بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
MENGAPA AGAMA DAN SEKTE AGAMA DI DUNIA BERMACAM-MACAM?
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
BAB VI
KISAH MONUMENTAL “DUA ANAK ADAM”
وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ نَبَاَ ابۡنَیۡ اٰدَمَ بِالۡحَقِّ ۘ اِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنۡ اَحَدِہِمَا وَ لَمۡ یُتَقَبَّلۡ مِنَ الۡاٰخَرِ ؕ قَالَ لَاَقۡتُلَنَّکَ ؕ قَالَ اِنَّمَا یَتَقَبَّلُ اللّٰہُ مِنَ الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿۲۸﴾
Dan ceritakanlah kepada mereka kisah dua anak Adam dengan benar ketika keduanya mempersembahkan korban maka salah seorang dari mereka itu dikabulkan sedangkan dari yang lain tidak dikabulkan, ia berkata: “Niscaya engkau akan aku bunuh.” [Saudaranya] berkata: “Sesungguhnya Allah hanya mengabulkan [korban] dari orang-orang yang bertakwa.
Dalam Bab sebelumnya telah dikemukakan mengenai Kisah Monumental “Adam, Malaikat, Iblis”, yang pengulangannya di setiap zaman adalah berupa pendustaan dan penentangan tokoh-tokoh umat beragama sebelumnya kepada rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37).
Kedengkian Iblis terhadap Adam atau Khalifah Allah dan para pengikutnya tersebut -- yang di setiap zaman terus berulang seiring dengan pengutusan para Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37) – diabadikan dalam Al-Quran berupa kisah monumental berikutnya yaitu “Kisah dua putera Adam” dimana karena pengorbanannya ditolak Allah Swt. lalu ia membunuh saudaranya yang pengorbanannya diterima Allah Swt., firman-Nya:
وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ نَبَاَ ابۡنَیۡ اٰدَمَ بِالۡحَقِّ ۘ اِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنۡ اَحَدِہِمَا وَ لَمۡ یُتَقَبَّلۡ مِنَ الۡاٰخَرِ ؕ قَالَ لَاَقۡتُلَنَّکَ ؕ قَالَ اِنَّمَا یَتَقَبَّلُ اللّٰہُ مِنَ الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿۲۸﴾ لَئِنۡۢ بَسَطۡتَّ اِلَیَّ یَدَکَ لِتَقۡتُلَنِیۡ مَاۤ اَنَا بِبَاسِطٍ یَّدِیَ اِلَیۡکَ لِاَقۡتُلَکَ ۚ اِنِّیