بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
BAB III
CARA ALLAH SWT. MELAKUKAN PENGHAKIMAN
KETIKA UMAT BERAGAMA BERPECAH-BELAH
مَا کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ ﴿۱۷۰﴾
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang beriman di dalam keadaan kamu di dalamnya, sehingga Dia memisahkan yang buruk daripada yang baik. Dan Allah tidak memberitahukan yang gaib kepada kamu tetapi Allah memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan kepada rasul-rasul-Nya, dan jika kamu beriman serta bertakwa maka bagimu ganjaran yang besar (Āli ‘Imran [3]: 180).
Allah Swt. telah berfirman bahwa setiap umat telah ditetapkan ajalnya (batas waktunya), dan ajal suatu umat ditandai dengan pengutusan rasul Allah yang kedatangannya telah dijanjikan sebelumnya kepada Bani Adam (QS.7:35-37), firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ اَجَلُہُمۡ لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿۳۵﴾ یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿۳۶﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿۳۷﴾
Dan bagi tiap-tiap umat ada ajal (batas waktu), maka apabila datang batas waktu mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya. Hai Bani Adam, jika datang kepada kamu rasul-rasul dari antara kamu yang menceritakan Ayat-ayat-Ku kepadamu maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih. Tetapi orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan sombong berpaling darinya mereka itu penghuni api, mereka akan kekal di dalamnya (Al-Baqarah [2]:25-27). Lihat pula QS.10:48-50; QS.16:37; QS.35:25.
Namun merupakan Sunnatullah bahwa ketika rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan tersebut datang, ia selalu didustakan dan ditentang keras oleh kaum yang ajalnya telah tiba tersebut -- seperti halnya penolakan Iblis “bersujud” kepada Adam ketika diperintahkan Allah Swt. -- maka akibatnya di dunia terjadi berbagai agama yang berbeda-beda, padahal agama-agama tersebut pada awalnya berasal dari satu sumber yakni Allah Swt..
Dengan demikian jelaslah bahwa pada hakikatnya kedatangan rasul-rasul Allah dari kalangan Bani Adam secara berkesinambungan tersebut, selain bertujuan menyempurnakan hukum-hukum syariat (QS.2:107-108) juga merupakan cara Allah Swt. melakukan penghakiman atas umat beragama yang telah berpecah-belah menjadi firqah-firqah yang saling bertentangan, sebelum azab ditimpakan kepada mereka (QS.17:16; QS.20:135-136), firman-Nya:
مَا کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ ﴿۱۷۰﴾
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang beriman di dalam keadaan kamu di dalamnya, sehingga Dia memisahkan yang buruk daripada yang baik. Dan Allah tidak memberitahukan yang gaib kepada kamu tetapi Allah memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan kepada rasul-rasul-Nya, dan jika kamu beriman serta bertakwa maka bagimu ganjaran yang besar (Āli ‘Imran [3]: 180).
Firman-Nya lagi:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ۲۷﴾ اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ۲۸﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿۲۹ ﴾
Dia-lah [Allah] Yang mengetahui yang gaib maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan [malaikat] pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya Dia mengetahui bahwa sungguh mereka (rasul-rasul) telah menyampaikan Amanat-amanat Tuhan mereka, dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan tentang segala sesuatu (Al-Jin [72]:27-29).
Karena masalah keimanan termasuk hal yang bersifat gaib, oleh sebab itu manusia – termasuk para pemuka agama – tidak memiliki kewenangan sedikit pun untuk menyatakan “sesat atau tidak sesat” atau pun menyatakan “kafir atau tidak kafir” kepada pihak-pihak lain yang bertentangan dengan pemahaman mereka mengenai masalah keagamaan (keimanan), karena yang memiliki wewenang untuk melakukan “penghakiman” ketika keadaan umat beragama telah terpecah-belah menjadi berbagai golongan dan sekte yang saling mengkafirkan hanyalah Allah Swt..
Sunnatullah yang telah ditetapkan-Nya adalah dengan cara mengutus seorang “Khalifah Allah” atau “rasul Allah” yang kedatangannya telah dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37). Mereka yang beriman kepada khalifah Allah atau rasul Allah itulah yang keimanannya benar – walau pun mereka itu merupakan golongan minoritas – sedangkan mereka yang mendustakan dan menentang keras “khalifah Allah” atau rasul Allah itulah para pembuat kerusakan di muka bumi dan penumpah darah (QS.3:31; QS.7:57 & 86-93), yang keimanannya tidak benar, walau pun mereka itu golongan mayoritas, firman-Nya:
وَ اِنۡ تُطِعۡ اَکۡثَرَ مَنۡ فِی الۡاَرۡضِ یُضِلُّوۡکَ عَنۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ اِنۡ یَّتَّبِعُوۡنَ اِلَّا الظَّنَّ وَ اِنۡ ہُمۡ اِلَّا یَخۡرُصُوۡنَ ﴿۱۱۷﴾ اِنَّ رَبَّکَ ہُوَ اَعۡلَمُ مَنۡ یَّضِلُّ عَنۡ سَبِیۡلِہٖ ۚ وَ ہُوَ اَعۡلَمُ بِالۡمُہۡتَدِیۡنَ ﴿۱۱۸﴾
Dan jika engkau mengikuti kebanyakan orang di bumi mereka akan menyesatkan engkau dari jalan Allah, tidak lain yang mereka ikuti melainkan dugaan dan mereka tidak lain kecuali berdusta. Sesungguhnya Tuhan engkau Dia-lah Yang Maha Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (Al-An’ām [6]:117-118).
Ajaran Pokok Setiap Agama adalah Tauhid Ilahi & Kesempurnaan dan Keabadian Kitab Suci Al-Quran
Walau pun dari zaman ke zaman pengutusan para rasul Allah serta penyempurnaan hukum-hukum syariat terus berlanjut sampai dengan diturunkannya agama dan kitab suci terakhir yakni agama Islam (Al-Quran), tetapi ajaran pokok yang diajarkan oleh para rasul Allah serta Kitab-kitab suci sebelum agama Islam (Al-Quran) – yakni Tauhid Ilahi dan berserah diri kepada Allah Swt. dan pelakunya disebut muslim -- tetap diabadikan di dalam Al-Quran, firman-Nya:
فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ حَنِیۡفًا ؕ فِطۡرَتَ اللّٰہِ الَّتِیۡ فَطَرَ النَّاسَ عَلَیۡہَا ؕ لَا تَبۡدِیۡلَ لِخَلۡقِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ الدِّیۡنُ الۡقَیِّمُ ٭ۙ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٭ۙ۳۱﴾ مُنِیۡبِیۡنَ اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿ۙ۳۲﴾ مِنَ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ وَ کَانُوۡا شِیَعًا ؕ کُلُّ حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ ﴿۳۳﴾
Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, [turutilah] fitrah Allah, yang atas [dasar] itu Dia menciptakan manusia. Tidak ada perubahan dalam penciptaan Allah, itulah agama yang benar tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Kembalilah kamu kepada-Nya, bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi golongan-golongan, tiap-tiap golongan gembira dengan apa yang ada pada mereka (Al-Rūm [30]:31-33).
Selaras dengan firman-Nya tersebut Nabi Besar Muhammad saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah menciptakan manusia menurut citra-Nya (H.R. Bukhari dan Ahmad). Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa Tauhid Ilahi erat sekali hubungannya dengan “kesatuan dan persatuan umat” atau persaudaraan umat sedangkan kemusyrikan erat hubungannya dengan perpecahan umat, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اِنَّ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ وَ کَانُوۡا شِیَعًا لَّسۡتَ مِنۡہُمۡ فِیۡ شَیۡءٍ ؕ اِنَّمَاۤ اَمۡرُہُمۡ اِلَی اللّٰہِ ثُمَّ یُنَبِّئُہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ﴿۱۵۹﴾
Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama dan mereka menjadi golongan-golongan, engkau tidak memiliki kepentingan apa pun dengan mereka, sesungguhnya urusan mereka terserah kepada Allah, kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan (Al-An’ām [6]:66).
Sebagaimana kesempurnaan tatanan alam semesta merupakan bukti mengenai Keesaan Tuhan Penciptanya yakni Allah Swt. (QS.13:3; QS.31:11; QS.67:2-5), demikian pula halnya kesempurnaan Kitab suci Al-Quran pun membuktikan hal sama, firman-Nya:
اَفَلَا یَتَدَبَّرُوۡنَ الۡقُرۡاٰنَ ؕ وَ لَوۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ غَیۡرِ اللّٰہِ لَوَجَدُوۡا فِیۡہِ اخۡتِلَافًا کَثِیۡرًا ﴿۸۲﴾
Maka tidakkah mereka merenungkan Al-Quran? Dan seandainya [Al-Quran] bukan dari sisi Allah niscaya mereka akan mendapati banyak pertentangan di dalamnya (Al-Nisā [4]:83).
Yang dimaksud pertentangan dapat mengacu kepada pertentangan-pertentangan dalam teks Al-Quran dan ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya; atau kepada tidak sesuaian antara nubuatan-nubuatan yang tersebut dalam Al-Quran dengan penggenapan nubuatan-nubuatan tersebut.
Untuk meyakinkan kesempurnaan Kitab suci Al-Quran tersebut, Allah Swt. dalam Al-Quran telah mengemukakan berbagai tantangan terhadap para pencela Al-Quran untuk membuat tandingan Al-Quran jika mereka mampu membuatnya (QS.2:24,QS.10:39; QS.11:14; QS.17:89), namun dengan tegas Allah Swt. menyatakan bahwa mereka tidak akan pernah mampu membuatnya (QS.2:24).
Sejak Awal Agama Tauhid adalah Islam
Allah Swt. telah menyatakan di dalam Al-Quran bahwa pada hakikatnya sejak awal pun agama-agama Tauhid yang dibawa oleh para Rasul Allah adalah “Islam”, hanya saja nama “Islam” belum diberikan kepada agama Tauhid tersebut, karena hingga saat pengutusan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pun keadaan hukum-hukum syariat belum mencapai puncak kesempurnaannya, baik dari segi kuantitas mau pun kulitasnya, firman-Nya:
شَہِدَ اللّٰہُ اَنَّہٗ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۙ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ وَ اُولُوا الۡعِلۡمِ قَآئِمًۢا بِالۡقِسۡطِ ؕ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿ؕ۱۹﴾ اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ ﴿۲۰﴾
Allah memberi kesaksian bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Dia dan [demikian juga] malaikat-malaikat serta orang-orang berilmu yang berpegang teguh pada keadilan [menyaksikan] tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama [yang benar] di sisi Allah adalah Islam dan tidak berselisih orang-orang yang diberi Kitab melainkan setelah datang kepada mereka ilmu karena kedengkian di antara mereka. Dan barangsiapa kafir kepada Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya Allah cepat dalam menghisab ( Āli ‘Imran [3]:19-20).
Satu kenyataan yang terdapat di alam semesta serta tidak dapat dibantah -- dan merupakan asas pokok setiap agama sejati -- adalah Keesaan Ilahi. Seluruh ciptaan Allah Swt. dengan segala tertibnya yang sempurna mengandung kesaksian yang tidak dapat ditolak mengenai kenyataan asasi ini.
Para malaikat yang adalah penyampai Amanat kebenaran kepada para nabi, dan rasul-rasul Allah yang menyebarkannya di dunia serta orang-orang saleh yang menerima dan meresapkan ke dalam diri mereka ilmu yang hakiki dari rasul-rasul Allah tersebut, semuanya membubuhkan kesaksian mereka kepada kesaksian Ilahi, demikian pula semuanya bersatu memberi kesaksian terhadap kepalsuan gagasan mempersekutukan Tuhan (kemusyrikan) dengan sejumlah banyak tuhan palsu.
Memang benar bahwa semua agama senantiasa mengajarkan Tauhid Ilahi dan kepatuhan sepenuhnya kepada kehendak Allah Swt. – yakni aslama -- namun hanya agama Islam sajalah paham kepatuhan kepada kehendak Ilahi mencapai kesempurnaannya, karena kepatuhan sepenuhnya kepada Allah Swt. meminta pengejewantahan penuh Sifat-sifat Ilahi, dan hanya pada agama Islam sajalah pengejewantahan demikian telah terjadi.
Jadi, dari semua tatanan keagamaan hanya agama Islam sajalah yang berhak disebut “agama Tuhan Pribadi” dalam arti kata yang sebenarnya. Semua agama yang benar – lebih kurang – dalam bentuknya yang asli adalah agama Islam sedangkan para pemeluk agama-agama tersebut adalah Muslim dalam arti kata secara harfiah, tetapi nama Al-Islam tidak diberikan kepada agama-agama tersebut sebelum tiba saatnya bila agama menjadi lengkap dalam segala ragam seginya, karena nama Islam tersebut dicadangkan untuk syariat terakhir dan mencapai kesempurnaanya dalam Al-Quran, firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu dan telah Ku-lengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan telah Ku-sukai bagi kamu Islam sebagai agama (Al-Mā’idah [5]:4).
Atas dasar kenyataan itu pulalah -- yakni ketika proses penyempurnaan hukum-hukum syariat telah menyampai puncak kesempurnaannya pada masa pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. dalam wujud Al-Quran atau agama Islam – maka jika manusia memilih untuk memeluk agama-agama yang diturunkan sebelum agama Islam (Al-Quran) maka agama-agama tersebut tidak akan diterima oleh Allah Swt., firman-Nya:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿۸۶﴾
Dan barangsiapa mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi (Āli ‘Imran [3]:86).
Pernyataan tersebut bukan pernyataan atas dasar kedengkian atau alasan-alasan lainnya yang tidak masuk akal, bahkan sangat logis. Secara logika hal tersebut dapat digambarkan sebagai berikut, yakni ketika seorang manusia sudah layak untuk memasuki jenjang pendidikan di Perguruan Tinggi (Universitas), apabila kemudian ia memilih untuk memasuki pendidikan di tingkat yang lebih rendah – misalnya SD, SLTP atau SLTA -- maka berbagai potensi intelektualnya tidak akan berkembang secara sempurna, seperti jika ia menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi (Universitas), terlebih lagi jika jenjang pendidikan yang ada dibawah Perguruan Tinggi (Universitas) tersebut keadaannya telah kacau balau, karena memang keberadaan jenjang-jenjang pendidikan tersebut hanya bersifat sementara.
Hakikat “Nur Muhammad” & Martabat-martabat Keruhanian
Dalam sebuah hadits Qudsi Allah Swt. berfirman: “Aku adakah khazanah tersembunyi, dan Aku ingin dikenal maka Aku menciptakan adam (nabi/manusia)” dalam sumber lain dikatakan “maka Aku ciptakan alam semesta”. Demikian juga dalam dunia tasauf dikenal konsep “Nur Muhammad”, yang menurut Syaikh Muhyiddin ibnu ‘Arabi merupakan cikal-bakal diciptakan-Nya alam semesta jasmani, terutama manusia.
Oleh karena itu ketika proses perkembangan ruh (jiwa) manusia telah mencapai kedewasaan pada masa diutusnya Nabi Besar Muhammad saw. dan diturunkan-Nya agama Islam (A-Quran) sebagai agama terakhir dan tersempurna (QS.5:4), lalu manusia memilih agama-agama selain agama Islam (Al-Quran) sebagai petunjuk dan jalan tempuhan kehidupannya, maka ruhnya ia tidak akan dapat “bersatu” dengan “Nur Muhammad” yakni fana fir-rasūl serta memperoleh kecintaan Allah Swt. yang hakiki atau meraih fana filLāh (larut di dalam Sifat-sifat Ilahi), firman-Nya:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿۳۲﴾ قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿۳۳﴾
Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, Allah pun akan mencintaimu dan akan mengampuni dosa-dosamu, dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”. Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul ini”, lalu jika mereka berpaling maka sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir (Āli ‘Imran [3]:32-33).
Berikut adalah firman Allah Swt. buah kecintaan dan ketaatan kepada Allah Swt. dan kepada Nabi Besar Muhammad saw. -- yang merupakan jawaban doa yang diajarkan Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah ayat 6-7 mengenai “jalan orang-orang yang mendapat nikmat dari Allah Swt.” -- firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ۷۰﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿۶۹﴾
Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini (Muhammad) maka mereka akan termasuk di antara orang-orang yang kepada mereka Allah memberikan nikmat yaitu: “Nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sahabat yang sejati. Itu adalah karunia dari Allah dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui (Al-Nisā [4]:70-71).
Martabat-martabat keruhanian tersebut -- terutama martabat kenabian -- hanya mungkin diraih oleh umat manusia hanya apabila manusia melaksanakan ajaran Islam secara kāfah (sepenuhnya – QS.2:209) yang disebut fana fillāh dan fana firrasūl, firman-Nya:
بَلٰی ٭ مَنۡ اَسۡلَمَ وَجۡہَہٗ لِلّٰہِ وَ ہُوَ مُحۡسِنٌ فَلَہٗۤ اَجۡرُہٗ عِنۡدَ رَبِّہٖ ۪ وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿۱۱۳﴾
Bahkan [yang benar ialah] barangsiapa berserah diri kepada Allāh dan ia berbuat ihsan maka baginya ada ganjaran di sisi Tuhan-nya, dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih (Al-Baqarah [2]:113).
Wajh berarti: wajah (muka); benda itu sendiri; tujuan dan motif; perbuatan atau tindakan yang kepadanya seseorang menujukan perhatian; jalan yang diinginkan, anugerah atau kebaikan (Aqrab al-Mawarid). Ayat ini memberi isyarat kepada ketiga taraf penting ketakwaan sempurna, yaitu: fana (menghilangkan diri), baqa (kelahiran kembali), dan liqa (memanunggal dengan Allāh Swt.).
Kata-kata “berserah diri kepada Allāh” (aslama/islam) berarti segala kekuatan dan anggota tubuh manusia, dan apa-apa yang menjadi bagian diri manusia hendaknya diserahkan kepada Allāh Swt. seutuhnya dan dibaktikan kepada-Nya. Keadaan itu dikenal sebagai fana atau kematian yang harus ditimpakan seorang Muslim atas dirinya sendiri, firman-Nya:
قُلۡ اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿۱۶۲﴾ قُلۡ اِنَّ صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿۱۶۳﴾ۙ لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿۱۶۴﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh Tuhan-ku kepada jalan lurus, agama yang teguh, agama Ibrahim yang lurus dan dia bukanlah dari orang-orang musyrik.” Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, kehidupan-ku, dan kematianku hanyalah untuk Allāh, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya, untuk itulah aku diperintahkan, dan akulah orang pertama yang berserah diri (muslimīn). (Al-An’ām [6]:162-164).
Anak-kalimat kedua “dan ia berbuat ihsan” menunjuk kepada keadaan baqa atau kelahiran kembali, sebab bila seseorang telah melenyapkan dirinya (fana) dalam cinta Ilahi dan segala tujuan serta keinginan duniawi telah lenyap, ia seolah-olah dianugerahi kehidupan baru yang dapat disebut baqa atau kelahiran kembali, maka ia hidup untuk Allāh Swt. dan bakti kepada umat manusia.
Nafs Muthmainnah (Jiwa yang Tentram)
Kata-kata penutup menjelaskan taraf kebaikan ketiga dan tertinggi — taraf liqa atau memanunggal (menyatu) dengan Allāh Swt. yang dalam Al-Quran (QS.89:28) disebut pula “jiwa yang tenteram” atau nafs muthma’innah, firman-Nya :
یٰۤاَیَّتُہَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ۲۷﴾ ارۡجِعِیۡۤ اِلٰی رَبِّکِ رَاضِیَۃً مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ۲۸﴾ فَادۡخُلِیۡ فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ۲۹﴾ وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿۳۰﴾
Hai jiwa yang tenteram, kembalilah kepada Tuhan engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau, maka masuklah dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr [89]:27-31).
Ini merupakan tingkat perkembangan ruhani tertinggi ketika manusia ridha kepada Tuhan-nya dan Tuhan pun ridha kepadanya (QS.58:23). Pada tingkat ini yang disebut pula tingkat surgawi, ia menjadi kebal terhadap segala macam kelemahan akhlak, diperkuat dengan kekuatan ruhani yang khusus. Ia “manunggal” (fana) dengan Allāh dan tidak dapat hidup tanpa Dia. Di dunia inilah dan bukan sesudah mati perubahan ruhani besar terjadi di dalam dirinya, dan di dunia inilah dan bukan di tempat lain jalan dibukakan baginya untuk masuk ke surga.
Itulah sebabnya Allah Swt. telah berfirman mengenai pentingnya ketaatan kepada Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32) sebab jika tidak maka manusia tidak akan pernah berjumpa dengan Tuhan yang hakiki – yakni Allah Swt. – baik di dunia ini mau pun di akhirat nanti, firman-Nya:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿۳۲﴾ قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿۳۳﴾
Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, Allah pun akan mencintaimu dan akan mengampuni dosa-dosamu, dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”. Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul ini”, lalu jika mereka berpaling maka sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir (Āli ‘Imran [3]:32-33).
Bahkan mereka akan melantur jauh dari jalan Allah Swt., firman-Nya:
وَ اَنَّ ہٰذَا صِرَاطِیۡ مُسۡتَقِیۡمًا فَاتَّبِعُوۡہُ ۚ وَ لَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِکُمۡ عَنۡ سَبِیۡلِہٖ ؕ ذٰلِکُمۡ وَصّٰکُمۡ بِہٖ لَعَلَّکُمۡ تَتَّقُوۡنَ ﴿۱۵۴﴾
Dan [katakanlah]: “Inilah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah [jalan] ini dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan [yang lain] karena akan menjauhkan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia telah memerintahkan kepada kamu mengenai hal itu supaya kamu bertakwa (Al-An’ām [6]:154).
Jaminan Pemeliharaan Al-Quran
Dikarenakan agama-agama (Kitab-kitab suci) yang diturunkan sebelum agama Islam (Al-Quran) tersebut misinya bersifat sementara, maka agama-agama tersebut tidak mendapat jaminan pemeliharaan dari Allah Swt. sebagaimana halnya dengan agama Islam (Al-Quran), oleh karena itu memilih agama-agama seperti itu sebagai “tuntutan hidup” maka benar-benar merupakan suatu kerugian di dunia mau di akhirat (QS.3:86). Berikut firman-Nya tentang jaminan pemeliharaan Allah Swt. atas Al-Quran:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ وَ اِنَّا لَہٗ لَحٰفِظُوۡنَ ﴿۹﴾
Sesungguhnya Kami-lah Yang telah menurunkan peringatan (Al-Quran) ini dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya (Al-Hijr [15]:10).
Perlu diperhatikan, bahwa menurut ayat tersebut yang mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. dari kerusakan atau campur-tangan manusia adalah Al-Quran, bukan umat Islam, sebab mengenai keadaan umat Islam Nabi Besar Muhammad saw. – sebagaiman telah dikemukakan sebelum ini -- telah menyatakan bahwa keadaan mereka akan mengikuti jejak-langkah kaum Yahudi dan Nasrani, bahkan jumlah firqah di kalangan umat Islam lebih banyak.
“Kamu (umat Islam) niscaya akan mengikuti jejak mereka yang telah mendahului kamu, dalam setiap langkahnya sedemikian rupa sehingga apabila ada di antara mereka yang masuk di lubang biawak kamu pun akan berlaku sama.” [Para sahabat bertanya]: “Ya Rasulallah, apakah yang engkau maksudkan kaum Yahudi dan Nasrani (Kristen)?” Beliau saw. bersabda: “Siapa lagi?” (Bukhari & Muslim).
Beliau saw. bersabda lagi:
“Kaumku akan mengalami kejadian yang sama seperti yang dialami Bani Israil. Mereka akan sedemikian rupa persamaannya satu sama lain seperti persamaan sepasang sepatu. Bani Israil telah pecah menjadi 72 golongan dan kaumku akan pecah menjadi 73 golongan. Semuanya akan dilemparkan ke dalam api, kecuali satu golongan.” Mereka (para Sahabah] bertanya: “Golongan manakah itu?” Beliau saw. bersabda: “Golongan yang akan menjalankan sunnahku dan amal perbuatan para sahabatku” (Tirmidzi).
Janji Allah Swt. mengenai perlindungan dan penjagaan Al-Quran yang dikemukakan dalam ayat tersebut telah genap dengan sangat ajaib, sehingga sekali pun tidak ada bukti-bukti lainnya, kenyataan ini saja niscaya cukup membutikan bahwa Al-Quran berasal dari Allah Swt..
Surah Al-Hijr ini diturunkan Mekkah – Noldeke pun mengakuinya -- ketika kehidupan Nabi Besar Muhammad saw. serta para pengikut beliau saw. sangat morat-marit keadaannya, dan musuh dengan mudah dapat menghancurkan agama yang baru itu. Ketika itulah orang-orang kafir ditantang untuk mengerahkan segenap tenaga mereka guna menghancurkan Islam, dan mereka diperingatkan bahwa Allah Swt. akan menggagalkan segala tipu-daya mereka sebab Dia Sendirilah penjaganya (pemeliharanya).
Tantangan tersebut terbuka dan tidak samar-samar sedangkan keadaan musuh kuat lagi kejam, namun demikian Al-Quran tetap selamat dari perubahan, penyisipan, dan pengurangan, serta senantiasa terus menerus menikmati penjagaan yang sempurna. Keistimewaan Al-Quran yang demikian itu tidak dimilki kitab-kitab lainnya yang diwahyukan.
Sir Wiliam Muir, seorang ahli kritik yang terkenal karena sikapnya memusuhi Islam berkata: “Kita dapat menetapkan berdasarkan dugaan yang paling keras bahwa tiap-tiap ayat dalam Al-Quran itu asli dan merupakan gubahan Muhammad sendiri yang tidak mengalami perubahan.............Ada jaminan yang kuat, baik dari dalam Al-Quran mau pun dari luar bahwa kita memiliki teks yang Muhammad sendiri siarkan dan pergunakan...............Membandingkan teks asli mereka yang tidak mengalami perubahan itu dengan berbagai naskah kitab-kitab suci kita adalah membangdingkan hal-hal yang di antaranya tidak ada persamaan” (Introduction to “The Life of Muhammad”).
Prof. Noldeke, ahli ketimuran besar berkebangsaan Jerman menulis sebagai berikut: “Usaha-usaha dari para sarjana Eropa untuk membuktikan adanya sisipan-sisipan dalam Al-Quran di masa kemudian telah gagal” (Encyclopaedia Britannica). Kebalikannya, kegagalan Dr. Mingana beberapa tahun berselang untuk mencari-cari kelemahan dalam kemurnian teks Al-Quran, membuktikan dengan pasti kebenaran dakwa Al-Quran, bahwa di antara semua kitab suci yang diwahyukan, hanya Al-Quran sajalah yang seluruhnya tetap kebal dari penyisipan atau campur-tangan manusia.
Tidak Ada Paksaan Dalam Agama
Jadi, kenyataan membuktikan bahwa Allah Swt. – sesuai dengan sifat Rubbubiyah-Nya (QS.1:2) -- secara bertahap dari zaman ke zaman Dia terus menerus menyempurnakan hukum-hukum syariat hingga mencapai puncak kesempurnaannya dalam wujud Al-Quran. Demikian pula pemeliharaan-Nya tersebut dilakukan pula atas agama yang sejak awal diturunkan pun adalah “Islam” (QS.3:20), maka ketika agama tersebut benar-benar telah mencapai kesempurnaannya barulah nama Islam diberikan oleh Allah Swt. (QS.5:4) dan pemeluknya disebut Muslim -- termasuk Nabi Ibrahim a.s. dan orang-orang yang beriman kepada beliau (QS.2:131-135; QS.22:78-79).
Namun kemikian Allah Swt. tidak pernah memaksakan kehendak-Nya kepada para pemeluk agama-agama selain agama Islam untuk memeluk agama terakhir dan tersempurna yaitu agama Islam, sebab menurut Allah Swt. tidak perlu ada paksaan dalam masalah agama, firman-Nya:
لَاۤ اِکۡرَاہَ فِی الدِّیۡنِ ۟ۙ قَدۡ تَّبَیَّنَ الرُّشۡدُ مِنَ الۡغَیِّ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بِالطَّاغُوۡتِ وَ یُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰہِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَکَ بِالۡعُرۡوَۃِ الۡوُثۡقٰی ٭ لَا انۡفِصَامَ لَہَا ؕ وَ اللّٰہُ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿۲۵۷﴾
Tidak ada paksaan dalam agama, sungguh telah jelas bedanya kebenaran dengan kesesatan, dan barangsiapa menolak [ajakan] orang-orang yang sesat serta beriman kepada Allah maka sesungguhnya ia telah berpegang pada suatu pegangan yang kuat [lagi] tidak pernah putus, dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui (Al-Baqarah [2]:257). Lihat pula QS.10:100; QS.11:119; 18:30; QS.76:4.
Larangan melakukan paksaan tersebut berlaku pula dalam masa peperangan. Terhadap orang-orang musyrik yang meminta perlindungan, wajib bagi umat Islam untuk memberi perlindungan, tetapi sama sekali tidak boleh memaksanya untuk masuk Islam, firman-Nya:
وَ اِنۡ اَحَدٌ مِّنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ اسۡتَجَارَکَ فَاَجِرۡہُ حَتّٰی یَسۡمَعَ کَلٰمَ اللّٰہِ ثُمَّ اَبۡلِغۡہُ مَاۡمَنَہٗ ؕ ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ قَوۡمٌ لَّا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿۶﴾
Dan jika salah seorang musyrik meminta perlindungan kepada engkau, berilah ia perlindungan sehingga ia dapat mendengar firman Allah, kemudian [jika tetap tidak mau beriman] sampaikanlah dia ke tampatnya yang aman. Hal itu karena mereka kaum yang tidak mengetahui (Al-Taubah [9]:6).
Ayat ini dengan jelas membuktikan kenyataan bahwa perang yang dilakukan oleh Nabi Besar Muhammad saw. dan umat Islam terhadap kaum musyrik bukan dengan tujuan memaksa mereka memeluk Islam, sebab menurut ayat itu bahkan dimasa berlakunya keadaan perang pun orang-orang musyrik diizinkan datang ke perkemahan atau markas orang-orang Islam. Kemudian setelah kebenaran Islam (Al-Quran) itu diajarkan kepada mereka dan mereka telah mengenal ajaran Islam, seandainya mereka tidak merasa cenderung untuk memeluk Islam maka mereka harus diantarkan ke tempat yang keamanan mereka, firman-Nya:
فَذَکِّرۡ ۟ؕ اِنَّمَاۤ اَنۡتَ مُذَکِّرٌ ﴿ؕ۲۲﴾ لَسۡتَ عَلَیۡہِمۡ بِمُصَۜیۡطِرٍ ﴿ۙ۲۳﴾ اِلَّا مَنۡ تَوَلّٰی وَ کَفَرَ ﴿ۙ۲۴﴾ فَیُعَذِّبُہُ اللّٰہُ الۡعَذَابَ الۡاَکۡبَرَ ﴿ؕ۲۵﴾ اِنَّ اِلَیۡنَاۤ اِیَابَہُمۡ ﴿ۙ۲۵﴾ ثُمَّ اِنَّ عَلَیۡنَا حِسَابَہُمۡ ﴿۲۶﴾
Maka nasihatilah, sesungguhnya engkau hanyalah seorang pemberi nasihat, engkau bukan penjaga atas mereka. Tetapi barangsiapa berpaling dan kafir maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang paling besar. Sesunggguhnya kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian sesungguhnya atas Kami-lah menghisab mereka (Al-Ghāsyiyah [88]:22-27).
Firman-Nya lagi:
نَحۡنُ اَعۡلَمُ بِمَا یَقُوۡلُوۡنَ وَ مَاۤ اَنۡتَ عَلَیۡہِمۡ بِجَبَّارٍ ۟ فَذَکِّرۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مَنۡ یَّخَافُ وَعِیۡدِ ﴿۴۶﴾
Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, dan engkau sekali-kali bukanlah pemaksa atas mereka, maka nasihatilah dengan Al-Quran orang yang takut terhadap ancaman [azab]-Ku (Qāf [50]:46).
Jadi, di hadapan ajaran-ajaran yang begitu jelas sangatlah tidak adil melancarkan tuduhan bahwa Islam tidak toleran atau mempergunakan kekerasan atau membiarkan -- seolah-olah tidak melihat -- bahwa kekerasan dipakai sebagai alat melakukan pertablighan.
Tetapi yang pasti bahwa pemberitahuan mengenai kedatangan agama Islam (Al-Quran) dan pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. telah tercantum dalam Kitab-kitab suci sebelum Al-Quran dan para pemuka agama-agama tersebut mengenalnya seperti mengenal anak-anak mereka sendiri, firman-Nya:
اَلَّذِیۡنَ اٰتَیۡنٰہُمُ الۡکِتٰبَ یَعۡرِفُوۡنَہٗ کَمَا یَعۡرِفُوۡنَ اَبۡنَآءَہُمۡ ؕ وَ اِنَّ فَرِیۡقًا مِّنۡہُمۡ لَیَکۡتُمُوۡنَ الۡحَقَّ وَ ہُمۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿۱۴۷﴾ؔ
Orang-orang yang diberi Kitab mereka mengenalnya sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka. Dan sesungguhnya segolongan dari mereka menyembunyikan haq (kebenaran) padahal mereka mengetahui (Al-Baqarah [2]:147). Lihat pula QS.6:21.
Oleh karena itu jika mereka tetap saja tidak mau beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. – walau pun berbagai dalil yang tidak dapat dibantah serta berbagai Tanda-tanda Allah telah dikemukakan kepada mereka (QS.6:112-113) – maka urusan mengenai mereka sepenuhnya adalah wewenang Allah Swt. yang akan memberikan penghakiman atas mereka, sedangkan umat Islam sama sekali tidak diberi wewenang oleh Allah Swt. memaksa mereka memeluk agama Islam, firman-Nya:
وَ قُلِ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۟ فَمَنۡ شَآءَ فَلۡیُؤۡمِنۡ وَّ مَنۡ شَآءَ فَلۡیَکۡفُرۡ ۙ اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا لِلظّٰلِمِیۡنَ نَارًا ۙ اَحَاطَ بِہِمۡ سُرَادِقُہَا ؕ وَ اِنۡ یَّسۡتَغِیۡثُوۡا یُغَاثُوۡا بِمَآءٍ کَالۡمُہۡلِ یَشۡوِی الۡوُجُوۡہَ ؕ بِئۡسَ الشَّرَابُ ؕ وَ سَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا ﴿۳۰﴾
Dan katakanlah: “Haq (kebenaran) itu dari Tuhan kamu, lalu barangsiapa menghendaki maka berimanlah, dan barangsiapa menghendaki maka ingkarlah.” Sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang zalim itu Api [yang nyalanya] meliputi mereka. Dan jika mereka berteriak minta tolong, mereka akan ditolong dengan air [minum] seperti timah yang mendidih yang menghanguskan wajah [mereka]. Sangat buruk minuman itu dan sangat jelek tempat istirahat itu! (Al-Kahf [18]:30).
Dan sebagaimana telah dikemukakan sebelum ini bahwa cara Allah Swt. melakukan penghakiman apabila umat beragama telah terpecah-belah menjadi berbagai firqah dan sekte yang saling bertentangan adalah melalui pengutusan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka, firman-Nya:
مَا کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ ﴿۱۷۰﴾
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang beriman di dalam keadaan kamu di dalamnya, sehingga Dia memisahkan yang buruk daripada yang baik. Dan Allah tidak memberitahukan yang gaib kepada kamu tetapi Allah memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan kepada rasul-rasul-Nya, dan jika kamu beriman serta bertakwa maka bagimu ganjaran yang besar (Āli ‘Imran [3]: 180).
Firman-Nya lagi:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ۲۷﴾ اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ۲۸﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿۲۹﴾
Dia-lah [Allah] Yang mengetahui yang gaib maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan [malaikat] pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya Dia mengetahui bahwa sungguh mereka (rasul-rasul) telah menyampaikan Amanat-amanat Tuhan mereka, dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan tentang segala sesuatu (Al-Jin [72]:27-29).
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar