Rabu, 17 Agustus 2011

Kesaksian Jiwa Mengenai Tauhid Ilahi

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

MENGAPA AGAMA DAN SEKTE AGAMA DI DUNIA BERMACAM-MACAM?

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

BAB I

KESAKSIAN JIWA MANUSIA MENGENAI TAUHID ILAHI

وَ اِذۡ اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿۱۷۳﴾ۙ اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿۱۷۴ وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿۱۷۵

Dan [ingatlah] ketika Tuhan engkau mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Dia mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka [seraya berfirman]: “Bukankah Aku ini Tuhan kamu?” Mereka menjawab: “Betul, kami menjadi saksi”, [hal demikian] itu supaya di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami orang-orang yang tidak menyadari hal ini”, atau supaya kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami dahlu yang berbuat syirik sedang kami ini hanyalah keturunan sesudah mereka. Adakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang pembuat kebatilan itu?” Dan demikianlah Kami menjelaskan Tanda-tanda itu dan supaya mereka kembali [kepada kebenaran] (Al-‘Arāf [7]:173-175).[1]

Allah Swt. telah menjadikan manusia sebagai puncak dari penciptaan alam semesta, karena itu tentu penciptaan manusia tersebut memiliki tujuan utama, yaitu untuk menyembah atau untuk beribadah kepada Allah Swt., Tuhan Maha Pencipta alam semesta, firman-Nya:

وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ الۡاِنۡسَ اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿۵۷ مَاۤ اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ مِّنۡ رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ ﴿۵۸ اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الۡقُوَّۃِ الۡمَتِیۡنُ ﴿۵۹

Dan Aku sekali-kali tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka dan tidakpula Aku menghendaki supaya mereka memberi Aku makan.” Sesungguhnya Allah Dia-lah Pemberi rezeki, Yang Mempunyai Kekuatan yang sangat kokoh (Al-Dzāriyāt [51]:57-59).

Kesempurnaan Jasmani dan Ruhani Manusia

Penetapan tujuan utama penciptaan manusia tersebut benar-benar dilandasi dengan berbagai pendukung sehingga tidak ada alasan bagi manusia untuk mengemukakan dalih bahwa perintah beribadah tersebut berada di luar kemampuan mereka untuk melaksanakannya, firman-Nya:

لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ فِیۡۤ اَحۡسَنِ تَقۡوِیۡمٍ ۫﴿۵ ثُمَّ رَدَدۡنٰہُ اَسۡفَلَ سٰفِلِیۡنَ ۙ﴿۶ اِلَّا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَہُمۡ اَجۡرٌ غَیۡرُ مَمۡنُوۡنٍ ؕ﴿۷ فَمَا یُکَذِّبُکَ بَعۡدُ بِالدِّیۡنِ ؕ﴿۸ اَلَیۡسَ اللّٰہُ بِاَحۡکَمِ الۡحٰکِمِیۡنَ ﴿۹

Sungguh Kami benar-benar telah menciptakan insan (manusia) dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian [jika berbuat dosa] Kami mengembalikannya ke martabat yang serendah-rendahnya, kecuali orang yang beriman dan beramal saleh maka bagi mereka ganjaran yang tiada putus-putusnya. Maka apakah yang menyebabkan engkau mendustakan hari pembalasan sesudah itu? Bukankah Allah itu Hakim Yang Maha Adil di antara para hakim? (Al-Tīn [95]:5-9).

Kalimat “fī ahsani taqwīm” (dalam bentuk yang sebaik-baiknya) tidak hanya mengisyaratkan kepada bentuk dan kemampuan manusia dari segi jasmani yang paling baik dibandingkan dengan makhluk lainnya, tetapi juga dalam segi bentuk dan kemampuan manusia dari segi ruhani, firman-Nya:

وَ لَقَدۡ خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ سُلٰلَۃٍ مِّنۡ طِیۡنٍ ﴿ۚ۱۳ ثُمَّ جَعَلۡنٰہُ نُطۡفَۃً فِیۡ قَرَارٍ مَّکِیۡنٍ ﴿۪۱۴ ثُمَّ خَلَقۡنَا النُّطۡفَۃَ عَلَقَۃً فَخَلَقۡنَا الۡعَلَقَۃَ مُضۡغَۃً فَخَلَقۡنَا الۡمُضۡغَۃَ عِظٰمًا فَکَسَوۡنَا الۡعِظٰمَ لَحۡمًا ٭ ثُمَّ اَنۡشَاۡنٰہُ خَلۡقًا اٰخَرَ ؕ فَتَبٰرَکَ اللّٰہُ اَحۡسَنُ الۡخٰلِقِیۡنَ ﴿ؕ۱۵

Dan sungguh Kami benar-benar telah menciptakan insan (manusia) dari sari tanah liat, kemudian Kami menjadikannya air mani di dalam tempat penyimpanan yang kokoh. Kemudian Kami menciptakan air mani menjadi segumpal darah, maka Kami menciptakan segumpal darah itu menjadi segumpal daging, maka Kami menciptakan dari segumpal daging itu tulang-tulang, kemudian Kami membungkus tulang-tulang itu dengan daging, kemudian Kami menumbuhkannya menjadi makhluk lain, maka Maha Berkat Allah, sebaik-baik Pencipta. (Al-Mukminūn [23]:13-15).

Sesudah mengemukakan berbagai tingkat evolusi ruhani manusia dalam 10 ayat pertama Surah ini (QS.23:2-12), selanjutnya Al-Quran menjelaskan dalam ayat ini dan dalam beberapa ayat berikutnya berbagai tingkat perkembangan fisiknya, dan dengan demikian membuktikan adanya kesejajaran ajaib di antara kelahiran dan pertumbuhan jasmani dan ruhaninya.

Dengan menyampingkan istilah-istilah ilmu hayat Surah ini memberikan lukisan dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami. Ilmu hayat tidak menemukan sesuatu yang bertentangan sedikit pun dengan lukisan Al-Quran. Kata-kata “Kami menciptakan manusia dari inti sari tanah liat” menyebutkan proses kejadian manusia mulai dari tingkat paling awal sekali ketika ia masih dalam keadaan tidak bernyawa dalam bentuk debu, dan berupa bagian-bagian tanah yang bukan-organik, melalui suatu proses perkembangan yang halus berubah menjadi kecambah-hayat dengan perantaraan makanan yang dimakan oleh manusia. Pada tingkat “kemudian Kami membungkus tulang-tulang itu dengan daging” (QS.23:15) perkembangan fisik mudigah (janin bayi) menjadi sempurna.

Kata-kata “kemudian Kami menumbuhkan dia menjadi makhluk lain” menunjukkan, bahwa ruh tidak dimasukkan ke dalam wujud manusia dari luar, melainkan tumbuh dalam badan ketika ia berkembang dalam rahim. Mula-pertama ruh tidak mempunyai wujud terpisah dari tubuh fisik janin, tetapi proses-proses yang dilalui oleh tubuh fisik janin elama berlangsung perkembangannya dalam rahim, menyuling dari tubuh itu sari halus yang disebut ruh. Segera sesudah hubungan di antara ruh dan tubuh fisik janin menjadi pas benar-benar maka jantung pun mulailah bekerja. Sesudah itu ruh mempunyai wujud tersendiri yang terpisah dari badan, yang selanjutnya tubuh fisik itu berperan sebagai wadah bagi ruh itu.

Perkembangan Ruhani Manusia

Berikut adalah firman Allah Swt. mengenai perkembangan ruhani manusia dalam kehidupan di dunia, sehingga setelah mengalami kematian layak untuk menjadi penghuni “surga Firdaus” di alam akhirat, firman-Nya:

قَدۡ اَفۡلَحَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ۙ﴿۲ الَّذِیۡنَ ہُمۡ فِیۡ صَلَاتِہِمۡ خٰشِعُوۡنَ ۙ﴿۳ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنِ اللَّغۡوِ مُعۡرِضُوۡنَ ﴿ۙ۴ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ لِلزَّکٰوۃِ فٰعِلُوۡنَ ۙ﴿۵ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ لِفُرُوۡجِہِمۡ حٰفِظُوۡنَ ۙ﴿۶ اِلَّا عَلٰۤی اَزۡوَاجِہِمۡ اَوۡ مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُہُمۡ فَاِنَّہُمۡ غَیۡرُ مَلُوۡمِیۡنَ ۚ﴿۷ فَمَنِ ابۡتَغٰی وَرَآءَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡعٰدُوۡنَ ۚ﴿۶ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ لِاَمٰنٰتِہِمۡ وَ عَہۡدِہِمۡ رٰعُوۡنَ ۙ﴿۹ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَلٰی صَلَوٰتِہِمۡ یُحَافِظُوۡنَ ۘ﴿۱۰ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡوٰرِثُوۡنَ ﴿ۙ۱۱ الَّذِیۡنَ یَرِثُوۡنَ الۡفِرۡدَوۡسَ ؕ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿۱۲

Sungguh telah berhasil orang-orang yang beriman, [yaitu] orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang berpaling dari hal yang sia-sia, dan orang-orang yang membayar zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau apa yang dimiliki tangan kanannya maka sesungguhnya mereka tidak tercela, tetapi barangsiapa mencari selain dari itu maka mereka itu orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan perjanjian-perjanjian mereka, Dan orang-orang yang memelihara shalat-shalat mereka. Mereka itulah pewaris, [yaitu] orang-orang yang akan mewarisi [surga] Firdaus, mereka akan kekal di dalamnya. (Al-Mukminūn [23]:2-12).

Jadi, kembali kepada firman Allah Swt. mengenai kesempurnaan penciptaan manusia -- fī ahsani taqwīm” (dalam bentuk yang sebaik-baiknya – QS.95:5) pernyataan Allah Swt. tersebut menjelaskan bahwa manusia dilahirkan dengan fitrat suci dan tidak bernoda, dengan kecondongan alami untuk berbuat baik, tetapi ia telah diberi pula cukup banyak kebebasan berkemauan dan berbuat untuk membentuk dirinya menurut pilihannya sendiri.

Ia telah dianugerahi kemampuan-kemampuan alami besar dan kecakapan-kecakapan kreatif guna mencapai kemajuan akhlak yang tidak terhingga dan menaiki puncak keruhanian demikian tingginya, sehingga ia menjadi cermin yang memantulkan sifat-sifat Allāh. Tetapi jika ia menyalahgunakan kemampuan-kemampuan dan sifat-sifatnya yang dianugerahkan Allāh Swt. ia jatuh ke martabat rendah yang rendah yang bahkan lebih rendah daripada martabat binatang buas dan binatang jalang, dan menjadi penjelmaan syaitan seperti dijelaskan oleh ayat-ayat berikutnya. Singkatnya, ia telah dianugerahi kemampuan-kemampuan besar guna berbuat baik atau pun jahat.

Bila manusia telah diciptakan untuk mencapai tujuan ruhani yang amat tinggi itu dan Allāh telah mengutus nabi-nabi-Nya -- seperti Nabi Adam a.s., Nabi Nuh a.s. , Nabi Musa a.s. , dan Nabi Besar Muhammad saw. -- untuk menolong manusia mencapai tujuan penciptaannya yang agung itu, dan jika ia tidak mempergunakan kemampuan-kemampuannya dengan cara tepat dan menolak Amanat Ilahi serta menentang para utusan (rasul) Allāh dia dihukum (diazab), kemudian siapakah dapat menolak berdasarkan akal sehat, bahwa ada Hari Pembalasan di dunia ini dan juga di akhirat dan bahwa perintah-perintah Allāh -- Yang adalah Hakim terbaik -- tidak dapat dilawan dan bahwa perbuatan-perbuatan manusia tidak akan dibiarkan bebas tanpa dibalas? Itulah makna dari firman-Nya:

فَمَا یُکَذِّبُکَ بَعۡدُ بِالدِّیۡنِ ؕ﴿۸ اَلَیۡسَ اللّٰہُ بِاَحۡکَمِ الۡحٰکِمِیۡنَ ﴿۹

Maka apakah yang menyebabkan engkau mendustakan hari pembalasan sesudah itu? Bukankah Allah itu Hakim Yang Maha Adil di antara para hakim? (Al-Tīn [95]:8-9).

Kesaksian Ruh

Kenyataan bahwa Allah Swt. telah menciptakan insan (manusia) dilengkapi berbagai kemampuan yang terbaik guna melaksanakan tujuan utama diciptakannya mereka di dunia ini, diperkuat lagi oleh pernyataan Allah Swt. pada awal uraian BAB I ini, firman-Nya:

وَ اِذۡ اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿۱۷۳﴾ۙ اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿۱۷۴ وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿۱۷۵

Dan [ingatlah] ketika Rabb (Tuhan) engkau mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Dia mengambil kesaksian terhadap jiwa (ruh) mereka [seraya berfirman]: “Bukankah Aku ini Tuhan kamu?” Mereka menjawab: “Betul, kami menjadi saksi”, [hal demikian] itu supaya di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami orang-orang yang tidak menyadari hal ini”, atau supaya kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami dahulu yang berbuat syirik sedang kami ini hanyalah keturunan sesudah mereka. Adakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang pembuat kebatilan itu?” Dan demikianlah Kami menjelaskan Tanda-tanda itu dan supaya mereka kembali [kepada kebenaran] (Al-A’raf [7]:173-175).

Ayat ini menunjukkan kepada kesaksian yang tertanam dalam fitrat manusia sendiri mengenai adanya Dzat Mahatinggi yang telah menciptakan seluruh alam serta mengen-dalikannya (QS.30:31) yakni Allah Swt.. Atau ayat itu dapat merujuk kepada kemunculan para nabi Allāh yang menunjuki jalan menuju Allāh Swt.. Ungkapan “dari sulbi bani Adam” maksudnya umat dari setiap zaman yang kepada mereka rasul Allāh diutus. Pada hakikatnya keadaan tiap-tiap rasul baru itulah yang mendorong timbulnya pertanyaan Ilahi: “Bukankah Aku Tuhan kamu?”

Pertanyaan itu berarti bahwa jika Allāh Swt. telah menyediakan perbekalan untuk keperluan jasmani manusia dan demikian pula untuk kemajuan akhlak dan keruhanian betapa ia dapat mengingkari Ketuhanan-Nya. Sesungguhnya karena menolak nabi mereka (QS.7:35-37) maka manusia menjadi saksi terhadap diri mereka sendiri, sebab jika demikian mereka tidak dapat berlindung di balik dalih bahwa mereka tidak mengetahui Allāh atau syariat-Nya atau Hari Pembalasan.

Kemunculan seorang nabi Allah juga menolak kaumnya dari mengemukakan dalih seperti dalam ayat 173 -- bahwa ia tidak mengetahui apa pun mengenai Allah Swt. dan kewajiban beribadah kepada-Nya -- sebab pada saat itulah haq (kebenaran) dibuat nyata berbeda dari kepalsuan, dan kemusyrikan dengan terang benderang dicela, firman-Nya:

فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ حَنِیۡفًا ؕ فِطۡرَتَ اللّٰہِ الَّتِیۡ فَطَرَ النَّاسَ عَلَیۡہَا ؕ لَا تَبۡدِیۡلَ لِخَلۡقِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ الدِّیۡنُ الۡقَیِّمُ ٭ۙ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٭ۙ۳۱ مُنِیۡبِیۡنَ اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿ۙ۳۲ مِنَ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ وَ کَانُوۡا شِیَعًا ؕ کُلُّ حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ ﴿۳۳

Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, [yaitu] fitrat Allāh, yang atas dasar itu Dia menciptakan manusia, tidak ada perubahan dalam penciptaan Allāh, itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Kembalilah kamu kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat, dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang musyrik, [yaitu] orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi golongan-golongan, tiap-tiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka (Al-Rūm [30]:31-33).

Tuhan adalah Maha Esa dan kemanusiaan itu satu, inilah fithrat Allāh dan dīnul-fithrah — satu agama yang berakar dalam fitrat manusia — dan terhadapnya manusia menyesuaikan diri dan berlaku secara naluri. Nabi Besar Muhammad saw. bersabda bahwa di dalam agama fithrah inilah seorang bayi dilahirkan, tetapi lingkungannya, cita-cita dan kepercayaan-kepercayaan orang tuanya, serta didikan dan ajaran yang diperolehnya dari mereka itu, kemudian membuat dia Yahudi, Majusi atau Kristen (Bukhari).

Hanya semata-mata percaya kepada Kekuasaan mutlak dan Keesaan Tuhan -- yang walau pun sesungguhnya hal itu merupakan asas pokok agama yang hakiki -- adalah tidak cukup. Suatu agama yang benar harus memiliki peraturan-peraturan dan perintah-perintah tertentu. Dari semua peraturan dan perintah itu shalatlah yang harus mendapat prioritas utama.

Penyimpangan dari agama sejati menjuruskan umat di zaman lampau kepada perpecahan dalam bentuk aliran-aliran (sekte-sekte) yang saling memerangi dan menyebabkan sengketa di antara mereka.

Setelah dalam beberapa ayat sebelumnya diisyaratkan mengenai Keesaan Allāh Swt. sebagai asas pokok semua agama, ayat ini dan tiga ayat berikutnya membahas syirik, yakni penyekutuan tuhan-tuhan palsu terhadap Allāh. Orang-orang musyrik bagaimana juga tidak mempunyai dalil apa pun untuk mendukung kepercayaan mereka yang palsu. Fitrat, akal, dan pikiran sehat manusia, semuanya menolak keras kemusyrikan.

Makna “Beribadah” dan Tujuannya & Pentingnya Keberadaan Petunjuk dan Suri Teladan

Nabi Besar Muhammad saw. menjelaskan bahwa makna dari beribadah kepada Allah Swt. adalah takhallaqu bi-akhlaqillāh (berakhlaklah kalian dengan akhlak Allah), yaitu manusia harus memahami dan memperagakan Sifat-sifat Allah Swt. di dalam kehidupan ini – yakni sifat-sifat Tasybihiyyah[2] Allah Swt. – maka dari segi inilah manusia layak menyandang sebutan “khalifah Allah” di muka bumi, walau pun pada hakikatnya sebutan “khalifah Allah tersebut tertuju kepada para rasul (nabi) Allah, terutama sekali Nabi Besar Muhammad saw. (QS.2:31; QS.3:32; Qs.33:22, 41; QS.53:2-11; QS.68:5).

Salah satu arti khalifah adalah “pengganti” atau “wakil”, dan umat manusia dapat benar-benar layak menyandang sebutan “khalifah Allah” yakni “wakil Allah” di muka bumi jika mereka dapat melaksanakan perintah Allah Swt. berikut ini:

وَ لَا تُفۡسِدُوۡا فِی الۡاَرۡضِ بَعۡدَ اِصۡلَاحِہَا وَ ادۡعُوۡہُ خَوۡفًا وَّ طَمَعًا ؕ اِنَّ رَحۡمَتَ اللّٰہِ قَرِیۡبٌ مِّنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿۵۷

Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah perbaikannya, dan berdoalah kepada-Nya dengan [rasa] takut dan harap, sesungguhnya rahmat Allah dekat kepada orang-orang yang berbuat ihsan (kebajikan) (Al-A’rāf [7]:57). Lihat pula Qs.7:87-94.

Dikarenakan untuk melaksanakan peribadahan -- dalam rangka melaksanakan perbaikan umat manusia -- tersebut memerlukan keberadaan wujud-wujud yang memperagakan Sifat-sifat Tasybihiyyah Allah Swt. sebagai contoh (suri teladan), maka Allah Swt. secara berkesinambungan dari zaman ke zaman senantiasa mengutus para rasul Allah di kalangan Bani Adam, firman-Nya:

وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ اَجَلُہُمۡ لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿۳۵ یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿۳۶ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿۳۷

Dan bagi tiap-tiap umat ada ajal (batas waktu), maka apabila datang batas waktu mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya. Hai Bani Adam, jika datang kepada kamu rasul-rasul dari antara kamu yang menceritakan Ayat-ayat-Ku kepadamu maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih. Tetapi orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan sombong berpaling darinya mereka itu penghuni api, mereka akan kekal di dalamnya (Al-Baqarah [2]:25-27). Lihat pula QS.10:48-50; QS.16:37; QS.35:25.

Dengan demikian jelaslah bahwa yang dimaksud dengan amanat dari Allah Swt. kepada “Adam dan istrinya” mengenai kedatangan “petunjuk” -- yakni ketika Allah Swt. memerintahkan mereka untuk berhijrah dari tempat tinggalnya yang dalam Al-Quran disebut “jannah dan dalam Bible disebut “Taman Eden[3] -- tidak lain adalah kedatangan petunjuk yang dibawa oleh para rasul (nabi) Allah yang dibangkitkan dari kalangan Bani Adam sendiri, firman-Nya:

قُلۡنَا اہۡبِطُوۡا مِنۡہَا جَمِیۡعًا ۚ فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی فَمَنۡ تَبِعَ ہُدَایَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿۳۹ وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿۴۰

Kami berfirman: “Pergilah kamu semua dari sini, maka jika datang kepada kamu suatu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku maka tidak akan ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih. Tetapi orang-orang yang kafir serta mendustakan Tanda-tanda Kami mereka adalah penghuni api, mereka akan kekal di dalamnya (Al-Baqarah [2]:39-40).

Hakikat “Keberatan” Para Malaikat berkenaan Keberadaan “Khalifah”

Ayat terakhir kedua firman Allah Swt. tersebut (QS.7:35-37 & QS.2:39-40) menjelaskan, bahwa orang-orang yang mendustakan serta dengan takabur menentang keras para nabi Allah yang dibangkitkan di kalangan Bani Adam itulah yang dimaksud para para malaikat sebagai para pembuat kerusakan di muka bumi dan para penumpah darah, yakni ketika Allah Swt. berkehendak menjadikan seorang khalifah-Nya di bumi (QS.2:31), namun demikian mereka itu mendakwakan bahwa perbuatan buruknya sebagai tindakan “melakukan perbaikan di muka bumi”, firman-Nya:

وَ اِذَا قِیۡلَ لَہُمۡ لَا تُفۡسِدُوۡا فِی الۡاَرۡضِ ۙ قَالُوۡۤا اِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُوۡنَ ﴿۱۲ اَلَاۤ اِنَّہُمۡ ہُمُ الۡمُفۡسِدُوۡنَ وَ لٰکِنۡ لَّا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿۱۳

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.” Mereka berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itu pembuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadari. (Al-Baqarah [2]:12-13).

Berikut adalah firman Allah Swt. mengenai “keberatan” yang dikemukakan para malaikat ketika Allah Swt. berkehendak menjadikan seorang “Khalifah” dalam rangka melakuan perbaikan di bumi. Para malaikat mengatakan bahwa keberadaan seorang khalifah Allah atau rasul Allah tersebut akan memunculkan orang-orang -- yang karena kedengkiannya serta ketakaburannya -- akan melakukan pendustaan dan pentangan keras terhadap missi suci khalifah Allah” tersebut, sehingga terjadi “kerusakan” dan “pertumpahan darah” di muka bumi, firman-Nya:

وَ اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿۳۱


Dan [ingatlah] ketika Tuhan engkau berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” Mereka berkata: “Apakah Engkau akan menjadikan di dalamnya orang yang akan berbuat kerusakan di dalamnya dan akan menumpahkan darah? Padahal kami senantiasa bertasbih dengan pujian Engkau dan kami mensucikan Engkau.” Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah [2]:31). Lihat pula QS.2:31-35; QS.7:12-13; QS.15:29-33; 17:61; QS.18:51; QS.20:117; QS.38:72-77.

Jadi sangat keliru jika menganggap “keberatan” yang dikemukakan oleh para malaikat adalah tertuju kepada “Khalifah” yang akan dijadikan Allah Swt., melainkan tertuju kepada akibat yang akan terjadi ketika “Khalifah Allah” tersebut telah muncul, yakni akan ada pihak-pihak yang karena merasa sangat dirugikan kepentingannya dengan keberadaan “Khalifah Allah” tersebut maka mereka karena kedengkiannya akan melakukan perlawanan, sehingga menimbulkan kerusakan dan bahkan tertumpahnya darah di pihak “khalifah Allah -- yakni di kalangan para nabi Allah dan para pengikutnya.

Kenyataan itu yang berulang kali dikemukakan Allah Swt. dalam Al-Quran sehubungan dengan pengutusan para rasul Allah dari zaman ke zaman, mulai dari zaman Nabi Adam a.s. sampai dengan zaman Nabi Besar Muhammad saw., dan Sunnatullah tersebut akan terus berlanjut sampai Hari Kiamat nanti (QS.7:35-37; QS.2:88-92; QS.36:31-33; QS.51:53-54), dan mengisyaratkan kepada kenyataan itu pulalah firman Allah Swt. berikut ini:

یٰحَسۡرَۃً عَلَی الۡعِبَادِ ۚؑ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ اِلَّا کَانُوۡا بِہٖ یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿۳۱ اَلَمۡ یَرَوۡا کَمۡ اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ اَنَّہُمۡ اِلَیۡہِمۡ لَا یَرۡجِعُوۡنَ ﴿ؕ۳۲ وَ اِنۡ کُلٌّ لَّمَّا جَمِیۡعٌ لَّدَیۡنَا مُحۡضَرُوۡنَ ﴿۳۳

Wahai, sangat disesalkan bagi hamba-hamba-Ku. Tidak pernah datang kepada mereka seorang rasul melainkan mereka selalu mencemoohkannya. Apakah mereka tidak melihat betapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka bahwa sesungguhnya mereka itu tidak akan kembali kepada mereka? Dan sesungguhnya mereka semua akan dihadapkan kepada Kami (Yā Sīn [36]:31-33). Lihat pula QS.15:13, QS.43:8.

