Rabu, 17 Agustus 2011

Tidak Ada Paksaan Untuk Memeluk Agama Islam

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

MENGAPA AGAMA DAN SEKTE AGAMA DI DUNIA BERMACAM-MACAM?

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

BAB VII (Tamat)

TIDAK ADA PAKSAAN UNTUK MEMELUK AGAMA ISLAM

لَاۤ اِکۡرَاہَ فِی الدِّیۡنِ ۟ۙ قَدۡ تَّبَیَّنَ الرُّشۡدُ مِنَ الۡغَیِّ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بِالطَّاغُوۡتِ وَ یُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰہِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَکَ بِالۡعُرۡوَۃِ الۡوُثۡقٰی ٭ لَا انۡفِصَامَ لَہَا ؕ وَ اللّٰہُ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿۲۵۷

Tidak ada paksaan dalam agama, sesungguhnya jalan benar itu nyata [bedanya] dari kesesatan, dan barangsiapa menolak [ajakan] orang-orang yang sesat dan beriman kepada Allah, sesungguhnya ia telah berpegang pada suatu pegangan yang kuat lagi tak kenal putus, dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Al-Baqarah [2]:257.

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, guna menyempurnakan tergenapinya nubuatan (kabar gaib) dalam Surah Bani Israil ayat 2 mengenai “Isra” Nabi Besar Muhammad saw. dari Masjidil-Haram ke Masjidil Aqsha -- maka Khalifah Umar bin Khaththab r.a. membangun Masjid Al-Aqsha di kota suci Yerusalem. Dan pada masa itu Khalifah Umar bin Khaththab r.a. memberikan kebebasan kepada penduduk Palestina yang memeluk agama Kristen untuk tetap melaksanakan peribadahannya, sehingga agama Islam sebagai agama yang penuh kedamaian serta missi kenabian Nabi Besar Muhammad saw. sebagai Rahmatan lil ‘alamin benar-benar terbukti, firman-Nya:

کُنۡتُمۡ خَیۡرَ اُمَّۃٍ اُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ تَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ وَ تُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ ؕ وَ لَوۡ اٰمَنَ اَہۡلُ الۡکِتٰبِ لَکَانَ خَیۡرًا لَّہُمۡ ؕ مِنۡہُمُ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ وَ اَکۡثَرُہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿۱۱۱

Kamu adalah umat terbaik dibangkitkan demi [kebaikan umat] manusia, kamu menyuruh berbuat kebaikan dan melarang berbuat keburukan, dan beriman kepada Allah. Dan seandainya Ahli Kitab beriman niscaya akan lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman tetapi kebanyakan mereka orang-orang fasiq (Ali ‘Imran [3]:111).

Firman-Nya lagi:

وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنٰکُمۡ اُمَّۃً وَّسَطًا لِّتَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ وَ یَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ عَلَیۡکُمۡ شَہِیۡدًا ؕ وَ مَا جَعَلۡنَا الۡقِبۡلَۃَ الَّتِیۡ کُنۡتَ عَلَیۡہَاۤ اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ یَّتَّبِعُ الرَّسُوۡلَ مِمَّنۡ یَّنۡقَلِبُ عَلٰی عَقِبَیۡہِ ؕ وَ اِنۡ کَانَتۡ لَکَبِیۡرَۃً اِلَّا عَلَی الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُضِیۡعَ اِیۡمَانَکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِالنَّاسِ لَرَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿۱۴۴

Demikianlah Kami menjadikan kamu umat yang mulia supaya kamu menjadi penjaga manusia agar Rasul menjadi penjaga kamu. Dan Kami tidak menjadikan kiblat yang kepadanya dahulu engkau berkiblat melainkan supaya Kami mengetahui orang yang mengikuti Rasul dari orang yang berpaling atas tumitnya. Dan sungguh hal [perpindahan kiblat] ini berat kecuali bagi orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kamu, sesungguhnya Allah Maha benar-benar Maha Pengasih, Maha Penyayang atas manusia (Al Baqarah [2]:144).

Ketika “negeri yang dijanjikan” (Kanaan/Palestina) jatuh ke dalam kekuasaan umat Islam, saat itu tidak ada pembantaian atas orang-orang Kristen dan tidak pula ada pemaksaan kepada mereka untuk menerima agama Islam dan dan beriman Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:

لَاۤ اِکۡرَاہَ فِی الدِّیۡنِ ۟ۙ قَدۡ تَّبَیَّنَ الرُّشۡدُ مِنَ الۡغَیِّ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بِالطَّاغُوۡتِ وَ یُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰہِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَکَ بِالۡعُرۡوَۃِ الۡوُثۡقٰی ٭ لَا انۡفِصَامَ لَہَا ؕ وَ اللّٰہُ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿۲۵۷

Tidak ada paksaan dalam agama, sesungguhnya jalan benar itu nyata [bedanya] dari kesesatan, dan barangsiapa menolak [ajakan] orang-orang yang sesat dan beriman kepada Allah, sesungguhnya ia telah berpegang pada suatu pegangan yang kuat lagi tak kenal putus, dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Al-Baqarah [2]:257. Lihat pula QS.10:100; QS.11”119; QS.18:30; QS.76:4.

Firman-Nya lagi:

وَ اِنۡ اَحَدٌ مِّنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ اسۡتَجَارَکَ فَاَجِرۡہُ حَتّٰی یَسۡمَعَ کَلٰمَ اللّٰہِ ثُمَّ اَبۡلِغۡہُ مَاۡمَنَہٗ ؕ ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ قَوۡمٌ لَّا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿۶

Dan jika salah seorang musyrik meminta perlindungan kepada engkau, berilah ia perlindungan sehingga ia dapat mendengar firman Allah, kemudian [jika tetap tidak mau beriman] sampaikanlah dia ke tampatnya yang aman. Hal itu karena mereka kaum yang tidak mengetahui (Al-Taubah [9]:6).

Dua Kali Peristiwa Pengusiran Bani Israil dari “Negeri yang Dijanjikan

Demikianlah sekilas hubungan antara firman-Nya mengenai peristiwa Isra Nabi Besar Muhammad saw. dengan dua kali pengusiran Bani Israil dari “negeri yang dijanjikan” (Kanaan/Palestina) , yang juga sekaligus sebagai nubuatan serta peringatan terhadap umat Islam mengenai akan terjadinya peristiwa yang sama di kalangan mereka, firman-Nya:

وَ قَضَیۡنَاۤ اِلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ وَ لَتَعۡلُنَّ عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿۵ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ عِبَادًا لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا ﴿۶

Dan telah Kami tetapkan atas Bani Israil dalam Kitab [Taurat] itu: “Niscaya kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar. Maka apabila saat [sempurnanya peringatan] yang pertama dari kedua peringatan itu tiba, Kami kirimkan untuk menghadapi kamu hamba Kami yang memiliki kekuatan tempur yang sangat dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah [kamu], dan itu merupakan peringatan yang pasti terlaksana (Bani Isrāil [17]:5-6).

Dua kali kedurhakaan Bani Israil yang tersebut dalam Kitab Nabi Musa a.s. (Ulangan 28:15, 49-53, 63-64 & 30:15) disingguh dalam ayat ini. Orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil yang tidak beriman kepada Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah dikutuk oleh keduanya (QS.5:79-80), dan sebagai akibatnya mereka telah dihukum oleh Allah Swt. dua kali.

Azab Ilahi yang pertama menima Bani Israil sesudah Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s., sedangkan azab yang kedua sesudah Nabi Isa ibnu Maryam a.s.. Nampak dari Bible bahwa sesudah Nabi Musa a.s. orang-orang Yahudi telah menjadi suatu bangsa yang amat kuat dan di masa Nabi Daud a.s. mereka meletakkan dasar suatu kerajaan kuat, yang setelah Nabi Daud a.a. dan Nabi Sulaiman a.s. pun wafat pun untuk beberapa waktu kerajaan Bani Israil terus berlanjut kejayaan dan kemuliaannya (QS.2:248-253; QS.34:11-15).

Kemudian kerajaan Bani Israil tersebut mengalami sasaran kemunduran bersangsur-angsur, dan pada sekitar 733s.M, Samaria ditaklukkan oleh bangsa Assiria, yang mencaplok seluruh daerah Israil di sebelah utara Yezreel. Pada tahun 608 s.M. Palestina telah dilanda oleh satu lasykar Fir’aun Necho dan Bani Israil taluk kepada kekuasaan Mesir (Yewish Encyclopaedia jilid VI hlm. 655).

Tetapi hilangnya kekuasaan duniawi mereka serta kehancuran dan ketelantaran mereka tidak mendorong mereka untuk memperbaiki cara-cara hidup mereka. Mereka dengan gigih bertahan pada cara-cara buruk mereka yang lama. Nabi Yermia a.s. memperingatkan mereka supaya meninggalkan cara-cara buruk mereka, tetapi mereka sama sekali tidak menghiraukan peringatan beliau a.s..

Di masa kekuasaan Yehoyakim, raja Nebukadnezar dari Babilonia melancarkan serbuan pertamanya ke Palestina dan membawa pulang perkakas rumah peribadatan, tetapi ketika itu kota Yerusalem sendiri selamat dari kekejaman akibat pengepungan. Pada tahun 598 s.M. kota itu dikepung dan penduduknya mengalami kelaparan yang sangat keras. Tetapi pemberontakan raza Zedekia membawa akibat adanya serbuan kedua oleh Nebukadnezar pada tahun 587 s.M., dan sesudah masa pengepungan berlangsung satu setengah tahun kota Yerusalem ditaklukan dengan satu serangan cepat laksana halilintar. Anak-anaknya dibunuh dan matanya sendiri dicukil, lalu dalam keadaan diborgol ia dibawa ke Babilonia.

Gambaran Kehancuran dan Bangkitnya lagi Kota Yerusalem

Rumah peribadatan, istana raja, serta semua bangunan besar di kota Yerusalem dibumihanguskan, para imam besar, dan para pemimpin lain dibunuh, dan sejumlah besar rayak diboyong sebagai tawanan (Yewish Encyclopaedia, jld VI, hlm. 665 & jld. VII, hlm. 122 pada kata “Yerusalem”). Mengenai hal tersebut dalam Al-Quran diisyaratkan sebagai berikut, firman-Nya:

اَوۡ کَالَّذِیۡ مَرَّ عَلٰی قَرۡیَۃٍ وَّ ہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی عُرُوۡشِہَا ۚ قَالَ اَنّٰی یُحۡیٖ ہٰذِہِ اللّٰہُ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ۚ فَاَمَاتَہُ اللّٰہُ مِائَۃَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَہٗ ؕ قَالَ کَمۡ لَبِثۡتَ ؕ قَالَ لَبِثۡتُ یَوۡمًا اَوۡ بَعۡضَ یَوۡمٍ ؕ قَالَ بَلۡ لَّبِثۡتَ مِائَۃَ عَامٍ فَانۡظُرۡ اِلٰی طَعَامِکَ وَ شَرَابِکَ لَمۡ یَتَسَنَّہۡ ۚ وَ انۡظُرۡ اِلٰی حِمَارِکَ وَ لِنَجۡعَلَکَ اٰیَۃً لِّلنَّاسِ وَ انۡظُرۡ اِلَی الۡعِظَامِ کَیۡفَ نُنۡشِزُہَا ثُمَّ نَکۡسُوۡہَا لَحۡمًا ؕ فَلَمَّا تَبَیَّنَ لَہٗ ۙ قَالَ اَعۡلَمُ اَنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿۲۶۰

Atau [perumpamaan] seperti orang yang melalui suatu kota yang telah runtuh atas atap-atapnya, ia berkata: “Kapankah Allah akan menghidupkan kembali [kota] ini sesudah matinya?” Maka Allah mematikannya [dalam kasyaf] seratus tahun, kemudian Dia membangkitkannya [lagi] dan berfirman: “Berapa lamakah engkau tinggal?” Ia berkata: “Aku tinggal sehari atau sebagian hari.” Dia berfirman:”Tidak demikian, bahkan engkau tinggal seratus tahun lamanya. Maka lihatlah makanan engkau dan minuman engkau, itu tidak membusuk, dan lihat pulalah keledai engkau [ia masih hidup], dan itu adalah supaya Kami menjadikan engkau Tanda bagi manusia. Dan lihatlah tulang-belulang itu bagaimana kami Kami menatanya kembali kemudian kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala ini menjadi terang baginya ia berkata: “Aku mengetahui sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (Al-Baqarah [2]:260).

Ada pun yang dimaksud dengan kota yang hancur dalam ayat tersebut adalah kota Yerusalem setelah diserbu oleh pasukan Nebukadnezar, sedangkan orang yang melewatinya adalah Nabi Yehezkiel a.s. yang bersama orang-orang Bani Israil lainnya dibawa ke Babilonia sebagai tawanan melewati kota yang telah hancur tersebut.

Melihat keadaan kota yang sangat mengenaskan tersebut sangat menyedihkan Nabi Yehezkiel a.s., dan ketika sedang bekerja di ladang pertanian di Babilonia beliau a.s. melihat kasyaf (penglihatan ruhani) mengenai kapan kota Yerusalem akan dibangun kembali setelah kehancurannya -- yakni memakan waktu 100 tahun -- yang digambarkan dengan kematian beliau dalam kasyaf tersebut. Itulahlah sebabnya Allah Swt. telah menyebut Nabi Yehezkiel a.s. dalam ayat tersebut sebagai Tanda bagi manusia.

Kota Yerusalem direbut dan dihancurkan oleh Nebukednezar pada tahun 599 s.M. (2 Raja-raja 24:10). Nabi Yehezkiel a.s. mungkin melihat kasyaf pada tahun 586 s.M.. Kota Yerusalem didirikan kembali 1 abad (100 tahun) setelah kehancurannya. Pembangunannya dimulai tahun 537 s.M. dengan izin dan bantuan Cyrus (Koresy), raja kerajaan Persia dan Media, dan selesai tahun 511 s.M.. Orang-orang Israil masih memerlukan 15 tahun lagi untuk menghuninya dan dengan demikian pada hakikatnya satu abad antara kehancuran (kematian) kota Yerusalem tersebut dan dihidupkannya kembali, sebagaimana diisyaratkan dalam kasyaf (penglihatan ruhani) yang dialami oleh Nabi Yehezkiel a.s..

Datangnya pertolongan Cyrus (Koresy) – raja kerajaan Persia dan Media – tersebut terjadi karena selama di pembuangannya di Babilonia mereka bertaubat dan mulai melakukan perbaikan diri dengan bimbingan 2 orang suci, yang di dalam Al-Quran digambarkan dengan 2 malaikat yang bernama Harut dan Marut (QS.2:103), yakni Nabi Hagai a.s. dan Zakaria bin Ido (Ezra 5:1). Harut dan Marut adalah nama sifat, Harut berasal dari kata harata artinya “merobek” berarti “orang yang merobek”, sedangkan Marut berasal dari marata, artinya “ia memecahkan”, berarti “orang yang memecahkan.”

Jadi, nama-nama sifat itu mengandung arti bahwa tujuan munculnya kedua orang suci tersebut adalah untuk “memecahkan” dan “merobek” kemegahan dan kekuasaan kerajaan musuh-musuh kaum Bani Israil. Kedua orang suci itu menerangkan kepada para anggota-anggota baru pada waktu upacara pelantikan bahwa mereka itu semacam cobaan dari Tuhan untuk tujuan memisahkan antara yang baik dan yang buruk, karena itu kaum Bani Israil di Babilonia jangan mengingkari apa-apa yang mereka katakan. Mereka membatasi anggota perkumpulannya hanya pada kaum lagi-lagi saja.

Ketika kekuasaan Cyrus (Koresy), raja Media dan Persia bangkit lalu orang-orang Bani Israil mengadakan “perjanjian rahasia” dengannya, sehingga hal tersebut sangat mempermudah Cyrus mengalahkan kerajaan Babilonia. Dan sebagai imbalan atas kerjasama secara rahasia tersebut Raja Cyrus bukan saja mengizinkan mereka kembali ke Yerusalem tetapi juga membantu mereka dalam pembangunan kembali Rumah peribadatan yang dibuat oleh Nabi Sulaiman a.s. (Historian’s History of the World, ii 126).

Kembali ke “Tanah yang Dijanjikan” & Pengusiran Kedua Kali dari Yerusalem

Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah firman Allah Swt. selanjutnya mengenai peristiwa penyerbuan kota Yerusalem oleh Nebukadnezar:

ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ نَفِیۡرًا ﴿۸

Kemudian Kami kembalikan kepada kamu kekuatan untuk mengalahkan mereka dan Kami membantu kamu dengan harta dan anak-anak, dan Kami menjadikan kamu kelompok yang lebih besar (Bani Israil [17]:8).

Orang-orang Yahudi menyesuaikan diri mereka dengan keadaan baru di masa pembuangan di Babilonia. Kebanyakan mereka telah dipekerjakan pada pekerjaan-pekerjaan umum di Babilonia Tengah, dan banyak dari mereka pada akhirnya memperoleh kemerdekaan dan mencapai kedudukan berpengaruh. Keyakinan dan pengabdian mereka kepada agama telah bangkit kembali; kepustakaan kerajaan dipelajari, diterbitkan kembali dan disesuaikan dengan keperluan kaum yang sedang hidup kembali serta harapan mereka untuk kembali ke Palestina telah dikobarkan dan dipupuk.

Kira-kira pada tahun 546 s.M. cita-cita tersebut memperoleh bentuk jelas, yakni kaum Yahudi membuat suatu perjanjian rahasia dengan Cyrus (Koresy), raja Media dan Persia serta membantu beliau menaklukan kerajaan Babilonia. Kota itu dalam bulan Juli tahun 539 s.M. jatuh kepada tentara Cyrus tanpa perlawanan. Dan sebagai ganjaran atas jasa-jasa mereka -- sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya – Cyrus mengizinkan orang-orang Yahudi kembali ke Yerusalem dan juga membantu mereka membangun kembali rumah peribadatan mereka di Yerusalem (Historian’s Hystory of the World, jld. Ī, hlm. 126; Yewish Encyclopaedia jld. VII pada kata “Cyrus”, dan Tawarikh 36:22-23).

Syesyibazzar, seorang gubernur raja Cyrus, yang berasal dari Yudea, membawa kembali ke rumah peribadatan itu alat-aiat dan perkakas yang telah dirampas oleh Nebukadnezar dan merencanakan untuk menyelenggarakan pekerjaan ini dengan membelanjakan uang kerajaan. Sejumlah besar orang-orang Yahudi buangan kembali ke Yerusalem (Ezra 1:3-5).

Pekerjaan pembangunan kembali rumah peribadatan berangsur-angsur maju terus dan selesai pada tahun 516 s.M. Kejadian-kejadian ini dan kejayaan serta kesejahteraan orang-orang Yahudi berikutnya itulah yang diisyaratkan oleh ayat yang sedang dibahas ini. Tetapi semuanya itu telah dinubuatkan jauh sebelum hal itu benar-benar terjadi oleh Nabi Musa a.s. (Ulangan 30:1-5). Selanjutnya Allah Swt. berfirman:

اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿۹

Jika kamu berbuat baik, kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk maka itu untuk dirimu sendiri. Lalu apabila datang janji kedua itu, supaya mereka mendatangkan (menimpakan) kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu, dan supaya mereka memasuki mesjid seperti mereka telah memasukinya pada kali pertama, dan supaya mereka menghancurkan segala yang telah mereka kuasai (Bani Israil [17]:9).

Ayat ini membicarakan jatuhnya kembali orang-orang Yahudi ke lembah keburukan dan tentang azab kedua kali yang menimpa mereka sebagai akibatnya. Mereka menentang dan menganiaya Nabi Isa ibnu Maryam a.s. serta berusaha membunuh beliau pada tiang salib dan berusaha memusnahkan pergerakan beliau. Oleh sebab itu Allah Swt. menimpakan kepada mereka azab yang sangat keras, ketika pada tahun 70 Masehi pasukan-pasukan Romawi dibawah pimpinan Titus melanda negeri Palestina, dan di tengah-tengah kejadian-kejadian mengerikan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah itu, kota Yerusalem telah dihancurkan lagi dan rumah peribadatan Nabi Sulaiman a.s. dibumihanguskan (Encyclopaedia Biblica pada kata “Yerusalem; Matius 23:37-39 & 24:1-28).

Malapetaka dahsyat tersebut terjadi ketika Nabi Isa ibnu Maryam a.s. masih hidup di Kasymir (QS.23:51). Hal ini pun telah dinubuatkan oleh Nabi Musa a.s. sebelumnya (Ulangan 32:18-26). Perlu juga dikemukakan di sini bahwa nubuatan mengenai azab kedua kali itu telah disebut dalam Bible sesudah adanya nubuatan mengenai hukuman pertama (Ulangan bab 28). Lebih dari itu bahkan nubutan ini disebut sesudah nubuatan mengenai kembalinya orang-orang Yahudi dari Babilonia ke Yerusalem (Ulangan 30:1-5). Hal ini menunjukkan bahwa nubuatan ini (Ulangan 32:18-26) menunjuk kepada azab yang kedua yang telah disinggung dalam Al-Quran (QS.17:9), yakni: “Niscaya kamu akan melakukan kerusakan besar di bumi dua kali” (QS.17:5).

Peringatan bagi Umat Islam & Berdirinya Khilafat Kenabian di Akhir Zaman

Jadi, ayat Qs.17:9 ini mengandung peringatan bagi umat Islam, bahwa seperti halnya orang Yahudi mereka pun akan dihukum dua kali, jika mereka tidak mau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka. Tetapi kenyataan membuktikan bahwa umat Islam (Bani Isma’il) tidak pmemperoleh faedah dari peringatan yang tepat pada waktunya itu serta tidak meninggalkan cara-cara yang buruk, dan akibatnya umat Islam pun telah dihukum dua kali.

Hukuman pertama menimpa mereka ketika kota Baghdad -- pusat kekuasaan Bani Abbas (Abbasiyah) --jatuh pada tahun 1258 M. akibat serbuan dahsyat pasukan-pasukan Mongol dan Tartar yang biadab pimpinan Hulaku Khan, dan mereka telah memusnahkan pusat ilmu pengetahuan dan kekuasaan umat Islam yang agung itu, dan menurut kabar 1.800.000 orang Islam telah terbunuh ketika itu. Tetapi kemudian dari malapetaka yang mengerikan tersebut akhirnya Islam keluar sebagai pemenang. Mereka yang menaklukkan menjadi pihak yang ditaklukan, yakni cucu Hulaku Khan bersama sejumlah besar orang Mongol dan Tartar memeluk agama Islam.

Ada pun hukuman kedua telah ditakdirkan akan menimpa umat Islam di Akhir Zaman ini, yakni dengan kembalinya orang-orang Yahudi pengembara ke Palestina dari berbagai pelosok dunia – setelah terusir dari Palestina selama 2000 tahun (QS.17:105) melalui Balfour Declaration pada th. 1948 – dan mereka mendirikan negara Israel dengan bantuan negara-negara Kristen barat, yang Al-Quran menyebutnya merajalelanya kembali Ya’juj dan Ma’juj sejak abad 16 Masehi (QS.21:96-98) termasuk di Nusantara berupa penjajahan wilayah Nusandara oleh bangsa Belanda (VOC) selama 350 tahun.

Peristiwa terusirnya umat Islam kedua kali dari Palestina tersebut terjadi setelah Allah Swt. mengutus misal Nabi Isa ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) atau Al-Masih Mau’ud a.s., yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s., Pendiri Jemaat Ahmadiyah (1835-1908). Hal tersebut sesuai dengan ketentuan Allah Swt. bahwa Dia tidak pernah menurunkan azab sebelum terlebih dulu diutus seorang Rasul-Nya (Qs.6:132; QS.11:118; QS.17:16; QS.20:135-126; Qs.26:209; QS.28:60).

Dengan demikian genaplah pulalah persamaan lainnya antara Bani Israil dan Bani Isma’il (umat Islam) berupa dua kali azab dahsyat, termasuk dua kali terlepasnya Palestina (Yerusalem). Selanjutnya Allah Swt. berfirman:

عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ حَصِیۡرًا ﴿۹

Boleh jadi Tuhan kamu akan menaruh kasihan kepada kamu, tetapi jika kamu kembali [berlaku durhaka] Kami pun akan kembali [menimpakan hukuman], dan Kami jadikan jahannam bagi orang-orang kafir sebagai penjara (Bani Israil [17]:9).

Porak-porandanya keadaan negara-negara Islam saat ini di wilayah Timur Tengah – termasuk penyerbuan tentara gabungan pimpinan Amerika Serikat terhadap Iraq di masa pemerintahan rezim Saddam Hussein, keadaan kacau balau di negara-negara Islam Afghanistan, Afrika Utara, Yaman, Suriah dan lain-lain -- menunjukkan bahwa pada hakikatnya dominasi Bani Isma’il sebagai “kaum terpilih yang menggantikan Bani Israil telah sampai pada ajal-nya (batas waktunya – QS.7:35-37), dan di Akhir Zaman ini Allah Swt. telah memilih “kaum lain” dari kalangan umat Islam sebagai “pengganti” mereka (QS.5:55-56; QS.62:3-5), sebagaimana janji-Nya berikut ini kepada “orang-orang yang beriman dan beramal saleh”, firman-Nya:

وَعَدَ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ اَمۡنًا ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿۵۶ وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اَطِیۡعُوا الرَّسُوۡلَ لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ ﴿۵۷

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dari antara kamu dan berbuat amal saleh, pasti Dia akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah orang-orang yang sebelum mereka, dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka yang telah Dia ridhai bagi mereka, dan niscaya Dia akan mengganti [keadaan] mereka sesudah ketakutan mereka [dengan] keamanan. Mereka akan menyembah Aku, dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan Aku. Dan barangsiapa kafir sesudah itu mereka itulah orang-orang durhaka. Dan dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan taatlah kepada Rasul supaya kamu mendapat rahmat (Al-Nūr [24]:65-57).

Pengutusan Nabi Isa ibnu Maryam a.s. Sebagai As Sā’ah (Tanda Saat/Kiamat)

Dengan demikian jelaslah kenapa Allah Swt. telah menyebut pengutusan Nabi Isa ibnu Maryam a.s. sebagai as-Sā’ah (tanda Saat/Kiamat – QS.43:58-62), sebab pengutusan beliau a.s. di kalangan Bani Israil benar-benar menjadi tanda mengenai berakhirnya dominasi Bani Israil sebagai “kaum terpilih” , dan juga tanda berakhirnya dominasi Bani Isma’il sebagai “kaum terpilih” -- yang menggantikan Bani Israil -- dengan diutusnya misal Nabi Isa ibnu Maryam a.s, yang dibangkitkan di kalangan umat Islam (Qs.62:3-5).

Kenapa demikian? Sebab agama Islam (Al-Quran) dan umat Islam sebagai agama dan umat yang terakhir tidak akan tergantikan oleh siapa pun sampai Kiamat, tetapi Bani Ism’ail sebagai pemegang amanat sebagai “kaum terpilih” dan “umat terbaik” (QS.2:144; QS.3:111) telah ditetapkan ajalnya (batas waktunya – QS.7:35-37) dan akan digantikan oleh “kaum lain” (QS.5:55) yang muncul dari kalangan umat Islam itu sendiri, sebagaimana diisyaratkan dalam ayat “wa ākharīna minhum” (kaum lain dari antara mereka), firman-Nya:

ہُوَ الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿۳ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿۴ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿۵

Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan [bangsa] yang buta-huruf seorang Rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, walau pun sebelumnya mereka dalam kesesatan yang nyata. Dan [Dia akan membangkitkannya lagi] pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka, dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memiliki karunia yang besar (Al-Jumu’ah [63]:3-5).

Tugas suci Nabi Besar Muhammad saw. meliputi penunaian keempat macam kewajiban mulia yang disebut dalam ayat ini. Tugas agung dan mulia itulah yang dipercayakan kepada beliau, sebab untuk kedatangan beliau di tengah-tengah orang-orang Arab buta huruf itu leluhur beliau, Nabi Ibrahim a.s., telah memanjatkan doa beberapa ribu tahun yang lampau ketika dengan disertai putranya, Nabi Isma’il a.s. , beliau mendirikan dasar (pondasi) Ka’bah (QS.2:130).

Pada hakikatnya tidak ada Pembaharu dapat benar-benar berhasil dalam misinya bila ia tidak menyiapkan dengan contoh mulia dan quat-qudsiahnya (daya pensuciannya), suatu jemaat yang pengikut-pengikutnya terdiri dari orang-orang mukhlis, patuh, dan bertakwa, yang kepada mereka itu mula-mula mengajarkan cita-cita dan asas-asas ajarannya serta mengajarkan falsafat, arti, dan kepentingan cita-cita dan asas-asas ajaran-nya itu, kemudian mengirimkan pengikut-pengikutnya ke luar negeri untuk mendakwah-kan ajaran itu kepada bangsa lain.

Didikan yang Nabi BesarMuhammad saw. berikan kepada para pengikut beliau saw. memperluas dan mempertajam kecerdasan mereka, dan filsafat ajaran beliau saw. menimbulkan dalam diri mereka keyakinan iman, dan contoh mulia beliau saw. menciptakan di dalam diri mereka kesucian hati. Kenyataan-dasar agama itulah yang diisyaratkan oleh ayat ini, sehingga umat Islam telah dinyatakan oleh Allah Swt. sebagai “umat terbaik” yang dibangkitkan untuk kepentingan seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.111).

Ada pun sehubungan dengan ayat selanjutnya “Dan [Dia akan membangkitkannya lagi] pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka, dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana, ajaran Nabi Besar Muhammad saw. ditujukan bukan kepada bangsa Arab belaka -- yang di tengah-tengah bangsa itu beliau saw. dibangkitkan --melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab juga, dan bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau saw. , melainkan juga kepada genarasi demi generasi manusia yang akan datang hingga Kiamat.

Atau ayat ini dapat juga berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. akan dibangkitkan di antara kaum yang belum pernah tergabung dalam para pengikut semasa hidup beliau saw.. Isyarat di dalam ayat ini dan di dalam hadits Nabi saw. yang termasyhur, tertuju kepada pengutusan beliau saw. untuk kedua kali dalam wujud Al-Masih Mau’ud (yang dijanjikan) atau misal Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) di Akhir Zaman. Abu Hurairah r.a. berkata:

“Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullāh saw. , ketika Surah Al-Jumu’ah diturunkan. Saya minta keterangan kepada Rasulullāh saw. : “Siapakah yang diisyaratkan oleh kata-kata Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka?” – Salman al-Farsi (Salman asal Parsi) sedang duduk di antara kami. Setelah saya berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullāh saw. meletakkan tangan beliau pada Salman dan bersabda: “Bila iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari).

Hadits Nabi saw. ini menunjukkan bahwa ayat ini dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan Parsi. Mirza Ghulam Ahmad a.s., pendiri Jemaat Ahmadiyah, adalah dari keturunan Parsi.

Hadits Nabi Besar Muhammad saw. lainnya menyebutkan kedatangan Al-Masih pada saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam selain namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi). Jadi, Al-Quran dan hadits kedua-duanya sepakat bahwa ayat ini menunjuk kepada kedatangan kedua kali Nabi Besar Muham saw. dalam wujud Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s., sebagai misal Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), yang juga sebagai perwujudan kedatangan kedua kali para Rasul Allah yang ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama dan sekte-sekte agama di Akhir Zaman ini, firman-Nya:

وَ اِذَا الرُّسُلُ اُقِّتَتۡ ﴿ؕ۱۲

Dan apabila rasul-rasul [didatangkan] pada waktu yang ditentukan (Al-Mursalāt [77]:12)

Pentingnya Ketaatan Kepada Nabi Besar Muhammad saw.

Dengan demikian benarlah firman-Nya berikut ini mengenai pentingya ketaatan kepada Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:

قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿۳۲ قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿۳۳


Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, Allah pun akan mencintaimu dan akan mengampuni dosa-dosamu, dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”. Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul ini”, lalu jika mereka berpaling maka sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir (Āli ‘Imran [3]:32-33).

Firman-Nya lagi:

َ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّ نَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ ۷۰ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿۱ ۷

Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini (Muhammad) maka mereka akan termasuk di antara orang-orang yang kepada mereka Allah memberikan nikmat yaitu: “Nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sahabat yang sejati. Itu adalah karunia dari Allah dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui (Al-Nisā [4]:70-71).

Dan semua itu adalah sebagai pengabulan dari doa Surah Al-Fatihah dan shalawat terhadap Nabi Besar Muhammad saw. (QS.33:57) yang senantiasa dipanjatkan umat Islam dalam shalat yang mereka dirikan – baik shalat fardu mau pun nafal – yakni:

اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ ﴿۶ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ﴿۷

Tunjukkankan kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula yang sesat” (Al-Fatihah [1]6-7).

Dengan demikian terjawab pulalah mengapa Nabi Besar Muhammad saw. mengajarkan kalimat shalawat yang ditujukan kepada beliau saw. dihubungan dengan Nabi Ibrahim a.s., -- tidak dengan rasul Allah yang lainnya -- karena kenyataan membuktikan bahwa Nabi Ibrahim a.s. adalah seorang nabi (rasul) Allah demikian pula anak dan cucu (keturunan) beliau pun banyak yang dianugerahi pangkat kenabian. Firman-Nya:

نَّ اللّٰہَ وَ مَلٰٓئِکَتَہٗ یُصَلُّوۡنَ عَلَی النَّبِیِّ ؕ یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا صَلُّوۡا عَلَیۡہِ وَ سَلِّمُوۡا تَسۡلِیۡمًا ﴿۵۷

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, ucapkanlah shalawat untuknya dan doa keselamatan baginya (Al-Ahzab [33]:57).

Oleh karena itu mengatakan bahwa setelah pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai Khātaman Nabiyyīn (QS.33:41) lalu setelah proses penyempurnaan hukum-hukum syariat tersebut mencapai puncak kesempurnaannya (QS.5:4) maka seluruh jenis kenabian dan wahyu Ilahi telah berakhir (tertutup), pemahaman keliru seperti itu sama saja dengan menyatakan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. adalah seorang abtar (terputus keturunannya), padahal menurut Allah Swt. yang abtar adalah para penentang Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:

نَّاۤ اَعۡطَیۡنٰکَ الۡکَوۡثَرَ ؕ﴿۲ فَصَلِّ لِرَبِّکَ وَ انۡحَرۡ ؕ﴿۳ اِنَّ شَانِئَکَ ہُوَ الۡاَبۡتَرُ ﴿۴

“Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada engkau berlimpah-limpah [kebaikan], maka shalatlah bagi Tuhan engkau dan berkorbanlah, sesungguhnya musuh engkau, dialah yang abtar (tanpa keturunan)” (Al-Kautsar [108]:2-4).

Terusir Dari “Surga Keridhaan Ilahi”

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa baik kisah “Adam MalaikatIblis” atau pun kisah “Dua anak Adam” serta “hijrah Nabi Adam a.s. dari jannah ke negeri lain pada hakikatnya merupakan “kisah-kisah monumental” yang telah, sedang dan senantiasa akan terjadi di lingkungan umat beragama sampai Hari Kiamat nanti, dengan para pemeran yang berbeda sesuai dengan zamannya masing-masing.

Kenapa demikian? Sebab kenyataan membuktikan bahwa akibat “pelanggaran” Nabi Adam a.s. dan “istrinya” terhadap larangan Allah Swt. agar tidak mendekati “pohon terlarang” telah menyebabkan mereka harus keluar (hijrah) dari “jannah” (QS.2:37, 39; QS.7:20-26; QS.20:124), demikian juga Bani Israil dan Bani Ismail (umat Islam) pun dua kali harus terusir dari “tanah yang dijanjikan” (QS.21:106).

Sehubungan dengan hal tersebt Allah Swt. berfirman:

وَ لَقَدۡ صَرَّفۡنَا فِیۡ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لِیَذَّکَّرُوۡا ؕ وَ مَا یَزِیۡدُہُمۡ اِلَّا نُفُوۡرًا ﴿۴۲

Dan sungguh Kami benar-benar telah menerangkan dengan berbagai cara dalam Al-Quran ini supaya mereka mengambil pelajaran, tetapi tidaklah Al-Quran itu menambah bagi mereka kecuali kebencian (Bani Israil [17]:42).

وَ لَقَدۡ صَرَّفۡنَا لِلنَّاسِ فِیۡ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ مِنۡ کُلِّ مَثَلٍ ۫ فَاَبٰۤی اَکۡثَرُ النَّاسِ اِلَّا کُفُوۡرًا ﴿۹۰

Dan sungguh Kami benar-benar telah menerangkan dengan berbagai cara bagi manusia segala macam perumpamaan dalam Al-Quran ini, tetapi kebanyakan manusia menolak [segala sesuatu bertalian dengan itu] kecuali ingkar (Bani Israil [17]:90).

وَ لَقَدۡ صَرَّفۡنَا فِیۡ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لِلنَّاسِ مِنۡ کُلِّ مَثَلٍ ؕ وَ کَانَ الۡاِنۡسَانُ اَکۡثَرَ شَیۡءٍ جَدَلًا ﴿۵۵

Dan sungguh Kami telah menerangkan dengan berbagai cara dalam Al-Quran ini segala macam perumpamaan, tetapi dalam segala sesuatu manusialah yang paling banyak membantah (Al-Kahf [18]:55).

Dengan demikian jelaslah hakikat dari perintah Allah Swt. bahwa umat Islam dalam setiap shalat – baik shalat fardhu mau pun shalat nafal -- diwajibkan membaca Surah Al-Fatihah, yang di dalamnya terdapat permohonan doa agar Allah Swt. menunjukkan “jalan yang lurus”, yaitu jalan “orang-orang yang telah dianugerahi nikmat-nikmat keruhanian” oleh Allah Swt. – yakni nabi-nabi; shiddiq-shiddiq, syuhada (saksi-saksi) dan orang-orang shaleh (QS.4:70).

Umat Islam pun diperingatkan oleh Allah Swt. dalam doa tersebut jangan menempuh jalan “mereka yang dimurkai Allah Swt.” dan mereka yang sesat”, padahal mereka itu pada zamannya masing-masing merupakan “kaum terpilih”, namun karena mendustakan dan menentang Rasul Allah serta tidak mengsyukurinya sebagai suatu dari nikmat Allah yang paling besar atau berlaku kafir terhadapnya, maka sebagai akibatnya mereka pun kemudian menjadi orang-orang yang terusir dari surga keridhaan Ilahi sehingga mereka disebut “maghdhūb” dan “dhāllīn”, firman-Nya:

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۱ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ ۙ﴿۲ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿۳ مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕؕ﴿۴ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ﴿۵ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ ﴿۶ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ﴿۷

Aku baca dengan nama Allāh , Maha Pemurah, Maha Penyayang . Segala puji hanya bagi Allāh, Tuhan seluruh alam, Maha Pemurah, Maha Penyayang . Pemilik Hari Pembalasan. Hanya Engkau-lah Yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. (Al-Fatihah [1]:1-7).

Mereka yang termasuk dalam golongan “nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syuhada (saksi-saksi), dan orang-orang shaleh” adalah para “penghuni surga keridhaan Ilahi sebab mereka adalah orang-orang yang mensyukuri nikmat Allah Swt. (QS.14:8), sedangkan mereka yang termasuk dalam golongan maghdhub dan dhallīn adalah mereka yang diusir dari “surga keridhaan Allah”, karena mereka kafir terhadap nikmat Allah (QS.14-8; QS.4:148), sebagaimana firman-Nya:

وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ نَبَاَ الَّذِیۡۤ اٰتَیۡنٰہُ اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ الۡغٰوِیۡنَ ﴿۱۷۶ وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿۱۷۷ سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ ﴿۱۷۸

Dan ceritakanlah kepada mereka kisah orang-orang yang Kami telah memberikan kepadanya Tanda-tanda Kami lalu ia melepaskan diri darinya, maka syaitan mengikutinya dan jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat. Dan jika Kami menghendaki niscaya dengan [Tanda-tanda] itu Kami meninggikannya tetapi ia cenderung ke bumi dan mengikuti hawa nafsunya, maka keadaannya seperti seekor anjing [yang menjulurkan lidahnya], jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya ia [tetap] menjulurkan lidahnya. Demikianlah misal orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami maka kisahkanlah kisah [ini] supaya mereka merenungkan. Sangat buruk keadaan orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, dan kepada diri mereka sendirilah mereka aniaya (Al-A’rāf [7]:176-178).

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa yang dimaksudkan dalam ayat ini bukanlah seseorang tertentu melainkan semua orang yang kepada mereka Allāh Swt. memperlihatkan Tanda-tanda melalui seorang Rasul Allah (QS.7:35-37) -- mulai dari Rasul Allah yang pertama kali diutus Allah Swt. kepada umat manusia sampai dengan Rasul Allah yang diutus di Akhir Zaman, yang merupakan kedatangan kedua kali secara ruhani Nabi Besar Muhammad saw. yakni misal Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) -- tapi mereka mendustakannya serta menentangnya dengan cara-cara zalim.

Ayat itu telah dikenakan secara khusus kepada seorang yang bernama Bal’am bin Ba’ura yang menurut kisah pernah hidup di zaman Nabi Musa a.s. dan konon dahulunya ia seorang wali Allah. Kesombongan merusak pikirannya dan ia mengakhiri hidupnya dalam kenistaan. Ayat itu dapat juga dikenakan kepada Abu Jahal atau Abdullah bin Ubbay bin Salul atau dapat pula kepada tiap-tiap pemimpin kekafiran di setiap zaman, termasuk di Akhir Zaman ini.

Mereka yang Mengkhianati Perjanjian dengan Allah Swt.

Dengan demikian jelaslah, bahwa mereka yang sebelumnya merupakan “kaum terpilih lalu mendustakan dan menentang Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka itulah yang mengakibatkan di dunia ini terdapat macam-macam agama dan sekte agama, padahal jika mereka itu berpegang-teguh pada perjanjian mereka dengan Allah Swt. melalui nabi-nabi (QS.2:214) seharusnya agama yang hakiki tersebut sejak awal hingga Akhir Zaman ini hanyalah satu, yakni Islam, (QS.3:20; QS.5:4) karena semua ajaran para Rasul Allah yang diturunkan sebelum Nabi Besar Muhammad saw. bersumber dari Tuhan yang sama, yaitu Allah Swt.. Dia berfirman:

کَانَ النَّاسُ اُمَّۃً وَّاحِدَۃً ۟ فَبَعَثَ اللّٰہُ النَّبِیّٖنَ مُبَشِّرِیۡنَ وَ مُنۡذِرِیۡنَ ۪ وَ اَنۡزَلَ مَعَہُمُ الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ لِیَحۡکُمَ بَیۡنَ النَّاسِ فِیۡمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ ؕ وَ مَا اخۡتَلَفَ فِیۡہِ اِلَّا الَّذِیۡنَ اُوۡتُوۡہُ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ۚ فَہَدَی اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ مِنَ الۡحَقِّ بِاِذۡنِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿۲۱۴

Manusia dahulunya merupakan satu umat, lalu Allāh mengutus nabi-nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Dia menurunkan beserta mereka Kitab dengan haq supaya Dia menghakimi di antara manusia dalam hal-hal yang mereka perselisihkan, dan sekali-kali tidak ada yang memperselisihkan-nya kecuali orang-orang yang diberi Alkitab itu sesudah Tanda-tanda yang nyata datang kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka. Lalu Allāh dengan izin-Nya telah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran yang mereka perselisihkan itu, dan Allāh memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus. (Al-Baqarah [2]:214).

Allah Swt. berfirman kepada para nabi Allah:

اِنَّ ہٰذِہٖۤ اُمَّتُکُمۡ اُمَّۃً وَّاحِدَۃً ۫ۖ وَّ اَنَا رَبُّکُمۡ فَاعۡبُدُوۡنِ ﴿۹۳ وَ تَقَطَّعُوۡۤا اَمۡرَہُمۡ بَیۡنَہُمۡ ؕ کُلٌّ اِلَیۡنَا رٰجِعُوۡنَ ﴿۹۴

Sesungguhnya umat kamu ini merupakan satu umat, dan Aku adalah Tuhan kamu maka sembahlah Aku. Tetapi mereka telah memotong-motong urusan agama mereka di antara mereka, padahal semuanya akan kembali kepada Kami. (Al-Anbiyā [21]:93-94).

Firman-Nya lagi:

یٰۤاَیُّہَا الرُّسُلُ کُلُوۡا مِنَ الطَّیِّبٰتِ وَ اعۡمَلُوۡا صَالِحًا ؕ اِنِّیۡ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ عَلِیۡمٌ ﴿ؕ۵۱ وَ اِنَّ ہٰذِہٖۤ اُمَّتُکُمۡ اُمَّۃً وَّاحِدَۃً وَّ اَنَا رَبُّکُمۡ فَاتَّقُوۡنِ ﴿۵۲ فَتَقَطَّعُوۡۤا اَمۡرَہُمۡ بَیۡنَہُمۡ زُبُرًا ؕ کُلُّ حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ ﴿۵۳ فَذَرۡہُمۡ فِیۡ غَمۡرَتِہِمۡ حَتّٰی حِیۡنٍ ﴿۵۴

“Hai rasul-rasul, makan­lah dari barang-barang yang baik dan berbuatlah amal saleh, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu perbuat. Dan sesungguhnya umat ka-mu ini umat yang satu dan Aku adalah Tuhan-mu maka ber­takwalah kepada-Ku." Tetapi mereka telah memecah-belah urusan mereka di antara mereka menjadi berbagai golongan, masing-masing kelompok bergembira dengan apa yang ada pada mereka maka tinggalkanlah mere­ka dalam kesesatannya hingga suatu waktu. (Al-Mukminun [23]:52-55).

Semua Rasul Allāh menggalang persaudaraan karena mereka datang dari sumber Ilahi yang sama, dan dasar ajaran-ajaran mereka sedikit banyak serupa satu sama lain serta tujuan dan maksud kebangkitan mereka pun itu itu juga yaitu menegakkan Keesaan Ilahi dan persatuan umat manusia di bumi.

Sesudah seorang nabi wafat para pengikutnya pada umumnya mulai saling berselisih dan berpecah-belah menjadi mazhab-mazhab dan aliran-aliran, tiap mazhab menganggap dirinya sebagai pengikut yang seiati dan menganggap mazhab-mazhab lain sebagai hampa dari segala kebenaran dan bahkan mengangganya sebagai kafir dan sesat.

Perpecahan di Kalangan Umat Islam & “Golongan yang Selamat”

Kenyataan tersebut terjadi juga di kalangan Bani Isma’il atau umat Islam yang menggantikan kedudukan Bani Israil sebagai “kaum terpilih” sebelumnya, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:

اِنَّ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ وَ کَانُوۡا شِیَعًا لَّسۡتَ مِنۡہُمۡ فِیۡ شَیۡءٍ ؕ اِنَّمَاۤ اَمۡرُہُمۡ اِلَی اللّٰہِ ثُمَّ یُنَبِّئُہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿۱۶۰

Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan menjadi golongan-golongan, engkau sedikit pun tidak mempunyai kepentingan dengan mereka. Sesungguhnya urusan mereka terserah kepada Allāh, kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. (Al-An’ām [6]:160).

Firman-Nya lagi:

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿۱۰۳ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ لَعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ ﴿۱۰۴ وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿۱۰۵ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿۱۰۶﴾ۙ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allāh dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali kamu dalam keadaan berserah diri Dan berpegangteguhlah kamu sekalian pada tali Allāh, janganlah kamu berpecah-belah, dan ingatlah akan nikmat Allāh atasmu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu Dia menyatukan hatimu dengan kecintaan antara satu sama lain maka dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara, dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api lalu Dia menyelamatkanmu darinya. Demikianlah Allāh menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada segolongan di antara kamu yang senantiasa menyeru [manusia] kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf, melarang dari [berbuat] munkar, dan mereka itulah orang-orang yang berhasil. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih sesudah bukti-bukti yang jelas datang kepada mereka, dan mereka itulah [orang-orang] yang baginya ada azab yang besar. (Āli ‘Imran [3]:103-106).

Atas dasar peringatan Allah Swt. kepada Bani Ismail atau umat Islam tersebut Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda mengenai keadaan umat Islam sepeninggal beliau saw. dan para Khulafatur-Rasyidin, yang dimulai setelah 3 abad masa kejayaan umat Islam yang pertama (QS.32:6):

“Kamu (umat Islam) niscaya akan mengikuti jejak mereka yang telah mendahului kamu, dalam setiap langkahnya sedemikian rupa sehingga apabila ada di antara mereka yang masuk di lubang biawak kamu pun akan berlaku sama.” [Para sahabat bertanya]: “Ya Rasulallah, apakah yang engkau maksudkan kaum Yahudi dan Nasrani (Kristen)?” Beliau saw. bersabda: “Siapa lagi?” (Bukhari & Muslim).

Beliau saw. bersabda lagi:

“Kaumku akan mengalami kejadian yang sama seperti yang dialami Bani Israil. Mereka akan sedemikian rupa persamaannya satu sama lain seperti persamaan sepasang sepatu. Bani Israil telah pecah menjadi 72 golongan dan kaumku akan pecah menjadi 73 golongan. Semuanya akan dilemparkan ke dalam api, kecuali satu golongan.” Mereka (para Sahabah] bertanya: “Golongan manakah itu?” Beliau saw. bersabda: “Golongan yang akan menjalankan sunnahku dan amal perbuatan para sahabatku (Tirmidzi).

Perumpamaan Dalam Taurat dan Injil

Jawaban Nabi Besar Muhammad saw. mengenai satu golongan” yang ditanyakan oleh para sahabat r.a. tersebut – yakni “Golongan yang akan menjalankan sunnahku dan amal perbuatan para sahabatku -- tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. berikut ini:

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ ۙ اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ ﴿۵۵

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu murtad dari agamanya maka Allah segera akan mendatangkan suatu kaum, Dia akan mencintai mereka dan mereka pun akan mencintai-Nya, mereka akan bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang beriman dan keras terhadap orang-orang kafir. Mereka akan berjuang di jalan Allāh dan tidak takut akan celaan seorang pencela. Itulah karunia Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki dan Allāh Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui. (Al-Maidah [5]:55).

Atas dasar itu pulalah maka Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini Allah Swt. telah mengemukakan kedua masa pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. pada waktu yang berlainan tersebut (QS.62:3-6) sebagai dua perumpamaan dalam Taurat dan Injil, firman-Nya:

ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰۦ وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ شَہِیۡدًا ﴿ؕ۲۹ مُحَمَّدٌ رَّسُوۡلُ اللّٰہِ ؕ وَ الَّذِیۡنَ مَعَہٗۤ اَشِدَّآءُ عَلَی الۡکُفَّارِ رُحَمَآءُ بَیۡنَہُمۡ تَرٰىہُمۡ رُکَّعًا سُجَّدًا یَّبۡتَغُوۡنَ فَضۡلًا مِّنَ اللّٰہِ وَ رِضۡوَانًا ۫ سِیۡمَاہُمۡ فِیۡ وُجُوۡہِہِمۡ مِّنۡ اَثَرِ السُّجُوۡدِ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُہُمۡ فِی التَّوۡرٰىۃِ ۚۖۛ وَ مَثَلُہُمۡ فِی الۡاِنۡجِیۡلِ ۚ۟ۛ کَزَرۡعٍ اَخۡرَجَ شَطۡـَٔہٗ فَاٰزَرَہٗ فَاسۡتَغۡلَظَ فَاسۡتَوٰی عَلٰی سُوۡقِہٖ یُعۡجِبُ الزُّرَّاعَ لِیَغِیۡظَ بِہِمُ الۡکُفَّارَ ؕ وَعَدَ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنۡہُمۡ مَّغۡفِرَۃً وَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿۳۰

Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar, supaya Dia memenangkannya atas semua agama, dan cukuplah Allah sebagai saksi. Muhammad itu adalah Rasul Allah, dan orang-orang besertanya sangat keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang di antara mereka, engkau melihat mereka rukuk serta sujud mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya, ciri-ciri pengenal mereka terdapat pada wajah mereka dari bekas-bekas sujud. Demikianlah perumpamaan mereka dalam Taurat, dan perumpaman mereka dalam Injil adalah laksana tanaman yang mengeluarkan tunasnya, kemudian menjadi kuat, kemudian menjadi kokoh, dan berdiri mantap pada batangnya, menyenangkan penanam-penanamnya supaya Dia membangkit-kan amarah orang-orang kafir dengan perantaraan itu. Allāh telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh di antara mereka ampunan dan ganjaran yang besar. (Al-Fath [48]:29-30).

Jadi, perumpamaan dalam Taurat yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Musa a.s., dan Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut mengisyaratkan pula kepada rekan sejawat kedua Rasul Allah yang dibangkitkan dari kalangan Bani Israil tersebut, yang dibangkitkan dari kalangan Bani Ismail, yakni misal Nabi Musa a.s. (Nabi Besar Muhammad saw. – QS.46:11) dan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Mirza Ghulam Ahmad a.s. – QS.43:58).

Peringatan Bagi Mereka yang Menyukai Kekerasan

Uraian yang berjudul Mengapa Terdapat Bermacam-macam Agama dan Sekte Agama di Dunia? “ penulis akhiri dengan beberapa firman Allah Swt. yang secara khusus memperingatkan mereka yang senang melakukan pemaksaan dan kekerasan terhadap pihak-pihak lain dalam hal-hal yang berhubungan dengan masalah agama karena adanya perbedaan pendapat dan penafsiran.

Berikut adalah firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw., seorang Rasul Allah yang paling peduli serta paling kasih-sayang terhadap umat manusia mengenai masalah keimanan terhadap Tauhid Ilahi, sehingga beliau saw. telah berdoa serta berupaya sedemikian rupa – kalau perlu sampai mengorbankan dirinya – semata-mata agar mereka benar-benar beriman kepada Allah Swt., firman-Nya:

وَ اِنۡ کَانَ کَبُرَ عَلَیۡکَ اِعۡرَاضُہُمۡ فَاِنِ اسۡتَطَعۡتَ اَنۡ تَبۡتَغِیَ نَفَقًا فِی الۡاَرۡضِ اَوۡ سُلَّمًا فِی السَّمَآءِ فَتَاۡتِیَہُمۡ بِاٰیَۃٍ ؕ وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ لَجَمَعَہُمۡ عَلَی الۡہُدٰی فَلَا تَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡجٰہِلِیۡنَ ﴿۳۶ اِنَّمَا یَسۡتَجِیۡبُ الَّذِیۡنَ یَسۡمَعُوۡنَ ؕؔ وَ الۡمَوۡتٰی یَبۡعَثُہُمُ اللّٰہُ ثُمَّ اِلَیۡہِ یُرۡجَعُوۡنَ ﴿؃ ۳۷

Dan jika berpalingnya mereka terasa berat bagi engkau maka kalau engkau sanggup mencari lubang ke dalam bumi atau tangga ke langit, lalu engkau mendatangkan kepada mereka suatu Tanda. Dan jika Allah menghendaki niscaya mereka akan dihimpun-Nya kepada petunjuk, maka janganlah engkau menjadi orang-orang yang jahil. Sesungguhnya orang-orang yang menerima [kebenaran] hanyalah orang-orang yang mendengar, sedangkan orang-orang mati Allah akan membangkitkan mereka, kemudian kepada-Nya mereka akan dikembalikan (Al-An’ām [6]: 36-37).

فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ اِنۡ لَّمۡ یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا الۡحَدِیۡثِ اَسَفًا ﴿۷

Maka sangat mungkin engkau akan membinasakan diri engkau sendiri karena sangat bersedih memikirkan mereka jika mereka tidak beriman kepada keterangan [Al-Quran] ini (Al-Kahf [18]:7).

لَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ اَلَّا یَکُوۡنُوۡا مُؤۡمِنِیۡنَ ﴿۴ اِنۡ نَّشَاۡ نُنَزِّلۡ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ السَّمَآءِ اٰیَۃً فَظَلَّتۡ اَعۡنَاقُہُمۡ لَہَا خٰضِعِیۡنَ ﴿۵ وَ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ ذِکۡرٍ مِّنَ الرَّحۡمٰنِ مُحۡدَثٍ اِلَّا کَانُوۡا عَنۡہُ مُعۡرِضِیۡنَ ﴿۶

Sangat mungkin jadi engkau akan membinasakan diri engkau sendiri akibat bersedih karena mereka tidak mau beriman. Jika Kami menghendaki Kami dapat menurunkan kepada mereka suatu Tanda dari langit sehingga leher-leher mereka akan tertunduk di hadapannya. Dan tidak pernah datang kepada mereka peringatan yang

baru dari [Tuhan] Yang Maha Pemurah melainkan mereka selalu berpaling darinya. (Al-Syu’ara [26]:4-6).

وَ لَوۡ شَآءَ رَبُّکَ لَاٰمَنَ مَنۡ فِی الۡاَرۡضِ کُلُّہُمۡ جَمِیۡعًا ؕ اَفَاَنۡتَ تُکۡرِہُ النَّاسَ حَتّٰی یَکُوۡنُوۡا مُؤۡمِنِیۡنَ وَ مَا کَانَ لِنَفۡسٍ اَنۡ تُؤۡمِنَ اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ وَ یَجۡعَلُ الرِّجۡسَ عَلَی الَّذِیۡنَ لَا یَعۡقِلُوۡنَ ﴿۱۱۱

Dan seandainya Tuhan engkau menghendaki niscaya semua orang yang ada di bumi semuanya akan beriman. Apakah engkau akan memaksa manusia hingga menjadi orang beriman? Dan tidak seorang pun dapat beriman kecuali dengan izin Allah, dan Dia menyebabkan siksaan[Nya] menimpa] kepada orang yang tidak mau mempergunakan akal. (Yunus [10]:100-101). Lihat pula QS.16:10; Qs.42:9.

وَ لَوۡ شَآءَ رَبُّکَ لَجَعَلَ النَّاسَ اُمَّۃً وَّاحِدَۃً وَّ لَا یَزَالُوۡنَ مُخۡتَلِفِیۡنَ ﴿۱۱۹﴾ۙ اِلَّا مَنۡ رَّحِمَ رَبُّکَ ؕ وَ لِذٰلِکَ خَلَقَہُمۡ ؕ وَ تَمَّتۡ کَلِمَۃُ رَبِّکَ لَاَمۡلَـَٔنَّ جَہَنَّمَ مِنَ الۡجِنَّۃِ وَ النَّاسِ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿۱۲۰

Dan seandainya Tuhan engkau menghendaki niscaya Dia telah menjadikan semua manusia satu umat, [tetapi] mereka akan tetap berselisih, kecuali orang yang Tuhan engkau melimpahkan rahmat-Nya, dan untuk itulah Dia menciptakan mereka. Tetapi perkataan Tuhan engkau akan menjadi sempurna: “Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahanam dengan jin dan manusia [yang durhaka] semuanya (Hūd [11]:119-120). Lihat pula QS.7:180; QS.15:44; QS.32:14; QS. 38:85-86.

Merupakan Pujian Bukan Sebagai Celaan

Semua pernyataan Allah Swt. tersebut selain merupakan pujian Allah Swt. terhadap kesungguhan Nabi Besar Muhammad saw, dalam melaksanakan amanat yang merupakan kewajiban beliau saw., jyang harus disampaikannya kepada umat manusia, juga menjelaskan bahwa tidak ada paksaan dalam hal agama – terutama agama Islam – karena segala sesuatunya telah sangat jelas, firman-Nya:

لَاۤ اِکۡرَاہَ فِی الدِّیۡنِ ۟ۙ قَدۡ تَّبَیَّنَ الرُّشۡدُ مِنَ الۡغَیِّ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بِالطَّاغُوۡتِ وَ یُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰہِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَکَ بِالۡعُرۡوَۃِ الۡوُثۡقٰی ٭ لَا انۡفِصَامَ لَہَا ؕ وَ اللّٰہُ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿۲۵۷ اَللّٰہُ وَلِیُّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ۙ یُخۡرِجُہُمۡ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَی النُّوۡرِ۬ؕ وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اَوۡلِیٰٓـُٔہُمُ الطَّاغُوۡتُ ۙ یُخۡرِجُوۡنَہُمۡ مِّنَ النُّوۡرِ اِلَی الظُّلُمٰتِ ؕ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿۲۵۸

Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh jalan benar itu nyata bedanya dari kesesatan, karena itu barangsiapa kafir kepada thāghūt dan beriman kepada Allāh, maka sungguh ia telah berpegang kepada suatu pegangan yang sangat kuat lagi tidak akan putus, dan Allāh Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Allāh adalah Pelindung orang-orang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada cahaya, dan orang-orang kafir pelindung mereka adalah thāghūt, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada berbagai kegelapan, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah [2]:257-258).

وَ قُلِ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۟ فَمَنۡ شَآءَ فَلۡیُؤۡمِنۡ وَّ مَنۡ شَآءَ فَلۡیَکۡفُرۡ ۙ اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا لِلظّٰلِمِیۡنَ نَارًا ۙ اَحَاطَ بِہِمۡ سُرَادِقُہَا ؕ وَ اِنۡ یَّسۡتَغِیۡثُوۡا یُغَاثُوۡا بِمَآءٍ کَالۡمُہۡلِ یَشۡوِی الۡوُجُوۡہَ ؕ بِئۡسَ الشَّرَابُ ؕ وَ سَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا ﴿۳۰

Dan katakanlah: ”Inilah haq (kebenaran) dari Tuhan kamu karena itu barang­siapa menghendaki maka beriman­lah, dan barangsiapa menghendaki maka kafirlah”, sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang yang zalim itu api yang gejolak kubarannya me­ngepung mereka, dan jika mereka berteriak meminta tolong, mereka akan ditolong dengan air seperti lebur-an timah, yang akan menghanguskan wajah-wajah, sangat buruk minum­an itu dan sangat buruk tempat tinggal itu! (Al-Kahf [18]:30).

وَ لَوۡ اَنَّنَا نَزَّلۡنَاۤ اِلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ کَلَّمَہُمُ الۡمَوۡتٰی وَ حَشَرۡنَا عَلَیۡہِمۡ کُلَّ شَیۡءٍ قُبُلًا مَّا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡۤا اِلَّاۤ اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَہُمۡ یَجۡہَلُوۡنَ ﴿۱۱۲ وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا شَیٰطِیۡنَ الۡاِنۡسِ وَ الۡجِنِّ یُوۡحِیۡ بَعۡضُہُمۡ اِلٰی بَعۡضٍ زُخۡرُفَ الۡقَوۡلِ غُرُوۡرًا ؕ وَ لَوۡ شَآءَ رَبُّکَ مَا فَعَلُوۡہُ فَذَرۡہُمۡ وَ مَا یَفۡتَرُوۡنَ ﴿۱۱۳ وَ لِتَصۡغٰۤی اِلَیۡہِ اَفۡـِٕدَۃُ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ وَ لِیَرۡضَوۡہُ وَ لِیَقۡتَرِفُوۡا مَا ہُمۡ مُّقۡتَرِفُوۡنَ ﴿۱۱۴

Dan seandainya pun Kami menurunkan malaikat-malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka, dan Kami mengumpulkan ke hadapan mereka segala sesuatu niscaya mereka tidak akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka berlaku jahil. Dan dengan cara demikian Kami telah menjadikan musuh bagi setiap nabi syaitan-syaitan [dari golongan] manusia dan jin. Sebagian mereka membisikan kepada sebagian lainnya kata-kata indah untuk menipu. Dan jika Tuhan engkau menghendaki mereka tidak akan mengerjakannya, maka biarkanlah mereka dengan apa yang mereka ada-adakan. Dan supaya hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat cenderung kepada bisikan-bisikan itu, dan mereka menyukainya, dan supaya mereka mengupayakan apa-apa yang sedang mereka upayakan (Al-An’ām [6]:112-114).

تِلۡکَ الرُّسُلُ فَضَّلۡنَا بَعۡضَہُمۡ عَلٰی بَعۡضٍ ۘ مِنۡہُمۡ مَّنۡ کَلَّمَ اللّٰہُ وَ رَفَعَ بَعۡضَہُمۡ دَرَجٰتٍ ؕ وَ اٰتَیۡنَا عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَا اقۡتَتَلَ الَّذِیۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ وَ لٰکِنِ اخۡتَلَفُوۡا فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ اٰمَنَ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ کَفَرَ ؕ وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَا اقۡتَتَلُوۡا ۟ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَفۡعَلُ مَا یُرِیۡدُ ﴿۲۵۴

Inilah rasul-rasul yang telah Kami lebihkan sebagian dari mereka atas yang lain, di antara mereka ada yang Allah bercakap-cakap, dan [ada yang] Dia meninggikan sebagian dari mereka dalam derajat. Dan Kami memberi Isa ibnu Maryam keterangan-keterangan nyata serta Kami memperkuat dia dengan Ruhulqudus. Jika dikehendaki Allah sekali-kali tidak akan saling memerangi orang-orang yang sesudah mereka setelah datang kepada mereka Tanda-tanda yang nyata, tetapi mereka tetap berselisih. Maka di antara mereka ada yang beriman dan ada yang kafir. Dan jika Allah menghendaki mereka tidak akan saling memerangi tetapi Allah berbuat apa yang Dia kehendaki (Al-Baqarah [2]:254).



ooo0ooo

Referensi:

The Holy Quran, editor Malik Ghulam Farid

Pajajaran Anyar, 17 Ramadhan/Agustus 2011



Tidak ada komentar:

Posting Komentar