بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
MENGAPA AGAMA DAN SEKTE AGAMA DI DUNIA BERMACAM-MACAM?
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
BAB V
KISAH MONUMENTAL “ADAM – MALAIKAT – IBLIS”.
وَ اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿۳۱﴾
Dan ketika Tuhan engkau berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menciptakan seorang khalifah di bumi”, mereka berkata: “Apakah Engkau akan menjadikan di dalamnya orang yang akan berbuat kerusakan di dalamnya dan akan menumpahkan darah? Padahal kami senantiasa bertasbih dengan pujian Engkau dan kami mensucikan Engkau.” Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah [2]:31).
Pada Bab III telah dikemukakan secara ringkas proses serta penyebab terjadinya perpe-cahan umat manusia, termasuk perpecahan yang terjadi di kalangan umat beragama. Pada hakikatnya kenyataan tersebut sejak awal pun telah “disinyalir” oleh para malaikat yaitu mengenai akan munculnya orang-orang yang akan berbuat kerusakan dan penumpahan darah, ketika Allah Swt. berkehendak akan menjadikan seorang Khalifah Allah di bumi, dalam rangka menciptakan tatanan “bumi baru dan langit baru” (QS.14:49-53), untuk menggantikan tatanan “bumi lama dan langit lama” yang telah penuh dengan berbagai jenis fasād (kerusakan), firman-Nya:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی النَّاسِ لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿۴۲﴾ قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿۴۳﴾ فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿۴۴﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan akibat perbuatan tangan manusia supaya mereka merasakan [akibat] sebagian perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali [dari kedurhakaannya]. Katakanlah: “Berjalanlah di bumi betapa [buruk] akibat bagi orang-orang sebelum [kamu] ini, kebanyakan mereka adalah orang-orang musyrik”. Maka hadap-kanlah wajah engkau kepada agama yang kekal sebelum datang hari dari Allah yang tidak dapat dihindarkan, pada hari itu [orang-orang mukmin dan kafir] akan terpisah (Al-Rum [30]:42).
Menurut Allah Swt. dalam Al-Quran bahwa hal itu terjadi karena umumnya hati umat manusia – termasuk hati umat beragama – telah menjadi keras, akibat mereka telah jauh dari masa kenabian yang penuh berkat:
اَلَمۡ یَاۡنِ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡ تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ لِذِکۡرِ اللّٰہِ وَ مَا نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ ۙ وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿۱۷﴾ اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ ﴿۱۸﴾
Belum datangkah waktu bagi orang-orang yang beriman bahwa hati mereka tunduk untuk mengingat Allah dan kebenaran yang telah turun, dan janganlah mereka menjadi seperti orang-orang yang diberi Kitab sebelumnya lalu zaman menjadi panjang atas mereka maka hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan dari mereka menjadi durhaka? Ketahuilah bahwa Allah menghidupkan bumi setelah matinya, sesungguhnya Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepada kamu supaya kamu mengerti (Al-Hadid [57]:17-18). Lihat pula QS.2:73-75. QS.5:14; QS.6:43-46.
Dari ayat tersebut diketahui bahwa sebagaimana halnya di alam jasmani turunnya air hujan yang diturunkan dari langit menyebabkan permukaan bumi yang telah kering gersang berubah menjadi hijau kemilau dengan tumbuh-suburnya berbagai jenis tumbuh-tumbuhan (QS.6:100; QS14:33; QS.16:11; QS.22:63; QS.35:28), demikian pula yang terjadi di dalam dunia keruhanian jika keadaannya seperti itu, yakni cara menghidupkannya kembali adalah dengan air hujan ruhani yang turun dari langit melalui pengutusan para rasul Allah, sehingga hati manusia yang telah keras membatu akan menjadi subur kembali dengan berbagai tumbuhnya berbagai akhlak dan ruhani terpuji.
Gambaran Keadaan Kehidupan Umat Beragama Menjelang diutusnya Nabi Besar Muhammad saw.
Keadaan dalam dunia keruhanian atau dunia keagamaan sebagaimana yang digambarkan oleh kedua firman Allah Swt. tersebut senantiasa berulang-ulang terjadi pada saat menjelang Allah Swt. mengutus Rasul-Nya di setiap zaman (QS.7:35-37), terutama sekali menjelang dibangkitkannya seorang Rasul Allah yang misi kerasulannya untuk seluruh umat manusia (QS.7:159; QS,21:108; QS.25:2; QS.34:29), yaitu Nabi Besar Muhammad saw..
Dengan perantaraan firman-Nya tersebut kita diberitahu bahwa jika kegelapan akhlak dan ruhani telah menyelimuti bumi dan manusia melupakan Allah Swt. serta menaklukkan diri sendiri kepada penyembahan-penyembahan tuhan-tuhan yang dikhayalkan dan diciptakan sendiri oleh mereka, maka Allah Swt. membangkitkan (mengutus) seorang nabi (rasul) untuk mengembalikan gembalaan yang tersesat ke haribaan Majikan-nya yakni Allah Swt..
Mengenai keadaan masa menjelang diutus-Nya Nabi Besar Muhammad saw. dikemukakan dalam buku “Emotion as the Basis of Civilization” dan “Spirit of Islam” sebagai berikut:
“Permulaan abad ketujuh adalah masa kekacauan nasional dan sosial, dan agama sebagai kekuatan akhlak telah lenyap dan telah jauh menjadi hanya semata-mata tatacara serta upacara adat belaka; dan agama-agama besar di dunia sudah tidak lagi berpengaruh sehat pada kehidupan para penganutnya. Api suci yang dinyalakan oleh Zoroaster a.s., Musa a.s. dan Isa a.s. di dalam aliran darah manusia telah padam.
Dalam abad kelima dan keenam dunia beradab berada di tepi jurang kekacauan. Nam-paknya peradaban besar yang telah memerlukan waktu 4000 tahun lamanya untuk menegakkannya telah berada di tepi jurang.............Peradaban laksana pohon besar yang daun-daunnya telah menaungi dunia dan dahan-dahannya telah menghasilkan buah-buahan emas dalam kesenian, keilmuan, kesusastraan, sudah goyah, batangnya tidak hidup lagi dengan mengalirkan sari pengabdian dan pembaktian, tetapi telah busuk hingga terasnya.”
Demikianlah keadaan umat manusia pada waktu Nabi Besar Muhammad saw. -- Guru umat manusia terbesar – muncul pada pentas dunia, dan tatkala syariat yang paling sempurna dan terakhir diturunkan dalam bentuk Al-Quran, sebab syariat yang sempurna hanya dapat diturunkan bila semua atau kebanyakan keburukan – teristimewa yang dikenal sebagai akar keburukan -- menampakkan diri telah menjadi mapan.
Kalimat “daratan dan lautan” dapat diartikan: (a) bangsa-bangsa yang kebudayaan dan peradabannya hanya semata-mata berdasarkan pada akal serta pengalaman manusia, dan bangsa-bangsa yang kebudayaannya serta peradabannya didasari oleh wahyu Ilahi. (b) orang-orang yang hidup di benua-benua dan orang-orang yang hidup di pulau-pulau. Menurut ayat ini berarti bahwa semua bangsa (umat manusia) di dunia saat itu telah rusak sampai pada intinya, baik secara politis, sosial mau pun akhlaki.
Keadaan gelap-gulita dalam segala bidang kehidupan umat manusia tersebut serta proses terciptanya tatanan “bumi baru dan langit baru” melalui pengutusan para nabi (rasul) Allah – khususnya Nabi Besar Muhammad saw. – memiliki keselarasan dengan proses penciptaan tatanan alam semesta jasmani. Berikut firman Allah Swt. mengenai hal itu:
اَوَ لَمۡ یَرَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ کَانَتَا رَتۡقًا فَفَتَقۡنٰہُمَا ؕ وَ جَعَلۡنَا مِنَ الۡمَآءِ کُلَّ شَیۡءٍ حَیٍّ ؕ اَفَلَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿۳۱﴾
Tidakkah orang-orang kafir melihat bahwasanya seluruh langit dan bumi keduanya dahulu adalah suatu yang padu, lalu Kami pisahkan keduanya? Dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup dari air, apakah mereka tidak mau beriman? (Al-Anbiya [31).
Ayat ini mengisyaratkan kepada suatu kebenaran ilmiah yang agung. Nampaknya ayat ini menunjuk kepada keadaan alam semesta jasmani ketika masih belum memiliki bentuk benda, dan ayat tersebut menyatakan bahwa seluruh alam semesta ini – termasuk tata-surya -- telah berkembang dari suatu yang padu yang belum memiliki bentuk yakni ratqan.
Selaras dengan hukum yang Allah Swt. tetapkan, Dia memecahkan gumpalan (ratqan) tersebut lalu pecahan-pecahan yang tercerai-berai itu secara bertahap melalui suatu proses evolusi menjadi kesatuan-kesatuan tata-surya (The Universe Surveyed oleh Harold Richards dan The Nature of the Universe oleh Fred Hoyle). Sesudah itu Allah Swt. menciptakan seluruh kehidupan dari air.
Ayat itu nampaknya mengandung arti bahwa seperti halnya alam kebendaan, alam keruhanian pun berkembang dari “gumpalan” (ratqan) yang belum memiliki bentuk yang terdiri dari alam pikiran yang kacau-balau serta kepercayaan-kepercayaan yang bukan-bukan. Sebagaimana Allah Swt. dengan hikmah-Nya yang tidak pernah meleset dan sesuai dengan rencana agung, telah memecahkan gumpalan (ratqan) tersebut, dan pecahan-pecahan yang bertebaran itu menjadi kesatuan wujud berbagai tata-surya, persis seperti itu pula Dia mewujudkan suatu tertib atau tatanan ruhani yang baru dalam suatu alam yang berguling-gantang di dalam paya-paya cita-cita yang kacau-balau.
Apabila umat manusia tenggelam ke dalam kegelapan akhlak yang keruh serta angkasa (langit) keruhanian menjadi tersaput oleh awan yang padat lagi sesak, maka Allah Swt. menyebabkan kemunculan suatu cahaya berupa seorang Rasul Allah yang mengusir kegelapan ruhani yang telah menyebar-luas itu – yakni terjadi peristiwa “big bang” (ledakan besar) ruhani -- dan dari “gumpalan” tidak berbentuk serta tanpa kehidupan berupa kerendahan akhlak dan ruhani, lahirlah suatu alam semesta ruhani yang mulai meluas dari pusatnya dan akhirnya meliputi seluruh bumi menerima kehidupan serta pengarahan dari tenaga penggerak yang berada di belakangnya.
Mengisyaratkan kepada kenyataan itu pulalah pernyataan Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini mengenai penciptaan “bumi baru dan langit baru”:
یَوۡمَ تُبَدَّلُ الۡاَرۡضُ غَیۡرَ الۡاَرۡضِ وَ السَّمٰوٰتُ وَ بَرَزُوۡا لِلّٰہِ الۡوَاحِدِ الۡقَہَّارِ ﴿۴۹﴾ وَ تَـرَی الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ مُّقَرَّنِیۡنَ فِی الۡاَصۡفَادِ ﴿ۚ۵۰﴾ سَرَابِیۡلُہُمۡ مِّنۡ قَطِرَانٍ وَّ تَغۡشٰی وُجُوۡہَہُمُ النَّارُ ﴿ۙ۵۱﴾ لِیَجۡزِیَ اللّٰہُ کُلَّ نَفۡسٍ مَّا کَسَبَتۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ ﴿۵۲﴾ ہٰذَا بَلٰغٌ لِّلنَّاسِ وَ لِیُنۡذَرُوۡا بِہٖ وَ لِیَعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا ہُوَ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ وَّ لِیَذَّکَّرَ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ ﴿٪۵۳﴾
Pada hari ketika bumi ini akan digantikan dengan bumi yang lain dan begitu juga seluruh langit, dan mereka akan tampil menghadap Allah, Yang Maha Esa, Maha Perkasa. Dan engkau akan melihat orang-orang yang berdosa pada hari itu diikat dengan belenggu. Baju mereka dari pelangkin (ter) dan wajah mereka akan ditutupi api, supaya Allah membalas setiap jiwa apa yang telah diusahakannya. Sesungguhnya perhitungan Allah sangat cepat. Ini adalah suatu nasihat yang cukup bagi manusia dan supaya dengan itu mereka mendapat peringatan dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa, dan supaya orang yang berakal memberikan perhatian. (Ibrahim [14]:49-53).
Dengan jatuhnya Mekkah ke dalam kekuasaan umat Islam dan tegaknya Islam di jazirah Arabia sebagai satu kekuatan dahsyat, maka seolah-oleh terwujudlah satu alam semesta baru dengan langit baru dan bumi baru. Tertib lama telah dilenyapkan dan diganti oleh tertib baru yang sama sekali berbeda dari yang lama.
Kisah Monumental “Adam – Malaikat – Iblis”
Sehubungan dengan penciptaan tatanan “bumi baru dan langit baru” di lingkungan kehidupan umat manusia, berikut adalah firman Allah Swt. mengenai kisah monumental “Adam, Malaikat, Iblis”:
وَ اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿۳۱﴾
Dan ketika Tuhan engkau berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menciptakan seorang khalifah di bumi”, berkata mereka: “Apakah Engkau akan menjadikan di dalamnya orang yang akan berbuat kerusakan di dalamnya dan akan menumpahkan darah? Padahal kami senantiasa bertasbih dengan pujian Engkau dan kami mensucikan Engkau.” Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah [2]:31).
Yang pasti bukan Khalifah Allah atau Adam atau pun para nabi Allah yang disinyalir para malaikat akan berbuat kerusakan dan penumpahan darah di muka bumi, melainkan pihak-pihak yang tidak menyukai (menentang) terciptanya “bumi baru dan langit baru” yang dibangun dengan perantaraan Khalifah Allah, sebab mereka menganggap bahwa superioritas serta dominasi mereka di lingkungan “bumi lama dan langit lama” benar-benar terganggu, bahkan akan lenyap.
Kedengkian seperti ini lazim terjadi dilakukan oleh siapa pun dan dalam bidang kehidupan apa pun, ketika mereka menganggap bahwa dominasinya atas sesuatu yang menguntungkannya terganggu serta mengalami kehancuran. Kenyataan tersebut digambarkan dalam kisah monumental “Adam, Malaikat, Iblis” berupa pembangkangan Iblis ketika diperintahkan Allah Swt. untuk “sujud” (patuh-taat) kepada Adam (Khalifah Allah) bersama-sama dengan para malaikat, firman-Nya:
وَ عَلَّمَ اٰدَمَ الۡاَسۡمَآءَ کُلَّہَا ثُمَّ عَرَضَہُمۡ عَلَی الۡمَلٰٓئِکَۃِ ۙ فَقَالَ اَنۡۢبِـُٔوۡنِیۡ بِاَسۡمَآءِ ہٰۤؤُلَآءِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿۳۲﴾ قَالُوۡا سُبۡحٰنَکَ لَا عِلۡمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ ﴿۳۳﴾
Dan Dia mengajari Adam nama-nama semuanya, kemudian Dia mengemukakan mereka kepada para malaikat dan berfirman: “Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama [mereka] ini jika kamu berkata benar.” Mereka berkata: “Maha Suci Engkau, kami tidak mempunyai pengetahuan selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkau Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (Al-Baqarah [2]: 32-33).
Hakikat Diajarkan-Nya al-Asma kepada Adam
Para malaikat mengakui keunggulan Adam atas diri mereka, karena terbukti pengetahuan Adam jauh lebih sempurna daripada pengetahuan mereka, itulah sebabnya ketika Allah Swt. memerintahkan mereka untuk “sujud” (patuh taat) kepada Adam serta mendukung missi sucinya untuk menciptakan “bumi baru dan langit baru”, mereka dengan patuh “sujud” (patuh-taat) kepada Adam, kecuali iblis membangkang, karena ia menganggap dirinya lebih mulia daripada Adam, firman-Nya:
قَالَ یٰۤاٰدَمُ اَنۡۢبِئۡہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۚ فَلَمَّاۤ اَنۡۢبَاَہُمۡ بِاَسۡمَآئِہِمۡ ۙ قَالَ اَلَمۡ اَقُلۡ لَّکُمۡ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۙ وَ اَعۡلَمُ مَا تُبۡدُوۡنَ وَ مَا کُنۡتُمۡ تَکۡتُمُوۡنَ ﴿۳۴﴾ وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ اَبٰی وَ اسۡتَکۡبَرَ ٭۫ وَ کَانَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿۳۵﴾
Dia berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama mereka itu.” Maka tatkala diberitahukannya kepada mereka nama-nama mereka itu, Dia berfirman: “Bukankah telah Aku katakan kepada kamu sesungguhnya Aku mengetahui rahasia-rahasia seluruh langit dan bumi dan mengetahui apa pun yang kamu zahirkan dan yang kamu sembunyikan?” Dan [ingatlah] ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah (patuh-taatlah) kamu kepada Adam” maka mereka sujud (patuh taat) kecuali Iblis, ia menolak dan takabur, dan ia termasuk orang-orang kafir. (Al-Baqarah [2]:34-35).
Pada hakikatnya yang dimaksud dengan pengajaran al-Asma (nama-nama) oleh Allah Swt. kepada Adam atau “khalifah Allah” adalah pemberitahuan rahasia-rahasia gaib Ketuhanan yang baru, firman-Nya:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ۲۷﴾ اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ۲۸﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿۲۹ ﴾
Dia-lah [Allah] Yang mengetahui yang gaib maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan [malaikat] pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya Dia mengetahui bahwa sungguh mereka (rasul-rasul) telah menyampaikan Amanat-amanat Tuhan mereka, dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan tentang segala sesuatu (Al-Jin [72]:27-29).
Firman-Nya lagi:
مَا کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ ﴿۱۷۰﴾
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang beriman di dalam keadaan kamu di dalamnya, sehingga Dia memisahkan yang buruk daripada yang baik. Dan Allah tidak memberitahukan yang gaib kepada kamu tetapi Allah memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan kepada rasul-rasul-Nya, dan jika kamu beriman serta bertakwa maka bagimu ganjaran yang besar (Āli ‘Imran [3]: 180).
Dalam Surah lain Allah Swt. menerangkan alasan penolakan Iblis untuk “bersujud” kepada Adam, yang berujung dengan pengusiran Iblis dari “surga keridhaan-Nya”, firman-Nya:
قَالَ مَا مَنَعَکَ اَلَّا تَسۡجُدَ اِذۡ اَمَرۡتُکَ ؕ قَالَ اَنَا خَیۡرٌ مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ نَّارٍ وَّ خَلَقۡتَہٗ مِنۡ طِیۡنٍ ﴿۱۳﴾ قَالَ فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا فَاخۡرُجۡ اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ ﴿۱۴﴾
Dia berfirman: Apa yang menghalangi engkau sehingga tidak mau sujud ketika Aku memerintahkan kepada engkau?” Ia (Iblis) berkata: “Aku lebih baik daripada dia, Engkau menjadikan aku dari api sedangkan dia Engkau jadikan dari tanah liat”. Dia berfirman: “Pergilah engkau darinya karena tidak patut bagi engkau berlaku takabur di dalamnya Keluarlah! Sesungguhnya engkau termasuk di antara orang-orang hina.” (Al-A’raf, 13-14).
Jadi, jelaslah bahwa yang dibanggakan oleh iblis adalah keadaan yang bersifat lahiriah yakni ia merasa memiliki keunggulan dalam berbagai hal daripada Adam, sedang kepatuhan para malaikat untuk “sujud” – yakni patuh taat -- kepada Adam adalah semata-mata karena keunggulan Adam mengenai makrifat Ilahi yang tidak mereka miliki.
Kedengkian Iblis terhadap Adam dan Para Pengikutnya
Pengusiran Iblis dari “kehidupan surgawi” yang sebelumnya ia nikmati tersebut telah membuat kedengkian Iblis terhadap Adam dan para pengikutnya semakin menjadi-jadi, firman-Nya:
قَالَ اَنۡظِرۡنِیۡۤ اِلٰی یَوۡمِ یُبۡعَثُوۡنَ ﴿۱۵﴾ قَالَ اِنَّکَ مِنَ الۡمُنۡظَرِیۡنَ ﴿۱۶﴾ قَالَ فَبِمَاۤ اَغۡوَیۡتَنِیۡ لَاَقۡعُدَنَّ لَہُمۡ صِرَاطَکَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ﴿ۙ۱۷﴾ ثُمَّ لَاٰتِیَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَیۡنِ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مِنۡ خَلۡفِہِمۡ وَ عَنۡ اَیۡمَانِہِمۡ وَ عَنۡ شَمَآئِلِہِمۡ ؕ وَ لَا تَجِدُ اَکۡثَرَہُمۡ شٰکِرِیۡنَ ﴿۱۸﴾ قَالَ اخۡرُجۡ مِنۡہَا مَذۡءُوۡمًا مَّدۡحُوۡرًا ؕ لَمَنۡ تَبِعَکَ مِنۡہُمۡ لَاَمۡلَـَٔنَّ جَہَنَّمَ مِنۡکُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿۱۹﴾
Ia (Iblis) berkata: “Berilah aku tangguh sampai hari hari mereka akan dibangkitkan.” Dia berfirman: “Sesungguhnya engkau termasuk orang yang-orang yang diberi tangguh.” Ia (Iblis) berkata: “Maka dikarenakan Engkau telah menyatakanku sesat maka niscaya aku akan duduk menghadang mereka di jalan Engkau yang lurus., kemudian niscaya mereka akan kudatangi dari depan mereka, dari belakang mereka, dari kanan mereka dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapatkan kebanyakan mereka yang bersyukur.” Dia berfirman: “Keluarlah darinya terhina dan terusir. Niscaya barangsiapa dari antara mereka akan mengikuti engkau pasti akan Aku penuhi neraka jahanam dengan kamu semua (Al-A’raf, 15 -19).
Pada hakikatnya pengulangan kedengkian Iblis itu pulalah yang terjadi di setiap zaman ketika Allah Swt. mengutus para rasul-Nya dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37), demikian pula pada upaya pembunuhan Nabi Yusuf a.s. oleh saudara-saudara tuanya seayah. Mereka menganggap ayah mereka, Nabi Ya’qub a.s., telah berlaku tidak adil karena ayah mereka lebih mencintai Nabi Yusuf a.s. dan saudaranya, Benyamin, daripada mencintai mereka yang lebih kuat dan jumlahnya lebih banyak (QS.12:4-21 & 85-86).
Demikian pula ketidaksukaan (kedengkian) para pemuka Bani Israil atas Thalut (Gideon) -- sesudah Nabi Musa a.s. wafat -- ketika nabi mereka (Nabi Semuel a.s.) memberitahu mereka bahwa Allah Swt. telah mengabulkan permohonan mereka tentang seorang raja yang akan memimpin mereka berperang di jalan Allah, yakni Thalut (Gideon) menjadi raja mereka. Tetapi mereka merasa keberatan atas pengangkatan Thalut dengan alasan bahwa mereka lebih berhak menjadi raja daripada Thalut karena mereka memiliki kekayaan yang berlimpah sedangkan Thalut tidak memilik kekayaan (QS.2:247-249).
Begitu juga ketika Allah Swt. menjadikan Nabi Daud a.s. sebagai raja atau khalifah (QS.2:252-253; QS.38:27), sehingga beliau berhasil membangun kerajaan Bani Israil yang sangat luas dan kuat berbagai makar buruk, bahkan upaya pembunuhan atas diri beliau pun telah dilakukan (QS.38:22-27).
Demikian pula ketika Allah Swt. mengutus Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sebagai Al-Masih (QS.3:46-55) maka akibat kedengkian serta kezaliman yang dilakukan oleh para pemuka Bani Israil yang kafir atas kedua Rasul Allah tersebut mereka telah dikutuk oleh keduanya (QS.5:79-82), akibatnya Bani Israil dua kali diazab Allah Swt. dengan azab yang besar (QS.17:5-11).
Kedengkian yang sama juga telah dilakukan oleh para pemuka kaum kafir Quraisy -- dan juga golongan Ahli Kitab di Madinah -- ketika Allah Swt. telah memilih Nabi Besar Muhammad saw. sebagai Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. kepada mereka (QS.8:31; QS.43:32-33).
Dengan demikian berbagai bentuk azab atau kehinaan yang menimpa pihak-pihak yang mendengki tersebut pada hakikatnya merupakan suatu bentuk (1) “pengusiran” dari “surga keridhaan Ilahi” yang sebelumnya mereka nikmati, (2) “pengusiran” dari kesenangan hidup duniawi, akibat ketidak bersyukuran mereka (QS.4:148; Qs.8:54; QS.13:12; Qs.14:8; QS.17:16), sebagaimana pengusiran yang dialami oleh Iblis akibat menolak “bersujud” (patuh-taat) kepada Adam (Khalifah Allah) ketika Allah Swt. memerintahkan hal itu kepada para malaikat.
Mengisyaratkan kepada pengusiran dari “surga keridhaan Ilahi” itu pulalah firman Allah Swt. berikut ini:
وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ نَبَاَ الَّذِیۡۤ اٰتَیۡنٰہُ اٰیٰتِنَا فَانۡسَلَخَ مِنۡہَا فَاَتۡبَعَہُ الشَّیۡطٰنُ فَکَانَ مِنَ الۡغٰوِیۡنَ ﴿۱۷۶﴾ وَ لَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنٰہُ بِہَا وَ لٰکِنَّہٗۤ اَخۡلَدَ اِلَی الۡاَرۡضِ وَ اتَّبَعَ ہَوٰىہُ ۚ فَمَثَلُہٗ کَمَثَلِ الۡکَلۡبِ ۚ اِنۡ تَحۡمِلۡ عَلَیۡہِ یَلۡہَثۡ اَوۡ تَتۡرُکۡہُ یَلۡہَثۡ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُ الۡقَوۡمِ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا ۚ فَاقۡصُصِ الۡقَصَصَ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿۱۷۷﴾ سَآءَ مَثَلَاۨ الۡقَوۡمُ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اَنۡفُسَہُمۡ کَانُوۡا یَظۡلِمُوۡنَ ﴿۱۷۸﴾
Dan ceritakanlah kepada mereka kisah orang-orang yang Kami telah memberikan kepadanya Tanda-tanda Kami lalu ia melepaskan diri darinya, maka syaitan mengikutinya dan jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat. Dan jika Kami menghendaki niscaya dengan [Tanda-tanda] itu Kami meninggikannya tetapi ia cenderung ke bumi dan mengikuti hawa nafsunya, maka keadaannya seperti seekor anjing [yang menjulurkan lidahnya], jika engkau menghalaunya ia menjulurkan lidahnya dan jika engkau membiarkannya ia [tetap] menjulurkan lidahnya. Demikianlah misal orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami maka kisahkanlah kisah [ini] supaya mereka merenungkan. Sangat buruk keadaan orang-orang yang mendustakan Tanda-tanda Kami, dan kepada diri mereka sendirilah mereka aniaya (Al-A’rāf [7]:176-178).
Yang dimaksudkan di sini bukanlah seseorang tertentu melainkan semua orang yang kepada mereka Allāh Swt. memperlihatkan Tanda-tanda melalui seorang nabi tapi mereka menolaknya. Ungkapan semacam itu terdapat di tempat lain dalam Al-Quran (seperti QS.2:18). Ayat itu telah dikenakan secara khusus kepada seorang yang bernama Bal’am bin Ba’ura yang menurut kisah pernah hidup di zaman Nabi Musa a.s. dan konon dahulunya ia seorang wali Allah Kesombongan merusak pikirannya dan ia mengakhiri hidupnya dalam kenistaan. Ayat itu dapat juga dikenakan kepada Abu Jahal atau Abdullah bin Ubbay bin Salul atau dapat pula kepada tiap-tiap pemimpin kekafiran.
”Jannah-jannah” di Dunia
Berikut adalah bentuk “pengusiran” dari kesenangan hidup duniawi yang sebelumnya dinikmati oleh para penentang rasul Allah, sebagaimana firman-Nya mengenai Fir’aun yang membanggakan kekuasaannya di Mesir:
وَ نَادٰی فِرۡعَوۡنُ فِیۡ قَوۡمِہٖ قَالَ یٰقَوۡمِ اَلَیۡسَ لِیۡ مُلۡکُ مِصۡرَ وَ ہٰذِہِ الۡاَنۡہٰرُ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِیۡ ۚ اَفَلَا تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ؕ۵۲﴾ اَمۡ اَنَا خَیۡرٌ مِّنۡ ہٰذَا الَّذِیۡ ہُوَ مَہِیۡنٌ ۬ۙ وَّ لَا یَکَادُ یُبِیۡنُ ﴿۵۳﴾ فَلَوۡ لَاۤ اُلۡقِیَ عَلَیۡہِ اَسۡوِرَۃٌ مِّنۡ ذَہَبٍ اَوۡ جَآءَ مَعَہُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ مُقۡتَرِنِیۡنَ ﴿۵۴﴾ فَاسۡتَخَفَّ قَوۡمَہٗ فَاَطَاعُوۡہُ ؕ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا قَوۡمًا فٰسِقِیۡنَ ﴿۵۵﴾ فَلَمَّاۤ اٰسَفُوۡنَا انۡتَقَمۡنَا مِنۡہُمۡ فَاَغۡرَقۡنٰہُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۙ۵۶﴾ فَجَعَلۡنٰہُمۡ سَلَفًا وَّ مَثَلًا لِّلۡاٰخِرِیۡنَ ﴿٪۵۷﴾
Dan Fir’aun mengumumkan kepada kaumnya, dia berkata: “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan sungai-sungai ini mengalir di bawah [kekuasan]ku? Maka apakah kamu tidak melihat? Ataukah aku lebih baik dari pada orang yang hina ini (Musa) dan ia tidak dapat menjelaskan? Mengapa tidak dianugerahkan kepadanya gelang-gelang dari emas, atau datang bersamanya malaikat-malaikat yang mengiringinya?” Demikianlah ia (Fir’aun) memperbodoh kaumnya lalu mereka patuh kepadanya. Sesungguhnya mereka adalah kaum durhaka. Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menuntut balas dari mereka dan Kami menenggelamkan mereka semua, dan Kami menjadikan mereka kisah yang lalu dan misal bagi [geranasi] yang akan datang (Al-Zukhruf [43]:52-57).
Berikut firman-Nya mengenai “keterusiran” Fir’aun dari kenikmatan dunia yang selama itu dinikmati oleh dinastinya:
فَدَعَا رَبَّہٗۤ اَنَّ ہٰۤؤُلَآءِ قَوۡمٌ مُّجۡرِمُوۡنَ ﴿ؓ۲۳﴾ فَاَسۡرِ بِعِبَادِیۡ لَیۡلًا اِنَّکُمۡ مُّتَّبَعُوۡنَ ﴿ۙ۲۴﴾ وَ اتۡرُکِ الۡبَحۡرَ رَہۡوًا ؕ اِنَّہُمۡ جُنۡدٌ مُّغۡرَقُوۡنَ ﴿۲۵﴾ کَمۡ تَرَکُوۡا مِنۡ جَنّٰتٍ وَّ عُیُوۡنٍ ﴿ۙ۲۶﴾ وَّ زُرُوۡعٍ وَّ مَقَامٍ کَرِیۡمٍ ﴿ۙ۲۷﴾ وَّ نَعۡمَۃٍ کَانُوۡا فِیۡہَا فٰکِہِیۡنَ ﴿ۙ۲۸﴾ کَذٰلِکَ ۟ وَ اَوۡرَثۡنٰہَا قَوۡمًا اٰخَرِیۡنَ ﴿۲۹﴾ فَمَا بَکَتۡ عَلَیۡہِمُ السَّمَآءُ وَ الۡاَرۡضُ وَ مَا کَانُوۡا مُنۡظَرِیۡنَ ﴿٪۳۰﴾
Kemudian ia (Musa) berseru kepada Tuhan-nya: “Sesungguhnya mereka ini kaum berdosa” [Dia berfirman]: “Bawalah hamba-hamba-Ku pada waktu malam, sesungguhnya kamu akan dikejar, dan tinggalkanlah laut itu ketika tenang, sesungguhya mereka itu lasykar yang akan ditenggelamkan.” Berapa banyaknya kebun-kebun dan sumber-sumber mata air yang mereka tinggalkan, dan ladang-ladang serta tempat-tempat mulia, dan nikmat-nikmat yang dahulu mereka bersenang-senang di dalamnya. Demikianlah, dan Kami mewariskannya kepada kaum lain. Maka sekali-kali tidak menangisi mereka langit dan bumi dan tidak pula mereka diberi tangguh (Al-Dukhān [44]:23-30).
Dengan demikian jelaslah bahwa karena Allah Swt. telah menyatakan bahwa siapa pun yang telah menjadi penghuni surga di alam akhirat tidak akan pernah dikeluarkan lagi dari dalamnya (QS.2:83; QS.9:21, 72), bahkan akan terus menerus mengalami kemajuan untuk memasuki tingkatan-tingkatan surga berikutnya yang tidak akan pernah berakhir (QS.36:56; QS.66:9), oleh karena itu “jannah” (kebun/taman) yang Adam dan istrinya atau Nabi Adam a.s. dan pengikutnya pernah tinggal dan kemudian diperintahkan untuk keluar dari dalamnya – yakni hijrah -- akibat tipu-daya syaitan (QS.7:20-26), tiada lain adalah suatu tempat yang sangat subur di wilayah Mesopotamia.
Tempat berikutnya yang kemudian ditetapkan oleh Allah Swt. sebagai “jannah” – sekali gus sebagai “negeri yang dijanjikan” bagi hamba-hamba-Nya yang hakiki – adalah Kanaan (Palestina – QS.21:106-107). Demikian juga berkat pengabulan doa Nabi Ibrahim a.s. kota Mekkah pun merupakan “jannah” juga, karena walau pun tempat tersebut kering dan gersang tetapi Allah Swt. telah menjamin keamanan dan kesejahteraan hidup para penghuninya (QS.2:125-138; QS.3:98; QS.14:36; QS.27:92; QS.28:58-60; QS.29:68).
Nabi Besar Muhammad saw. pun telah berdoa mengenai kota Madinah agar menjadi kota yang penuh berkat seperti halnya Mekkah. Bahkan berdasarkan firman Allah Swt. dalam QS.62:3-5 – mengenai pengutusan kedua kali secara ruhani Nabi Besar Muhammad saw. di Akhir Zaman ini -- Allah Swt. telah menetapkan suatu “jannah” lainnya yang letaknya jauh dari kota Mekkah, sebagaimana diisyaratkan dalam perumpamaan dalam Surah Yā Sīn [36]:14-33 mengenai “seorang laki-laki yang berlari-lari dan bagian terjauh kota itu” (QS.36:21) yakni Mekkah, yang mengenai orang suci tersebut Allah Swt. berfirman:
قِیۡلَ ادۡخُلِ الۡجَنَّۃَ ؕ قَالَ یٰلَیۡتَ قَوۡمِیۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿ۙ۲۷﴾ بِمَا غَفَرَ لِیۡ رَبِّیۡ وَ جَعَلَنِیۡ مِنَ الۡمُکۡرَمِیۡنَ ﴿۲۸﴾
Dikatakan [kepadanya]: “Masuklah ke dalam jannah (surga)” Ia berkata: “Wahai alangkah baiknya jika kaumku mengetahui, betapa Tuhan-ku telah mengampuniku dan telah menjadikan aku dari antara orang-orang yang dimuliakan” (Yā Sīn [36]:27-28).
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar