡحَقِّ وَ ہُمۡ لَا یُظۡلَمُوۡنَ ﴿۷۰ وَ وُفِّیَتۡ کُلُّ نَفۡسٍ مَّا عَمِلَتۡ وَ ہُوَ اَعۡلَمُ بِمَا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿۷۱

Dan nafiri akan ditiup lalu akan pingsan semua yang ada di seluruh langit dan semua yang ada di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian [nafiri itu] akan ditiup kedua kalinya maka tiba-tiba mereka berdiri menantikan [keputusan]. Dan bumi akan bersinar dengan Cahaya Tuhan-nya dan Kitab itu akan diletakkan [terbuka di hadapan mereka], dan akan di datangkan nabi-nabi dan saksi-saksi serta diputuskan [perkara] di antara mereka dengan adil dan mereka tidak akan dianiaya. Dan setiap jiwa akan diberikan sempurna [ganjaran atas] apa yang ia kerjakan, dan Dia mengetahui apa yang mereka kerjakan (Al-Zumar [39]:69-71).

Ayat-ayat ini bukan saja merujuk kepada kebangkitan kembali di alam akhirat, tetapi mengisyaratkan pula kepada keadaan ruhani orang-orang sebelum kedatangan seorang guru suci – yakni Rasul Allah – ke dunia, yang kedatangannya diumpamakan tiupan nafiri (terompet). Dengan demikian yang dimaksud dengan kalimat “akan pingsan” dapat berarti kemalasan atau kebekuan akhlak dan ruhani orang-orang pada saat sebelum kedatangan seorang Pembaharu Suci (rasul Allah) datang ke dunia, sedangkan kalimat “tiba-tiba mereka berdiri menantikan [keputusan]” dapat berarti keadaan mereka setelah melihat dan mengikuti jalan lurus sesudah sang Pembaharu yang mulia itu menampakkan diri.

Hakikat Kedatangan para Nabi dan para Saksi

Apabila dikenakan kepada kehidupan akhirat maka kalimat “dan bumi akan bersinar dengan cahaya Tuhan-nya” akan berarti bahwa tirai yang menyelubungi rahasia-rahasia kehidupan ini akan diangkat (disibakkan), dan akibat-akibat perbuatan-perbuatan baik mau pun buruk yang telah dilakukan dalam kehidupan ini – dan yang tetap tersembunyi di sini – akan menjadi tampak dengan nyata.

Tetapi dengan mengisyaratkan kepada kedatangan seorang Guru Suci ke dunia, khususnya kepada kedatangan Nabi Besar Muhammad saw., maka kalimat tersebut dapat berarti bahwa dengan kedatangan beliau saw. seluruh dunia akan bersinar dengan cahaya Ilahi dan kegelapan ruhani akan lenyap sirna. Ada pun kalimat “akan didatangkan nabi-nabi dan saksi-saksi dapat berarti kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. yang dalam pribadi beliau saw. menampilkan semua nabi dan guru-guru suci (QS.77:12); sedangkan “saksi-saksi” menunjuk kepada para sahabat beliau saw. yang sejati serta menikmati hak istimewa yang dibanggakan karena ditunjuk sebagai saksi-saksi atau penjaga-penjaga atas semua orang (QS.2:144).

Pendek kata, sebagaimana halnya agama Islam (Al-Quran) merupakan himpunan semua ajaran yang abdi dari semua agama yang telah diturunkan sebelumnya dari Allah Swt. (QS.2:107-108), demikian pula halnya pribadi Nabi Besar Muhammad saw. merupakan himpunan seluruh sifat-sifat terbaik dari para rasul Allah (QS.77:12) yang telah diutus sebelum beliau saw. (QS.33:22), karena itu kecuali mentaati sepenuhnya ajaran Islam dan sunnah Nabi Besar Muhammad saw. maka tidak akan ada seorang pun akan meraih kedekatan dan kecintaan Allah Swt., dan agama yang dianutnya tidak akan diterima di sisi Allah (QS.3:20, 86), firman-Nya:

قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿۳۲ قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿۳۳

Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, Allah pun akan mencintaimu dan akan mengampuni dosa-dosamu, dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”. Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul ini”, lalu jika mereka berpaling maka sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir (Ali ‘Imran [3]:32-33).

Berikut adalah buah kecintaan dan ketaatan kepada Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw. , sebagaimana doa yang dipanjatkan dalam Surah Al-Fatihah ayat 6-7:

وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ۷۰ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿ ۶۹

Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara orang-orang yang kepada mereka Allah memberikan nikmat yaitu: “Nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sahabat yang sejati. Itu adalah karunia dari Allah dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui (Al-Nisā [4]:70-71).

Dalam rangka memperoleh 4 macam nikmat keruhanian -- nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, saksi-saksi (syuhada), kesalehan -- inilah makna keterakhiran Islam dan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai agama dan nabi (rasul) pembawa syariat paling sempurna, tetapi bukan berarti bahwa seluruh jenis kenabian (kerasulan) telah berakhir (tertutup), sebab sebagaimana halnya dalam silsilah kenabian di lingkungan Bani Israil dimulai dengan Nabi Musa a.s. dan di akhiri dengan Nabi Isa ibnu Maryam a.s., tentu sebagai konsekuensi adanya persamaan seperti persamaan sepasang sepatu antara Bani Israil dengan Bani Isma’il maka di kalangan umat Islam pun selain Nabi Besar Muhammad saw. – sebagai nabi yang seperti Nabi Musa a.s. (QS.46:11) – tentu harus muncul nabi yang seperti Isa Ibnu Maryam a.s. atau misal Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58).

Hakikat 4 Ekor “Burung” Nabi Ibrahim a.s.

Jadi, dengan demikian bukan saja persamaan antara Bani Israil dan Nabi Isma’il menjadi genap, tetapi 4 ekor “burung” yang telah diletakkan oleh Nabi Ibrahim a.s. atas perintah Allah Swt. pada 4 puncak gunung pun menjadi genap pula (QS.2:261), yakni 2 ekor burung dari kalangan Bani Israil (Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s.) dan 2 ekor burung dari kalangan Bani Isama’il (Nabi yang seperti Musa a.s. dan Nabi yang seperti Isa ibnu Maryam a.s.), terjadinya 4 kali kebangkitan ruhani di kalangan 2 keturunan Ibrahim a.s. itulah yang dimaksud oleh beliau a.s. ingin menyaksikan “cara menghidupkan yang mati” , firman-Nya:

وَ اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ رَبِّ اَرِنِیۡ کَیۡفَ تُحۡیِ الۡمَوۡتٰی ؕ قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ ؕ قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ ؕ قَالَ فَخُذۡ اَرۡبَعَۃً مِّنَ الطَّیۡرِ فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا ؕ وَ اعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿۲۶۱

Dan [ingatlah] ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhan-ku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan yang mati.” Dia berfirman: “Apakah engkau tidak percaya?” Ia berkata: “Ya [aku percaya], tetapi [kutanyakan hal ini] supaya hatiku tentram.” Dia berfirman: “Maka ambillah empat ekor burung dan jinakkanlah mereka kepada engkau, kemudian letakkanlah setiap burung itu di atas tiap-tiap gunung, kemudian panggillah mereka niscaya mereka akan datang kepada engkau dengan cepat. Dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:261).

Janji Allah Swt. mengenai 4 kali kebangkitan ruhani di kalangan 2 silsilah keturunan Nabi Ibrahim a.s. tersebut (Bani Israil dan Bani Isma’il) erat kaitannya dengan dijadikannya beliau a.s. sebagai imam bagi umat manusia dan jawaban Allah Swt. ketika Nabi Ibrahim a.s. memohon agar kedudukan sebagai imam bagi manusia tersebut berlaku pula semua keturunan beliau a.s., tetapi Allah Swt. menjawab: “Janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim” , firman-Nya:

وَ اِذِ ابۡتَلٰۤی اِبۡرٰہٖمَ رَبُّہٗ بِکَلِمٰتٍ فَاَتَمَّہُنَّ ؕ قَالَ اِنِّیۡ جَاعِلُکَ لِلنَّاسِ اِمَامًا ؕ قَالَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِیۡ ؕ قَالَ لَا یَنَالُ عَہۡدِی الظّٰلِمِیۡنَ ﴿۱۲۵

Dan [ingatlah] ketika Ibrahim diuji oleh Tuhan-nya dengan beberapa perintah lalu dipenuhinya. Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau imam bagi manusia.” Ia berkata: “Dan [juga] dari antara keturunanku.” Dia berfirman: “Janji-Ku tidak mencapai orang-orang zalim.” (Al-Baqarah [2]:125).

Itulah sebabnya ketika Bani Israil sebagai “kaum terpilih” kemudian berkali-kali melakukan kedurhakaan terhadap Allah Swt. dan para Rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka (QS.2:88-97), lalu Allah Swt. memindahkan nikmat kenabian dari Bani Israil kepada Bani Ismail, yakni dengan membangkitkan Nabi Besar Muhammad saw. di kalangan Bani Isma’il QS.2:128-130; QS.62:3-5).

Oleh karena itu apabila umat Islam mempercayai bahwa Rasul Allah yang akan mewujudkan kebangkitan umat Islam kedua kali di Akhir Zaman adalah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israili maka akan bertentangan beberapa kenyataan berikut ini:

(1) Ketentuan Allah Swt. yang sangat mendasar tentang pengutusan Rasul Allah, adalah bahwa rasul yang diutus kepada suatu kaum senantiasa minhum” (dari kalangan mereka – QS.2:230; QS.23:33; QS.62:3) atau “minkum “ (di kalangan kamu – QS.2:152-153; QS.7:35-37), karena itu tentu Rasul Akhir Zaman pun harus berasal dari Bani Isma’il atau umat Islam.

(2) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. adalah rasul Allah hanya untuk Bani Israil (QS.3:46-50; QS.43:60; QS.61:7).

(3) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah wafat (QS.2:56; QS.5:117-119; QS.21:35-36).

Jika benar bahwa Nabi Isa ibnu Maryam a.s. yang akan datang untuk mengunggulkan umat Islam atas semua agama (QS.61:10) berasal dari kalangan Bani Israil maka berarti:

(1) Pemindahan kenabian dari Bani Israil kepada Bani Isma’il olah Allah Swt. merupakan perbuatan yang sia-sia saja, na’ūdzubillāhi min dzālik.

(2) Berarti Bani Israil lebih mulia daripada Bani Ismail.

(3) Berarti tuduhan orang-orang kafir Quraisy bahwa Nabi Besar Muhammad saw. seorang abtar (yang terputus keturunannya – QS.108:1-4) adalah benar, na’ūdzubillāhi min dzālik.

(4) Jumlah “burung” Nabi Ibrahim a.s. bukan 4 ekor (QS.2:261) melainkan 3 ekor karena Nabi Isa ibnu Maryam Israili dipercayai datang dua kali, padahal menurut Allah Swt. yang dimaksud dengan kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. kedua kali maksudnya adalah kedatangan misal beliau (QS.43:58) di kalangan Bani Isma’il (umat Islam), sebagaimana halnya Nabi Besar Muhammad saw. adalah misal Nabi Musa a.s. (QS.46:11; QS.11:18).

Kesimpulan

Demikianlah gambaran ringkas mengenai penyebab terjadinya perpecahan di lingkungan umat manusia dan juga perpecahan di lingkungan umat beragama, sehingga akibatnya di dunia ini banyak beragam pemeluk bermacam-macam agama serta berbagai sekte agama, padahal apabila mereka berpegang teguh pada wasiyat Allah Swt. mengenai kesinambungan kedatangan para rasul Allah (QS.7:35-37) serta proses penyempurnaan hukum-hukum agama hingga mencapai puncak kesempurnaannya dalam wujud agama Islam (Al-Quran – QS.5:4), seharus sejak Nabi Besar Muhammad saw. diutus sebagai Rasul Allah untuk seluruh umat manusia (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29) di dunia ini hanya ada satu-satunya agama dan umat beragama, yaitu agama Islam dan umat Islam, firman-Nya:

فَکَیۡفَ اِذَا جِئۡنَا مِنۡ کُلِّ اُمَّۃٍۭ بِشَہِیۡدٍ وَّ جئۡنَا بِکَ عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ شَہِیۡدًا ﴿ؕ۴۲

Maka bagaimanakah [keadaan mereka] ketika Kami akan mendatangkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi (rasul) terhadap mereka ini. Pada hari itu orang-orang kafir dan mendurhakai rasul akan menghendaki supaya mereka disamaratakan dengan bumi, dan mereka tidak akan [dapat] menyembunyikan sesuatu dari Allah. (Al- Nisā [4]:42-43).

Firman-Nya lagi:

وَ یَوۡمَ نَبۡعَثُ فِیۡ کُلِّ اُمَّۃٍ شَہِیۡدًا عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ جِئۡنَا بِکَ شَہِیۡدًا عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ نَزَّلۡنَا عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ تِبۡیَانًا لِّکُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُدًی وَّ رَحۡمَۃً وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿۹۰

Dan [ingatlah] hari itu [ketika] kami akan membangkitkan dalam setiap umat seorang saksi (rasul) terhadap mereka dari antara mereka sendiri, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka semuanya. Dan telah Kami turunkan kepada engkau kitab [Al-Quran] itu untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri [kepada Allah] (Al-Nahl [16]:90).

Selanjutnya Dia berfirman:

وَ لَوۡ شَآءَ رَبُّکَ لَجَعَلَ النَّاسَ اُمَّۃً وَّاحِدَۃً وَّ لَا یَزَالُوۡنَ مُخۡتَلِفِیۡنَ ﴿۱۱۸﴾ۙ اِلَّا مَنۡ رَّحِمَ رَبُّکَ ؕ وَ لِذٰلِکَ خَلَقَہُمۡ ؕ وَ تَمَّتۡ کَلِمَۃُ رَبِّکَ لَاَمۡلَـَٔنَّ جَہَنَّمَ مِنَ الۡجِنَّۃِ وَ النَّاسِ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿۱۱۹

Dan seandainya Tuhan engkau menghendaki niscaya Dia telah menjadikan semua manusia satu umat, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat; kecuali orang yang Tuhan engkau melimpahkan rahmat-Nya, dan untuk itulah Dia menciptakan mereka. Tetapi perkataan Tuhan engkau akan menjadi sempurna: “Niscaya Aku akan penuhi neraka jahannam dengan jin dan manusia [yang durhaka] semuanya (Hūd [11]:119-120).


(Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar