بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
MENGAPA AGAMA DAN SEKTE AGAMA DI DUNIA BERMACAM-MACAM?
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
BAB II
HUBUNGAN AGAMA ISLAM
DENGAN
AGAMA-AGAMA SEBELUMNYA
اِنَّاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ بِالۡحَقِّ بَشِیۡرًا وَّ نَذِیۡرًا ؕ وَ اِنۡ مِّنۡ اُمَّۃٍ اِلَّا خَلَا فِیۡہَا نَذِیۡرٌ ﴿۲۴﴾ وَ اِنۡ یُّکَذِّبُوۡکَ فَقَدۡ کَذَّبَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۚ جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ وَ بِالزُّبُرِ وَ بِالۡکِتٰبِ الۡمُنِیۡرِ ﴿۲۵﴾ ثُمَّ اَخَذۡتُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَکَیۡفَ کَانَ نَکِیۡرِ ﴿۲۶﴾
Sesungguhnya Kami mengutus engkau dengan haq (kebenaran) sebagai pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan. Dan tidak ada satu kaum pun melainkan telah diutus kepada mereka seorang pemberi peringatan. Dan jika mereka mendustakan engkau maka sungguh orang-orang sebelum mereka pun telah mendustakan. Telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan Tanda-tanda yang jelas dan dengan Kitab yang menerangi, kemudian Aku tangkap orang-orang yang kafir, dan betapa [mengerikan akibat] penolakan terhadap-Ku (Al-Fāthir [35]:25).
Mengenai agama-agama yang saat ini dikenal, umumnya masih terdapat perbedaan pendapat, contohnya mengenai agama Yahudi dan agama Kristen, apakah agama Kristen itu merupakan agama yang sama sekali terlepas dari agama Yahudi, ataukah pada hakikatnya agama Kristen dan Injil itu merupakan bagian dari agama Yahudi dan bagian dari hukum-hukum Taurat?
Kenapa demikian? Sebab Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam Injil Matius 5:17-20 dengan tegas menyatakan bahwa beliau datang bukan untuk meniadakan (melenyapkan) hukum Taurat atau kitab para nabi melainkan untuk menggenapinya. Demikian pula menurut Allah Swt. dalam Al-Quran bahwa pada hakikatnya pengutusan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan Injil di kalangan Bani Israil merupakan pelengkap silsilah kenabian Nabi Musa a.s. dan Taurat (QS.2:88-89; QS.61:7), sekaligus menjadi as-Sā’ah (tanda Saat/kiamat) dan misal bagi Bani Israil (QS.43:58-62).
Itulah sebabnya akibat kedurhakaan Bani Israil kepada Nabi Isa ibnu Maryam a.s. (QS.4:158-159; QS.5:79-81) -- dan juga sebagai akibat kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa ibnu Maryam a.s. (QS.5:79-81) -- lalu nikmat kenabian dipindahkan oleh Allah Swt. dari Bani Israil ke Bani Isma’il melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw., hal tersebut sesuai dengan janji Allah Swt. kepada Nabi Ibrahim a.s. mengenai imamat (kepemimpinan umat – QS.2:123-125) dan juga sebagai pengabulan doa Nabi Ibrahim a.s. pada saat membangun kembali Ka’bah bersama dengan Nabi Isma’il a.s. (QS.2: 128-130).
Pendek kata, pada hakikatnya ajaran Injil -- yang lebih menekankan kepada pemaafan -- merupakan pelengkap dari ajaran Taurat yang lebih menekankan kepada hukum pembalasan (QS.5:46-47), yang akibat mengalami masa perbudakan selama 400 tahun di Mesir maka Bani Israil menjadi kaum yang pengecut (QS.5:21-27), kemudian akibat penekanan masalah hukum pembalasan yang diajarkan Taurat mereka telah menjadi kaum yang keras hati dan haus darah, sehingga banyak orang-orang suci yang dibangkitkan di kalangan mereka yang mereka bunuh, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ قَفَّیۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ بِالرُّسُلِ ۫ وَ اٰتَیۡنَا عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ فَفَرِیۡقًا کَذَّبۡتُمۡ ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ ﴿۸۸﴾ وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿۸۹﴾
Dan sesungguhnya Kami memberikan Kitab (Taurat) kepada Musa dan Kami mengikutkan rasul-rasul di belakangnya, dan Kami memberikan kepada Isa ibnu Maryam Tanda-tanda yang nyata serta Kami memperkuatnya dengan Ruhulqudus. Maka apakah setiap datang kepada kamu seorang rasul dengan apa yang tidak disukai oleh dirimu kamu berlaku sombong dan sebagian kamu dustakan dan sebagian lainnya kamu bunuh? Dan mereka berkata: “Hati kami tertutup.” Tidak, bahkan Allah telah mengutuk mereka karena kekafiran mereka maka sedikit sekali mereka yang beriman (Al-Baqarah [2] 88-89). Lihat pula QS.4:156-159; QS.5:46-47.
Demikian pula hubungan antara agama Hindu dengan agama Sikh; hubungan antara agama Hindu dengan agama Bahai, atau pun hubungan antara agama Sikh dengan agama Islam, karena telah ditemukan bukti-bukti bahwa pendiri agama Sikh, yaitu Baba Nanak Sahib, pada masa kemudian dari kehidupannya telah memeluk agama Islam – bahkan telah melaksanakan ibadah hajji ke Baitullah -- sebagaimana yang nampak dari salah satu jubah beliau yang sangat dikeramatkan oleh kaum Sikh, yakni pada “Chola Sahib”, terdapat tulisan-tulisan bahasa Arab seperti tulisan “Lā ilāha illalLāh Muhammadur- rasululLāh” dan lain-lain.
Munculnya Ajaran Syirik & Persamaan “Sepasang Sepatu”
Pada hakikatnya kenyataan seperti itu bukanlah hal yang aneh, sebab merupakan Sunnatullah bahwa agama-agama yang sebelumnya berasal (bersumber) dari Allah Swt. tersebut kemudian seiring dengan masa yang semakin lama para pemeluk agama tersebut semakin jauh dari masa kenabian yang penuh berkat dan hati mereka menjadi keras (QS.5:20; QS.57:17-18), sehingga akibatnya di kalangan para pemeluknya terjadi perbedaan pendapat dan perpecahan menjadi berbagai sekte yang saling bertentangan serta terjadi penyimpangan dari ajaran utamanya -- yaitu Tauhid Ilahi -- menjadi agama yang mengajarkan kemusyrikan .
Berikut firman Allah Swt. mengenai penyimpangan akidah di kalangan agama Yahudi dan Nasrani:
قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿۳۰﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿۳۱﴾ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿۳۲﴾
Dan orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu anak Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih itu anak Allah.” Demikian itulah perkataan mereka dengan mulut mereka. Mereka hanya meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah membinasakan mereka, sangat jauh mereka berpaling. Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan [begitu juga] Al-Masih ibnu Maryam. Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan kecuali Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan. Mereka berkehendak memadamkan Cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan Cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir tidak menyukai (Al-Taubah [9]:30-32). Lihat pula QS.5:18-19 & 73-78.
Firman Allah Swt. ini pun merupakan peringatan bagi umat Islam (QS.6:160; QS.30:31-33; QS.57:17-18), karena menurut Nabi Besar Muhammad saw. keadaan umat Islam pun di masa kemudian akan memiliki persamaan dengan keadaan kaum Yahudi dan Nasrani seperti persamaan sepasang sepatu. Nabi Besar Muhammad saw. bersabda:
“Kamu (umat Islam) niscaya akan mengikuti jejak mereka yang telah mendahului kamu, dalam setiap langkahnya sedemikian rupa sehingga apabila ada di antara mereka yang masuk di lubang biawak kamu pun akan berlaku sama.” [Para sahabat bertanya]: “Ya Rasulallah, apakah yang engkau maksudkan kaum Yahudi dan Nasrani (Kristen)?” Beliau saw. bersabda: “Siapa lagi?” (Bukhari & Muslim).
Beliau saw. bersabda lagi:
“Kaumku akan mengalami kejadian yang sama seperti yang dialami Bani Israil. Mereka akan sedemikian rupa persamaannya satu sama lain seperti persamaan sepasang sepatu. Bani Israil telah pecah menjadi 72 golongan dan kaumku akan pecah menjadi 73 golongan. Semuanya akan dilemparkan ke dalam api, kecuali satu golongan.” Mereka (para Sahabah] bertanya: “Golongan manakah itu?” Beliau saw. bersabda: “Golongan yang akan menjalankan sunnahku dan amal perbuatan para sahabatku” (Tirmidzi).
Bukti kebenaran pernyataan Allah Swt. dalam firman-Nya dalam ayat tersebut -- yakni “Mereka hanya meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu” -- contohnya adalah ajaran Paulus dalam agama Kristen mengenai Trinitas yaitu “Bapa, Anak, Rohul kudus” memiliki persamaan dengan pemahaman orang-orang kafir terdahulu, misalnya Trinitas orang-orang India adalah “Okteu, Nesse, Atahuta.” Trinitas penganut Hindu adalah “Brahma, Wisnu, Syiwa” yang disebut juga “Trimurti”. Trinitas di Mesir Kuno adalah “Isis, Hories, Orisis.” Trinitas orang-orang Yunani adalah “Phanes, Uranos, Kronos” , dan Trinitas orang-orang Romawi adalah “Yupiter, Menerva, Juno.”
Gambaran Hubungan antar Berbagai Agama
Persepsi (anggapan) keliru lainnya mengenai keberadaan agama-agama tersebut adalah hubungan antara satu sama lainnya. Umumnya orang-orang beranggapan bahwa hubungan antar berbagai agama tersebut seperti posisi negara-negara pada peta dunia, yakni negara-negara itu satu sama lain berdampingan dengan batas-batas yang telah ditetapkan, yakni ada kejajaran (kesetaraan) posisi, sehingga muncul anggapan keliru – yakni mengatakan suatu ungkapan peribahasa “banyak jalan lain menuju Roma” – bahwa tujuan akhir semua agama pun adalah menuju Tuhan. Anggapan seperti itu keliru, sebab setiap agama memiliki pemahaman serta persepsi yang berbeda-beda -- bahkan bertentangan -- satu sama lain mengenai “Tuhan” yang hakiki, sebagaimana dikemukakan firman-Nya dalam Surah Al-Taubah ayat 39-32 sebelum ini.
Kenapa demikian? Sebab selaras dengan sifat Rabbubiyyah Allah Swt. – yakni semua ciptaan Allah Swt. mengalami perkembangan secara bertahap menuju kesempurnaan yang telah ditentukan-Nya -- jadi sebagaimana halnya tubuh jasmani manusia mengalami proses pertumbuhan secara bertahap, demikian pula halnya jiwa serta intelektual manusia pun mengalami perkembangan yang sama, hingga akhirnya mencapai tingkat kedewasaan dalam segala seginya.
Itulah sebabnya dalam Bible Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus) menyatakan bahwa sampai dengan masa kedatangan beliau a.s. hukum-hukum syariat masih belum mencapai puncak kesempurnaannya, karena hingga saat itu keadaan jiwa manusia belum mencapai kedewasaannya sehingga belum siap untuk mengamalkannya.
Atas dasar kenyataan itulah Nabi Isa ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus) telah memberitahukan tentang kedatangan “Roh Kebenaran” yang akan memimpin mereka ke dalam “seluruh kebenaran” (Yohanes 16:12-13), yakni kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. atau “Nabi yang seperti Musa” (Ulangan 18:15-19; QS.46:11) dan agama Islam (Al-Quran – QS.5:4). Berikut ucapan Nabi Isa ibnu Maryam a.s. (Yesus Kristus) mengenai hal tersebut:
Masih banyak hal yang harus kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila ia datang, yaitu Roh Kebenaran, ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran, sebab ia tidak akan berkata-kata dari dirinya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarnya itulah yang akan dikatakannya dan ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang (Yohanes 16:12-13).
Sehubungan dengan kenyataan tersebut Allah Swt. berfirman di dalam Al-Quran:
وَ اِذۡ قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ یٰبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اِنِّیۡ رَسُوۡلُ اللّٰہِ اِلَیۡکُمۡ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیَّ مِنَ التَّوۡرٰىۃِ وَ مُبَشِّرًۢا بِرَسُوۡلٍ یَّاۡتِیۡ مِنۡۢ بَعۡدِی اسۡمُہٗۤ اَحۡمَدُ ؕ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ قَالُوۡا ہٰذَا سِحۡرٌ مُّبِیۡنٌ ﴿۷﴾
Dan [ingatlah] ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku rasul Allah kepada kamu menggenapi apa yang ada sebelumnya yaitu Taurat dan memberi kabar gembira tentang seorang Rasul yang akan datang sesudahku namanya Ahmad.” Maka tatkala ia datang kepada mereka dengan bukti-bukti yang nyata mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (Al-Shaf [61]:7).
Demikian pula 14 abad sebelumnya pun Nabi Musa a.s. telah memberitahukan mengenai kedatangan “nabi yang seperti dirinya” (QS.46:11) yang membawa syariat yang paling sempurna, yakni Nabi Besar Muhammad saw.:
Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh Tuhan Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan. Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada Tuhan Allahmu di gunung Horeb, pada hari perkumpulan dengan berkata: “Tidak mau aku mendengar lagi suara Tuhan Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi supaya jangan aku mati.” Lalu berkatalah Tuhan kepadaku: “Apa yang dikatakan mereka itu baik; seorang nabi akau Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka seperti engkau ini; Aku akan menaruh firmanKu dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengarkan segala firmanKu yang akan diucapkan nabi itu demi namaKu, daripadanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.” (Ulangan 18:15-19).
Sesuai dengan pernyataan Taurat tersebut Allah Swt. berfirman dalam Al-Quran mengenai Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ اَرَءَیۡتُمۡ اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ بِہٖ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی مِثۡلِہٖ فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿۱۰﴾
Katakanlah [hai Rasulullah]: “Bagaimana pendapat kamu jika [Al-Quran] ini dari Allah dan kamu tidak percaya kepadanya dan seorang saksi dari antara Bani Israil memberi kesaksian terhadap [kedatangan] seseorang yang semisal [diri]nya kemudian ia beriman, tetapi kamu berlaku takabur?” Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang aniaya (Al-Ahqāf [46]:11).
Firman-Nya lagi:
اِنَّاۤ اَرۡسَلۡنَاۤ اِلَیۡکُمۡ رَسُوۡلًا ۬ۙ شَاہِدًا عَلَیۡکُمۡ کَمَاۤ اَرۡسَلۡنَاۤ اِلٰی فِرۡعَوۡنَ رَسُوۡلًا ﴿ؕ۱۶﴾ فَعَصٰی فِرۡعَوۡنُ الرَّسُوۡلَ فَاَخَذۡنٰہُ اَخۡذًا وَّبِیۡلًا ﴿۱۷﴾ فَکَیۡفَ تَتَّقُوۡنَ اِنۡ کَفَرۡتُمۡ یَوۡمًا یَّجۡعَلُ الۡوِلۡدَانَ شِیۡبَۨا ﴿٭ۖ۱۸﴾
Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu seorang rasul yang menjadi saksi atasmu, sebagaimana Kami telah mengutus seorang rasul kepada Fir’aun, tetapi Fir’aun mendurhakai rasul itu maka Kami menyergap dia dengan sergapan yang sangat dahsyat. Lalu bagaimanakah kamu akan memelihara dirimu jika kamu kafir terhadap hari yang akan menjadikan anak-anak beruban? (Al-Muzzamil [73]:16-18).
Bahkan para ulama Bani Israil pun pun mengetahui nubuatan tentang kedatangan “nabi yang seperti Musa” – yakni Nabi Besar Muhammad saw. serta Al-Quran yang merupakan himpunan “seluruh kebenaran” – bagaikan mengenal anak-anak mereka sendiri (QS.2:147), firman-Nya:
وَ اِنَّہٗ لَتَنۡزِیۡلُ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿۱۹۳﴾ؕ نَزَلَ بِہِ الرُّوۡحُ الۡاَمِیۡنُ ﴿۱۹۴﴾ۙ عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ ﴿۱۹۵﴾ بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ ﴿۱۹۶﴾ؕ وَ اِنَّہٗ لَفِیۡ زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿۱۹۷﴾ اَوَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿۱۹۸﴾ؕ
Dan sesungguhnya [Al-Quran] ini diturunkan oleh Tuhan seluruh alam. Telah turun bersamanya Ruh yang terpercaya (Jibril) atas kalbu engkau, supaya engkau termasuk di antara para pemberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas, dan sesungguhnya benar-benar [Al-Quran tercantum] dalam Kitab-kitab terdahulu. Dan tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun mengetahuinya? (Al-Syu’arā [26]:193-198).
Tingkat-tingkat Pendidikan & Makna kata Rabb dan al-‘Ālamin
Oleh karena itu – selaras dengan sifat Rabbubiyyah Allah Swt. – gambaran yang benar hubungan antara agama-agama yang diturunkan sebelum Islam dengan agama Islam adalah seperti hubungan suatu jenjang pendidikan sekolah, mulai dari Sekolah Dasar sampai dengan Perguruan Tinggi (Universitas).
Semua jenjang pendidikan tersebut memiliki pelajaran dasar yang sama dalam kurikulum pendidikannya, yaitu mengajarkan huruf dan angka -- yakni haququlLāh (hablun-minalLāh) dan haququl ‘ibād (hablun-minannās). Ada pun perbedaan dua mata pelajaran pokok (dasar) pada setiap tingkatan pendidikan tersebut hanyalah dalam kuantitas dan kualitas pengembangan huruf dan angka tersebut menjadi berbagai macam kurikulum mata pelajaran, misalnya pelajaran: bahasa, matematika, kimia, dan lain-lain, yang selanjutnya berkembang lagi menjadi berbagai jurusan dan bidang pendidikan di lingkungan Perguruan Tinggi (universitas) seperti: ekonomi,sosial, politik, pertanian, perikanan, pelayaran, penerbangan, kedokteran, filsafat, seni, teknik, kimia, fisika, psikologi, dan berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan lainnya.
Perkembangan berbagai macam mata pelajaran atau kurikulum tersebut terus berlanjut selaras dengan semakin berkembangnya akal dan intelektual manusia serta iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), serta dengan semakin terbukanya rahasia-rahasia berbagai macam ilmu pengetahuan baru lainnya.
Selaras dengan terjadinya proses penyempurnaan hukum-hukum syariat tersebut, Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah ayat 2 berfirman:
اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿۲﴾
“Segala puji bagi Allah Rabb (Tuhan) seluruh alam”.
Kata kerja rabba berarti: ia mengelola urusan itu; ia memperbanyak, mengembangkan, memperbaiki, dan melengkapkan urusan itu; ia memelihara dan menjaga. Jadi Rabb berarti: (a) Tuhan, Yang Dipertuan, Khāliq (Yang menciptakan); (b) Wujud Yang memelihara dan mengembangkan; (c) Wujud Yang menyempurnakan, dengan cara setingkat demi setingkat (Al-Mufradat oleh Imam Raghib; Arabic – English Lexicon oleh E.W. Lane). Dan jika dipakai dalam rangkaian dengan kata lain, kata rabba itu dapat dipakai untuk orang atau wujud selain Allāh Swt. (QS.12:51).
Al-’ālamīn adalah jamak dari al-’alam, berasal dari akar kata ‘ilm yang berarti “mengetahui.” Kata itu bukan saja telah dikenakan kepada semua wujud atau benda yang dengan sarana itu orang dapat mengetahui Al-Khāliq - Maha Pencipta (Aqrab al Mawarid), kata tersebut dikenakan bukan saja kepada segala macam wujud atau benda yang dijadikan, tetapi pula kepada golongan-golongannya secara kolektif, sehingga orang berkata ‘alamul-ins, artinya: alam manusia atau ‘alam-ul-hayawan yakni alam binatang.
Kata al-’ālamīn tidak hanya dipakai untuk menyebut wujud-wujud berakal — manusia dan malaikat — saja, Al-Quran pun mengenakannya kepada semua benda yang diciptakan (QS.26:24-29 dan QS.41:10). Akan tetapi tentu saja kadang-kadang kata itu dipakai dalam arti yang terbatas (QS.2:123). Di sini kata itu dipakai dalam arti yang seluas-luasnya dan mengandung arti “segala sesuatu yang ada selain Allah” yakni benda-benda berjiwa dan tidak berjiwa dan mencakup juga benda-benda langit — matahari, bulan, bintang, dan sebagainya.
Ungkapan “Segala puji bagi Allah” lebih luas dan lebih mendalam artinya daripada “Aku memuji Allah”, sebab manusia hanya dapat memuji Allah Swt. menurut pengetahuannya, sedangkan anak kalimat “Segala puji bagi Allah” meliputi bukan saja puji-pujian yang diketahui manusia bahkan juga puji-pujian yang tidak diketahuinya. Allah Swt. layak mendapat puji-pujian setiap waktu, terlepas dari pengetahuan atau kesadaran manusia yang tidak sempurna.
Tambahan pula, kata al-hamd adalah masdar dan karena itu dapat diartikan kedua-duanya, sebagai pokok kalimat atau sebagai tujuan kalimat. Diartikan sebagai pokok, Al-hamdulillāhi berarti hanya Allah Swt. sajalah Yang berhak memberikan pujian sejati; dan diartikan secara tujuan kalimat, Alhamdulillāhi berarti bahwa segala pujian sejati dan tiap-tiap macam pujian yang sempurna hanya layak bagi Allah Swt. semata-mata:
اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿۲﴾
“Segala puji bagi Allah Rabb (Tuhan) seluruh alam”.
Ayat ini menunjuk kepada hukum evolusi di dunia, artinya bahwa segala sesuatu mengalami perkembangan dan bahwa perkembangan itu terus-menerus — dan terlaksana secara bertahap. Rabb adalah Wujud Yang membuat segala sesuatu tumbuh dan berkembang setingkat demi setingkat. Ayat itu menjelaskan pula bahwa prinsip evolusi tidak bertentangan dengan kepercayaan kepada Allah Swt..
Tetapi proses evolusi yang disebut di sini, tidak sama dengan teori evolusi seperti biasanya diartikan, sebagaimana teori evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin bahwa manusia berasal dari kera, padahal manusia adalah makhluk dari golongan ’alam- al-insān sedangkan kera adalah dari golongan ‘alam- al-hayawan.
Selanjutnya ayat ini menunjuk kepada kenyataan bahwa manusia dijadikan untuk kemajuan tidak terbatas, sebab ungkapan Rabb-ul-’ālamīn itu mengandung arti bahwa Allāh Swt. mengembangkan segala sesuatu dari tingkatan rendah kepada yang lebih tinggi, dan hal itu hanya mungkin jika tiap-tiap tingkatan itu diikuti oleh tingkatan lain dalam proses yang tidak ada henti-hentinya (QS.23:18; QS.72:12).
Kembali kepada masalah pengembangan huruf dan angka dalam dunia pendidikan, sehingga menjadi berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), menurut Allah dalam Al-Quran perkembangan iptek tersebut tidak akan pernah ada akhirnya, sebagaimana firman-Nya:
وَ لَوۡ اَنَّ مَا فِی الۡاَرۡضِ مِنۡ شَجَرَۃٍ اَقۡلَامٌ وَّ الۡبَحۡرُ یَمُدُّہٗ مِنۡۢ بَعۡدِہٖ سَبۡعَۃُ اَبۡحُرٍ مَّا نَفِدَتۡ کَلِمٰتُ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿۲۷﴾
Dan seandainya pohon apa pun yang ada di bumi ini menjadi pena dan lautan ditambah dibantu (ditambah) sesudahnya dengan tujuh lautan [menjadi tinta], kalimat Allah sekali-kali tidak akan habis. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana (Luqman [31]:28). Lihat pula QS.18:110.
Oleh karena itu sungguh rugi jika manusa – baik secara perorangan mau pun sebagai suatu bangsa – menghabiskan seluruh waktu kehidupannya hanya untuk sekedar melakukan penyelidikan serta eksplorasi tentang kesempurnaan tatanan alam semesta dan semata-mata untuk memperoleh keuntungan materi darinya, tetapi tidak berusaha untuk mengenal kesempurnaan Sifat-sifat Penciptanya yakni Allah Swt..
Hubungan Agama Islam dengan Agama-agama Sebelumnya & Kesempurnaan Agama Islam (Al-Quran)
Seperti itu pulalah hubungan antara agama Islam (Al-Quran) dengan agama-agama dan kitab-kitab suci yang diturunkan sebelumnya – khususnya dengan agama Yahudi (Taurat) dan Nasrani (Injil) -- memiliki 2 ajaran pokok yang sama yakni (1) haququlLāh (hamblun-minalLāh) dan (2) haququl ‘ibād (hablun- minan- nās). Oleh karena itu bukanlah suatu hal yang mengherankan apabila terdapat berbagai persamaan di dalam hukum-hukum (aturan-aturan) yang terdapat pada agama-agama yang diturunkan sebelum Islam dengan hukum-hukum dalam agama Islam.
Logikanya sama dengan masalah huruf dan angka dalam dunia pendidikan, karena sebagaimana halnya pola dasar dari pakaian yang dibuat untuk anak kecil dan untuk orang dewasa adalah sama – yang membedakannya hanyalah ukuran serta potongan (model) yang sesuai dengan perkembangan tubuh manusia -- demikian pula halnya dengan keadaan agama-agama yang diturunkan sebelum agama Islam (Al-Quran) dengan agama Islam banyak memiliki persamaan dalam ajaran-ajaran pokoknya.
Ada pun yang berbeda adalah mengenai kualitas serta kualitas hukum-hukum agama tersebut, yakni proses penyempurnaan hukum-hukum syariat tersebut telah mencapai puncak kesempurnaannya dalam agama Islam (Al-Quran), firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Kusempurnakan agama kamu bagimu dan telah Ku-lengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan telah Ku-sukai bagi kamu Islam sebagai agama (Al-Ma’idah [5]:4).
Sehubungan dengan contoh mengenai “pakaian “ itu pulalah Allah Swt. di dalam Al-Quran telah menyebut ketakwaan – yang merupakan buah (hasil) dari pengamalan hukum-hukum agama secara benar – dengan sebutan “libāsut-taqwā” (pakaian takwa), firman-Nya:
یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ قَدۡ اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡکُمۡ لِبَاسًا یُّوَارِیۡ سَوۡاٰتِکُمۡ وَ رِیۡشًا ؕ وَ لِبَاسُ التَّقۡوٰی ۙ ذٰلِکَ خَیۡرٌ ؕ ذٰلِکَ مِنۡ اٰیٰتِ اللّٰہِ لَعَلَّہُمۡ یَذَّکَّرُوۡنَ ﴿۲۶﴾
Wahai Bani Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu pakaian penutup auratmu sebagai perhiasan, dan pakaian takwa itulah yang terbaik. Hal demikian itu sebagian dari Tanda-tanda Allah supaya mereka mendapat nasihat (Al-A’rāf [7]:27).
Oleh karena itu jika setelah agama Islam (Al-Quran) diturunkan kepada Nabi Besar Muhammad saw. yang missi kerasulannya untuk seluruh umat manusia (QS.7:159; QS21:108; QS.25:2; QS.34:29) tetapi umat manusia memilih agama-agama yang diturunkan sebelum agama Islam maka keadaannya sama dengan orang dewasa memaksakan diri memakai pakaian anak kecil, sehingga agar pakaian kecil tersebut nyaman dipakai maka agama-agama tersebut terpaksa para pemuka agama-agama tersebut harus melakukan berbagai macam perombakan dalam segala sesuatunya.
Kenyataan itulah yang terjadi dalam agama-agama yang diturunkan sebelum agama Islam (QS.2:43 & 79-80), padahal wewenang untuk melakukan penyempurnaan terhadap hukum-hukum agama sepenuhnya adalah hak Allah Swt.. Mengisyaratkan kepada proses penyem-purnaan hukum-hukum syariat secara bertahap itulah firman-Nya berikut ini:
مَا نَنۡسَخۡ مِنۡ اٰیَۃٍ اَوۡ نُنۡسِہَا نَاۡتِ بِخَیۡرٍ مِّنۡہَاۤ اَوۡ مِثۡلِہَا ؕ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿۱۰۶﴾ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ لَہٗ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ مَا لَکُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ مِنۡ وَّلِیٍّ وَّ لَا نَصِیۡرٍ ﴿۱۰۷﴾
Ayat mana pun yang Kami mansukhkan (hapuskan) atau Kami biarkan terlupa, Kami datangkan yang lebih baik darinya atau yang semisalnya. Tidak tahukah engkau bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? Tidak tahukan engkau sesungguhnya kepunyaan-Nya Kerajaan seluruh langit dan bumi. Dan tidak ada bagi kamu selain Allah pelindung dan penolong (Al-Baqarah [2]:107-108).
Ada kekeliruan dalam mengambil kesimpulan dari ayat ini bahwa beberapa ayat Al-Quran telah dimansukhkan (dibatalkan). Kesimpulan itu jelas salah dan tidak beralasan. Tidak ada sesuatu dalam ayat ini yang menunjukkan bahwa kata āyah itu maksudnya ayat-ayat Al-Quran, sebab dengan tegas Allah Swt. menyatakan bahwa Allah Swt. memelihara semua wahyu Al-Quran yang diwahyukan-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.15:10).
Dalam ayat sebelum dan sesudahnya telah disinggung mengenai Ahlul Kitab dan kedengkian mereka terhadap wahyu baru yang menunjukkan bahwa āyah yang disebut dalam ayat ini sebagai mansukh (batal) menunjuk kepada wahyu-wahyu terdahulu. Dijelaskan bahwa Kitab Suci terdahulu mengandung dua macam perintah (hukum): (a) yang menghendaki penghapusan karena keadaan sudah berubah dan karena keuniversilan wahyu baru itu menghendaki pembatalan; (b) yang mengandung kebenaran kekal-abadi, atau memerlukan penyegaran kembali sehingga orang dapat diingatkan kembali akan kebenaran yang terlupakan, karena itu perlu sekali menghapuskan bagian-bagian tertentu Kitab-kitab Suci itu serta mengganti dengan perintah-perintah baru dan pula menegakkan kembali perintah-perintah yang sudah hilang, maka Allah Swt. menghapuskan beberapa bagian wahyu-wahyu terdahulu, menggantikannya dengan yang baru dan lebih baik, dan di samping itu memasukkan lagi bagian-bagian yang hilang dengan yang sama. Itulah arti yang sesuai dan cocok dengan konteks (letak) ayat ini dan dengan jiwa umum ajaran Al-Quran.
Al-Quran telah membatalkan semua Kitab Suci sebelumnya, sebab — mengingat keadaan umat manusia telah berubah — Al-Quran membawa syariat baru yang bukan saja lebih baik daripada semua syariat lama, tetapi ditujukan pula kepada seluruh umat manusia dari semua zaman. Ajaran yang lebih rendah dengan lingkup tugas yang terbatas harus memberikan tempatnya kepada ajaran yang lebih baik dan lebih tinggi dengan lingkup tugas universal.
Dalam ayat ini kata nansakh (Kami membatalkan) bertalian dengan kata bi-khairin (yang lebih baik), dan kata nunsiha (Kami biarkan terlupakan) bertalian dengan kata bi-mitslihā (yang semisalnya), maksudnya bahwa jika Allāh Swt. menghapuskan sesuatu maka Dia menggan-tikannya dengan yang lebih baik, dan bila untuk sementara waktu Dia membiarkan sesuatu dilupakan orang, Dia menghidupkannya kembali pada waktu yang lain.
Diakui oleh ulama-ulama Yahudi sendiri bahwa sesudah bangsa Yahudi diangkut sebagai tawanan ke Babilonia oleh Nebukadnezar, seluruh Taurat (lima Kitab Nabi Musa a.s.) telah hilang (Encyclopaedia Biblica).
Tantangan Untuk Membuat Tandingan Al-Quran
Dengan demikian jelaslah bahwa semua tuduhan yang mengatakan bahwa Al-Quran bukan Kitab suci yang berasal dari Allah Swt. melain merupakan kitab yang dibuat-buat oleh Nabi Besar Muhammad saw. dengan bantuan “kaum lain” (QS.16:104; QS.25:5-7) sama sekali tidak benar, untuk itu Allah Swt. telah mengajukan tantangan kepada para penentang Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran untuk membuat walau pun hanya satu Surah yang seperti Al-Quran, firman-Nya:
وَ اِنۡ کُنۡتُمۡ فِیۡ رَیۡبٍ مِّمَّا نَزَّلۡنَا عَلٰی عَبۡدِنَا فَاۡتُوۡا بِسُوۡرَۃٍ مِّنۡ مِّثۡلِہٖ ۪ وَ ادۡعُوۡا شُہَدَآءَکُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿۲۵﴾ فَاِنۡ لَّمۡ تَفۡعَلُوۡا وَ لَنۡ تَفۡعَلُوۡا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِیۡ وَقُوۡدُہَا النَّاسُ وَ الۡحِجَارَۃُ ۚۖ اُعِدَّتۡ لِلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿۲۶﴾
Dan jika kamu dalam keraguan tentang apa yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami maka buatlah satu Surah yang semisalnya dan ajaklah pembantu-pembantu kamu selain Allah jika kamu memang orang-orang yang benar (Al-Baqarah [2]:26).
Masalah keindahan Al-Quran yang tidak ada bandingannya telah dibicarakan pada 5 tempat yang berlainan, yaitu dalam QS.2:24; QS.10:39; QS.11:14; QS.17: 89; dan QS.52:34, 35. Dalam dua dari kelima ayat itu (QS.2:24 dan QS.10:39) tantangannya serupa, sedang dalam 3 ayat lainnya 3 tuntutan terpisah dan berbeda telah dimintakan dari kaum kafir.
Sepintas lalu perbedaan dalam bentuk tantangan di tempat yang berlainan itu nampaknya seolah-olah tidak sama. Tetapi keadaan yang sebenarnya tidak demikian. Pada hakikatnya ayat-ayat itu mengandung tuntutan-tuntutan tertentu yang berlaku untuk selama-lamanya. Tantangan itu berlaku bahkan hingga sekarang juga dalam semua bentuk yang berbeda-beda itu, seperti tertera dalam Al-Quran sebagaimana dahulu berlaku di zaman Nabi Besar Muhammad saw..
Sebelum menerangkan berbagai bentuk tantangan itu, baiklah diperhatikan bahwa disebutnya tantangan-tantangan dalam Al-Quran senantiasa disertai oleh pembicaraan mengenai harta kekayaan dan kekuasaan, kecuali dalam ayat ini seperti telah dinyatakan di atas, tidak berisikan tantangan baru tetapi hanya mengulangi tantangan yang dikemukakan dalam QS.10:39.
Dari kenyataan itu dapat diambil kesimpulan dengan aman bahwa ada perhubungan erat antara perkara kekayaan dan kekuasaan dengan tantangan untuk membuat kitab seperti Al-Quran atau sebagiannya. Perhubungan itu terletak dalam kenyataan bahwa Al-Quran ditawarkan kepada orang-orang kafir sebagai khazanah yang sangat berharga.
Ketika orang-orang kafir meminta kekayaan yang bersifat kebendaan (material) dari Nabi Besar Muhammad saw. (QS.11:13), mereka diberi penjelasan bahwa beliau mempunyai kekayaan yang tidak ada bandingannya dalam bentuk Al-Quran. Dan ketika mereka bertanya: “Mengapakah tidak diturunkan kepadanya suatu khazanah atau datang bersamanya seorang malaikat?” (QS.11:13), dikatakan kepada mereka sebagai jawaban bahwa para malaikat memang telah turun kepada beliau saw. sebab tugas mereka adalah membawa firman Allāh Swt. dan memang firman itu telah dilimpahkan kepada beliau.
Jadi kedua tuntutan untuk harta kekayaan dan untuk turunnya para malaikat telah bersama-sama dipenuhi oleh Al-Quran yang merupakan khazanah yang tidak ada tara bandingannya diturunkan oleh para malaikat, dan tantangan untuk membuat semisalnya diajukan sebagai bukti keagungannya yang tiada taranya.
Hikmah Berbagai Tantangan yang Berbeda
Sekarang mari kita bahas berbagai ayat yang berisi tantangan itu satu persatu. Tuntutan terbesar telah dibuat pada QS.17:89 yang di dalamnya orang-orang kafir diminta untuk membuat kitab seperti Al-Quran seutuhnya dengan segala sifatnya yang beraneka-ragam itu. Dalam ayat itu orang-orang kafir tidak diminta mengemukakan buatan mereka seperti Kalamullāh. Mereka boleh mengajukannya sebagai gubahannya sendiri, dan menyatakannya sama atau lebih baik daripada Al-Quran.
Tetapi oleh karena pada waktu tantangan itu dibuat Al-Quran belum seluruhnya diwahyukan maka orang-orang kafir tidak diminta untuk mendatangkan tandingan Al-Quran pada waktu itu juga, sehingga dengan demikian tantangan tersebut berisikan nubuatan bahwa mereka tidak akan mampu membuat yang serupanya, tidak dalam bentuk yang ada pada waktu itu dan tidak pula sesudah Al-Quran menjadi lengkap. Lagi pula tantangan itu tidak terbatas kepada orang-orang kafir di zaman Nabi Besar Muhammad saw. saja, tetapi meluas kepada semua orang yang ragu-ragu dan menaruh keberatan di setiap zaman.
Alasan mengapa orang-orang kafir dalam QS.11:14 diminta membuat hanya 10 Surah saja dan bukan seluruh Al-Quran adalah karena persoalan dalam ayat itu tidak bertalian dengan kesempurnaan Al-Quran seutuhnya dalam segala segi, melainkan hanya dengan sebagian saja. Orang-orang kafir telah menuduh bahwa beberapa bagiannya cacat. Oleh karena itu mereka tidak diminta membuat kitab yang lengkap seperti Al-Quran seutuhnya melainkan hanya 10 Surah sebagai ganti bagian-bagian Al-Quran yang dianggap mereka cacat agar kebenaran dari pernyataan mereka dapat diuji.
Adapun mengenai pemilihan jumlah khusus 10 untuk tujuan itu, baik diperhatikan di sini, bahwa oleh karena dalam QS.17:89 Al-Quran seutuhnya didakwakan sebagai Kitab yang sempurna, maka para penentangnya diminta membuat yang serupa seutuhnya, tetapi karena dalam QS.11:14 pokok persoalannya ialah bagian-bagiannya yang tertentu dicela maka mereka diminta memilih sepuluh bagian demikian yang nampaknya kepada mereka sangat cacat dan kemudian membuat suatu gubahan yang seperti bagian-bagian yang dicela itu.
Dalam QS.10:39 orang-orang kafir diminta membuat yang serupa dengan hanya satu Surah Al-Quran. Hal itu disebabkan bahwa berlainan dengan dua ayat tersebut di atas, tantangan dalam ayat itu berupa dukungan pada pengakuan Al-Quran sendiri dan bukan sebagai bantahan terhadap suatu tuduhan dari orang-orang kafir. Dalam QS.10:38 Al-Quran mendakwakan memiliki 5 sifat yang menonjol. Sebagai dukungan kepada pengakuan tersebut ayat QS.10:39 mengajukan tantangan kepada mereka yang menolak atau meragukannya untuk membuat satu Surah saja, yang mengandung sifat-sifat itu sama sempurnanya seperti yang ada dalam Surah ke-10.
Tantangan kelima ialah agar membuat tandingan Al-Quran seperti terkandung dalam ayat ini (QS.2:24), dan di sini pun seperti dalam QS.10:39 orang-orang kafir diminta mengemukakan satu Surah yang serupa dengan salah satu Surah Al-Quran. Tantangan ini didahului oleh pengakuan bahwa Al-Quran membimbing orang-orang bertakwa ke tingkat-tingkat tertinggi kemajuan ruhani. Orang-orang kafir diseru bahwa bila mereka ada dalam keraguan mengenai berasalnya Al-Quran dari Allāh Swt. maka mereka hendaknya menampilkan satu Surah yang kiranya dapat menandinginya dalam pengaruh ruhani terhadap para pengikutnya.
Keterangan-keterangan di atas memperlihatkan bahwa semua tantangan yang menyeru orang-orang kafir membuat buku sebagai tandingan Al-Quran itu berbeda sekali dan terpisah dari satu sama lain, dan semuanya berlaku untuk sepanjang zaman, tidak ada yang melebihi atau membatalkan yang lain. Tetapi karena Al-Quran itu mengandung gagasan-gagasan yang mulia dan agung, maka tidak dapat tidak sudah seharusnya dipilih kata-kata yang sangat indah dan tepat serta gaya bahasa yang paling murni, sebagai wahana untuk membawakan gagasan-gagasan itu, sebab jika tidak demikian maka pokok pembahasannya mungkin akan tetap gelap dan penuh keragu-raguan, dan keindahan paripurna Al-Quran niscaya akan ternoda, firman-Nya:
وَ لَوۡ جَعَلۡنٰہُ قُرۡاٰنًا اَعۡجَمِیًّا لَّقَالُوۡا لَوۡ لَا فُصِّلَتۡ اٰیٰتُہٗ ؕ ءَؔاَعۡجَمِیٌّ وَّ عَرَبِیٌّ ؕ قُلۡ ہُوَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ہُدًی وَّ شِفَآءٌ ؕ وَ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ وَقۡرٌ وَّ ہُوَ عَلَیۡہِمۡ عَمًی ؕ اُولٰٓئِکَ یُنَادَوۡنَ مِنۡ مَّکَانٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿٪۴۴﴾
Dan seandainya Kami menjadikannya Al-Quran dalam bahasa asing niscaya mereka akan berkata: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya? Apakah [patut Al-Quran] dalam bahasa asing sedang [rasul itu] orang Arab?” Katakanlah: “[Al-Quran] itu bagi orang-orang yang beriman sebagai petunjuk dan penyembuh.” Dan orang-orang yang tidak beriman dalam telinga mereka ada sumbatan, dan [Al-Quran] itu kebutaan bagi mereka. Mereka akan dipanggil dari tempat yang sangat jauh. (Al-Fushshilat [41]:45).
Pendek kata, dalam bentuk dan segi apa pun orang-orang kafir telah ditantang untuk mengemukakan suatu gubahan seperti Al-Quran, tuntutan akan keindahan gaya bahasa dan kecantikan pilihan kata-katanya yang setanding dengan Al-Quran, merupakan pula bagian tantangan itu. Namun dengan tegas Allah Swt. menyatakan bahwa mereka tidak dapat melakukannya, dan jika memaksa melaksanakan kehidupannya dengan cara-cara yang bertentangan dengan Al-Quran maka sebagai akibatnya api neraka jahannam akan berkobar di dunia ini juga, firman-Nya:
فَاِنۡ لَّمۡ تَفۡعَلُوۡا وَ لَنۡ تَفۡعَلُوۡا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِیۡ وَقُوۡدُہَا النَّاسُ وَ الۡحِجَارَۃُ ۚۖ اُعِدَّتۡ لِلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿۲۶﴾
Tetapi jika kamu tidak dapat membuat[nya], dan kamu tidak akan dapat membuat[nya] maka takutlah kamu akan Api yang bahan bakarnya manusia dan batu, disediakan untuk orang-orang kafir (Al-Baqarah [2]:25).
Atas dasar itulah Allah Swt. dengan tegas menyatakan pula mengenai pentingnya memeluk agama Islam dan beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿۸۶﴾
Dan barangsiapa mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima darinya dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi (Āli ‘Imran [3]:86).
Kenapa demikian? Sebab jika tidak maka keadaannya adalah seperti manusia yang karena sudah memiliki kemampuan yang memadai untuk menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi (universitas) tetapi ia memilik jenjang pendidikan yang di bawahnya (SD, SLTP, SLTA) maka perbuatan bodoh tersebut hanya akan merugikan dirinya sendiri.
Namun walaupun demikian tetapi Allah Swt. telah mewajibkan kepada umat Islam bukan saja harus beriman kepada Al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad saw. tetapi juga harus beriman (mempercayai) Kitab-kitab suci yang telah diturunkan sebelum Al-Quran kepada para rasul Allah terdahulu (QS.2:2-5), yang membuktikan bahwa Allah Swt. pernah mengutus rasul-rasul-Nya kepada semua kaum (QS.13:8; QS.35:25) sebagaimana telah dikemukakan pada awal Bab ini, firman-Nya:
اٰمَنَ الرَّسُوۡلُ بِمَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مِنۡ رَّبِّہٖ وَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ؕ کُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ کُتُبِہٖ وَ رُسُلِہٖ ۟ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ ۟ وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا ٭۫ غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ ﴿۲۸۵﴾
Rasul ini beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan [begitu juga] orang-orang beriman, semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya [mereka berkata]: “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun Rasul-rasul-Nya”, dan mereka berkata: “Kami dengar dan kami taat. Ya Tuhan kami, kami mohon ampunan Engkau dan kepada Engkau-lah kami kembali” (Al-Baqarah [2]:286).
Kesimpulan
Demikianlah uraian ringkas mengenai gambaran yang benar mengenai hubungan antara agama Islam (Al-Quran) dengan agama-agama dan kitab-kitab suci sebelumnya, atau gambaran hubungan antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan para rasul Allah yang diutus sebelum beliau saw., yaitu seperti hubungan setiap tingkatkan pendidikan di dunia pendidikan, atau seperti bentuk dasar pakaian yang terus menerus mengalami penyempurnaan sehingga menjadi pakaian layak dipakai orang dewasa, atau seperti sungai-sungai yang bermuara ke lautan yang luas tak bertepi, jadi tidak ada alasan bagi manusia untuk menyatakan bahwa semua agama sama saja karena menuju kepada satu tujuan yang sama, yakni Allah Swt., firman-Nya:
اِنَّاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ بِالۡحَقِّ بَشِیۡرًا وَّ نَذِیۡرًا ؕ وَ اِنۡ مِّنۡ اُمَّۃٍ اِلَّا خَلَا فِیۡہَا نَذِیۡرٌ ﴿۲۴﴾ وَ اِنۡ یُّکَذِّبُوۡکَ فَقَدۡ کَذَّبَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۚ جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُہُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ وَ بِالزُّبُرِ وَ بِالۡکِتٰبِ الۡمُنِیۡرِ ﴿۲۵﴾ ثُمَّ اَخَذۡتُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَکَیۡفَ کَانَ نَکِیۡرِ ﴿٪۲۶﴾
Sesungguhnya Kami mengutus engkau dengan haq (kebenaran) sebagai pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan. Dan tidak ada satu kaum pun melainkan telah diutus kepada mereka seorang pemberi peringatan. Dan jika mereka mendustakan engkau maka sungguh orang-orang sebelum mereka pun telah mendustakan. Telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan Tanda-tanda yang jelas dan dengan Kitab yang menerangi, kemudian Aku tangkap orang-orang yang kafir, dan betapa [mengerikan akibat] penolakan terhadap-Ku (Al-Fathir [35]:25).
(Bersambung)
assalamu 'alaikum Ki Langlang Buana.. saya ikut membacanya dan minta ijin untuk copy paste.. atas izinnya saya haturkan jazakallahu khoiron ahsanal jaza
BalasHapus