Suri Teladan dan Petunjuk Paling Sempurna

Contoh (suri teladan) yang paling sempurna dari semua “Khalifah Allah” atau rasul Allah tersebut adalah Nabi Besar Muhammad saw., sedangkan petunjuk yang paling sempurna dari semua petunjuk yang telah diturunkan Allah Swt. kepada para rasul-Nya adalah Al-Quran (agama Islam) firman-Nya:

لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ۲۲

Sungguh benar-benar kamu dapati dalam diri Rasulullah suri teladan yang sebaik-baiknya bagi orang yang mengharapkan Allah, Hari Akhir dan yang banyak-banyak mengingat Allah” (Al Ahzab [33:22). Lihat pula QS.3:32; QS.68:5.

Firman-Nya:

اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا

Hari ini telah Kusempurnakan agama kamu bagimu, dan telah Kulengkapkan nikmat-ku atasmu, dan telah Kusukai bagimu Islam sebagai agama (Al-Māidah [5]:4).

Atas dasar kenyataan itulah maka Allah Swt. telah menjamin pemeliharaan-Nya atas Al-Quran, firman-Nya:

اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ وَ اِنَّا لَہٗ لَحٰفِظُوۡنَ ﴿۱۰

Sesungguhnya Kami-lah Yang menurunkan peringatan (adz-Dzikr) ini dan sesungguhnya Kami benar-benar Pemelihara baginya (Al-Hijr [15]:10).

Firman-Nya lagi:

اِنَّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا بِالذِّکۡرِ لَمَّا جَآءَہُمۡ ۚ وَ اِنَّہٗ لَکِتٰبٌ عَزِیۡزٌ ﴿ۙ۴۲ لَّا یَاۡتِیۡہِ الۡبَاطِلُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ لَا مِنۡ خَلۡفِہٖ ؕ تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ حَکِیۡمٍ حَمِیۡدٍ ﴿۴۳

Sesungguhnya [celakalah] orang-orang yang kafir kepada adz-Dzikir (Al-Quran) tatkala itu datang kepada mereka, dan sesungguhnya [Al-Quran] itu benar-benar Kitab yang mulia, kebatilan tidak dapat mendekatinya, baik dari depannya maupun dari belakangnya, diturunkan dari [Tuhan] Yang Maha Bijaksana, Maha Terpuji (Al-Fushshilat [41]:42-43).

Al-Quran disebut adz-dzikr karena: (a) Al-Quran mengemukakan dan mengulang-ulangi asas-asas dan ajaran-ajarannya dalam berbagai bentuk, dengan demikian membuat manusia terus mengingat asas-asas serta ajaran-ajarannya. (b) Al-Quran mengingatkan manusia akan ajaran-ajaran mulia yang pernah diturunkan di dalam Kitab-kitab suci terdahulu; (c) dengan beramal atas ajaran-ajarannya manusia dapat meraih puncak-puncak keluhuran ruhani sebab adz-dzikr berarti pula kehormatan.

Al-Quran adalah Kitab yang sangat menakjubkan, ternyata tidak ada satu pun di antara kebenaran-kebenaran, asas-asas, serta cita-cita agung yang diuraikan oleh Al-Quran pernah disangkal atau ditentang oleh ajaran-ajaran zaman dahulu ataupun oleh ilmu pengetahuan modern, firman-Nya:

اَفَلَا یَتَدَبَّرُوۡنَ الۡقُرۡاٰنَ ؕ وَ لَوۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ غَیۡرِ اللّٰہِ لَوَجَدُوۡا فِیۡہِ اخۡتِلَافًا کَثِیۡرًا ﴿۸۳

Maka tidakkah mereka merenungkan Al-Quran? Dan seandainya [Al-Quran] ini bukan dari sisi Allah niscaya mereka akan mendapati banyak pertentangan di dalamnya (Al-Nisa [4]:83).

“Pertentangan” dapat mengacu kepada pertentangan-pertentangan dalam teks Al-Quran dan ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya; atau kepada tidak adanya persesuaian antara nubuatan-nubuatan yang tersebut dalam Al-Quran dengan hasil atau penggenapan nubuatan-nubuatan itu.

Jumlah para Nabi (Rasul) Allah

Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda, bahwa Allah Swt. telah mengutus para nabi (rasul) kepada umat manusia sebanyak 124.000 orang nabi (rasul), dan 313 orang di antaranya nabi (rasul) pembawa syariat. Dari sekian banyak syariat (agama) yang dibawa oleh para nabi pembawa syariat tersebut, yang saat ini dikenal secara umumnya hanya beberapa agama saja, contohnya: Hindu, Buddha, Majusi, Yahudi (Taurat), Kristen, Tao, Kong Hu Cu, Shinto, dan agama terakhir yaitu agama Islam yang diturunkan kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.5:4), firman-Nya:

نَّاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ بِالۡحَقِّ بَشِیۡرًا وَّ نَذِیۡرًا ؕ وَ اِنۡ مِّنۡ اُمَّۃٍ اِلَّا خَلَا فِیۡہَا نَذِیۡرٌ ﴿۲۴ وَ اِنۡ یُّکَذِّبُوۡکَ فَقَدۡ کَذَّبَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۚ جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ وَ بِالزُّبُرِ وَ بِالۡکِتٰبِ الۡمُنِیۡرِ ﴿۲۵ ثُمَّ اَخَذۡتُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَکَیۡفَ کَانَ نَکِیۡرِ ﴿۲۶

Sesungguhnya Kami mengutus engkau dengan haq (kebenaran) sebagai pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan. Dan tidak ada satu kaum pun melainkan telah diutus kepada mereka seorang pemberi peringatan. Dan jika mereka mendustakan engkau maka sungguh orang-orang sebelum mereka pun telah mendustakan. Telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan Tanda-tanda yang jelas dan dengan Kitab yang menerangi, kemudian Aku tangkap orang-orang yang kafir, dan betapa [mengerikan akibat] penolakan terhadap-Ku (Al-Fāthir [35]:25).

Firman-Nya lagi:

اِنَّاۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ کَمَاۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلٰی نُوۡحٍ وَّ النَّبِیّٖنَ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ ۚ وَ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلٰۤی اِبۡرٰہِیۡمَ وَ اِسۡمٰعِیۡلَ وَ اِسۡحٰقَ وَ یَعۡقُوۡبَ وَ الۡاَسۡبَاطِ وَ عِیۡسٰی وَ اَیُّوۡبَ وَ یُوۡنُسَ وَ ہٰرُوۡنَ وَ سُلَیۡمٰنَ ۚ وَ اٰتَیۡنَا دَاوٗدَ زَبُوۡرًا ﴿۱۶۴﴾ۚ وَ رُسُلًا قَدۡ قَصَصۡنٰہُمۡ عَلَیۡکَ مِنۡ قَبۡلُ وَ رُسُلًا لَّمۡ نَقۡصُصۡہُمۡ عَلَیۡکَ ؕ وَ کَلَّمَ اللّٰہُ مُوۡسٰی تَکۡلِیۡمًا ﴿۱۶۵﴾ۚ رُسُلًا مُّبَشِّرِیۡنَ وَ مُنۡذِرِیۡنَ لِئَلَّا یَکُوۡنَ لِلنَّاسِ عَلَی اللّٰہِ حُجَّۃٌۢ بَعۡدَ الرُّسُلِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا ﴿۱۶۶

Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepada engkau sebagaimana Kami telah mewa-hyukan kepada Nuh, dan nabi-nabi yang sesudahnya; dan Kami telah mewahyukan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan keturunan[nya], dan Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman, dan Kami telah memberikan Zabur kepada Daud. Dan [ada] rasul-rasul yang telah Kami beritahukan kepada engkau sebelum [ini] dan [ada pula] rasul-rasul yang tidak Kami beritahukan kepada engkau. Dan Allah telah berfirman kepada Musa secara langsung. Rasul-rasul pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, supaya jangan ada alasan bagi manusia untuk menyalahkan Allah setelah [kedatangan] rasul-rasul itu. Dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana (Al-Nisa [4]:164--166). Lihat pula QS.40:79.

Dari firman Allah Swt. tersebut diketahui, bahwa pada hakikatnya semua cara pewahyuan dan semua jenis wahyu yang pernah diturunkan kepada para nabi Allah sebelumnya telah dianugerahkan pula kepada Nabi Besar Muhammad saw. dalam kuantitas dan kualitas yang paling sempurna, sehingga dapat dikatakan bahwa wujud Nabi Besar Muhammad saw. merupakan himpunan sifat-sifat sempurna seluruh nabi Allah, atau keadaan beliau saw. seperti sebuah lautan luas tak bertepi yang ke dalamnya seluruh sungai bermuara, firman-Nya:

وَ کُلًّا نَّقُصُّ عَلَیۡکَ مِنۡ اَنۡۢبَآءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِہٖ فُؤَادَکَ ۚ وَ جَآءَکَ فِیۡ ہٰذِہِ الۡحَقُّ وَ مَوۡعِظَۃٌ وَّ ذِکۡرٰی لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿۱۲۱

Dan Kami ceritakan kepada engkau semua kabar [penting] mengenai rasul-rasul, yang dengan itu Kami teguhkan hati engkau, dan di dalam hal ini telah datang kepada engkau kebenaran, nasihat, dan peringatan bagi orang-orang yang beriman (Hūd [11]:121).

Pemberi Peringatan

Ada pun maksud kalimat “supaya jangan ada alasan bagi manusia untuk menyalahkan Allah setelah [kedatangan] rasul-rasul itu” dalam QS.4:164-166 sebelum ini adalah mereka tidak memiliki alasan menyalahkan Allah Swt. ketika mereka diazab akibat mendustakan dan menentang keras para rasul Allah tersebut, firman-Nya:

وَ مَا کُنَّا مُعَذِّبِیۡنَ حَتّٰی نَبۡعَثَ رَسُوۡلًا ﴿۱۶

Dan Kami sekali-kali tidak akan mengazab sebelum Kami mengirimkan seorang rasul (Bani Israil [17]:16. Lihat pula QS.6:132; QS.11:118; Qs.20:135-136; QS.26:209; QS.28:60.

Ada pun alasan penetapan Sunnatullah tersebut adalah agar manusia tidak memiliki dalih untuk menyalahkan Allah Swt., dengan mengatakan bahwa kepada mereka tidak pernah terlebih dulu dikirim seorang rasul Allah yang memberi peringatan kepada mereka, firman-Nya lagi:

وَ لَوۡ اَنَّـاۤ اَہۡلَکۡنٰہُمۡ بِعَذَابٍ مِّنۡ قَبۡلِہٖ لَقَالُوۡا رَبَّنَا لَوۡ لَاۤ اَرۡسَلۡتَ اِلَیۡنَا رَسُوۡلًا فَنَتَّبِعَ اٰیٰتِکَ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ نَّذِلَّ وَ نَخۡزٰی ﴿۱۳۵ قُلۡ کُلٌّ مُّتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوۡا ۚ فَسَتَعۡلَمُوۡنَ مَنۡ اَصۡحٰبُ الصِّرَاطِ السَّوِیِّ وَ مَنِ اہۡتَدٰی ﴿۱۳۶

Dan seandainya Kami membinasakan mereka dengan azab sebelum [kedatangan rasul] ini niscaya mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapakah tidak engkau kirimkan seorang rasul kami supaya kami mengikuti perintah-perintah Engkau sebelum kami direndahkan dan dihinakan?” Katakanlah: “Semua orang masing-masing sedang menunggu, maka tunggulah, segera kamu akan mengetahui siapa yang mengikuti petunjuk [dan siapa yang tidak]” (Thā Hā [20:135-136). Lihat pula Qs.6:132; QS.11:118; QS.26:209; QS.28:60.

Berikut firman-Nya kepada golongan Ahlikitab – yakni kaum Yahudi dan Nasrani -- mengenai pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.:

یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ قَدۡ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلُنَا یُبَیِّنُ لَکُمۡ عَلٰی فَتۡرَۃٍ مِّنَ الرُّسُلِ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا مَا جَآءَنَا مِنۡۢ بَشِیۡرٍ وَّ لَا نَذِیۡرٍ ۫ فَقَدۡ جَآءَکُمۡ بَشِیۡرٌ وَّ نَذِیۡرٌ ؕ وَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿۲۰

Hai Ahlikitab, sungguh telah datang kepada kamu Rasul Kami yang menjelaskan kepadamu sesudah terhentinya [pengutusan] rasul-rasul, supaya kamu tidak mengatakan: “Sekali-kali tidak pernah datang kepada kami seorang pemberi kabar gembira dan tidak pula seorang pemberi peringatan.” Padahal sungguh telah datang kepada kamu seorang pembawa kabar suka dan pemberi peringatan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu (Al-Maidah [5]:20).

Alasan lainnya pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. adalah karena di kalangan Ahlikitab telah terjadi campurtangan mereka terhadap Taurat dan Injil, khususnya penyembunyian – bahkan penghilangan – berbagai nubuatan tentang kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. yang dijanjikan Allah Swt. kepada mereka di dalam Taurat dan Injil (Ulangan 18:15-9; Yohanes 16:12-13) sebagai kedatangan “nabi yang seperti Musa” dan “Roh kebenaran” yang akan membawa “semua kebenaran”, firman-Nya:

یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ قَدۡ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلُنَا یُبَیِّنُ لَکُمۡ کَثِیۡرًا مِّمَّا کُنۡتُمۡ تُخۡفُوۡنَ مِنَ الۡکِتٰبِ وَ یَعۡفُوۡا عَنۡ کَثِیۡرٍ ۬ؕ قَدۡ جَآءَکُمۡ مِّنَ اللّٰہِ نُوۡرٌ وَّ کِتٰبٌ مُّبِیۡنٌ ﴿ۙ۱۶

Hai Ahlikitab, sungguh telah datang kepada kamu Rasul Kami yang menjelaskan kepadamu banyak dari apa yang kamu sembunyikan dari Kitab, dan ia memaafkan banyak kesalahan [kamu] Sungguh telah datang kepadamu Nur dari Allah dan Kitab yang nyata (Al-Māidah [5]:16).

(Bersambung)


[1] Bismillāhirrahmānirrahīm dihitung sebagai ayat pertama kecuali Surah Al-Taubah.

[2] Sifat Tasybihiyyah adalah sifat-sifat Allah Swt. yang sampai batas tertentu dapat dimiliki pula oleh makhluk-Nya.

[3] Masalah “jannah dibahas secara terinci dalam bab V Kisah Monumental “Adam, Malaikat, Iblis”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar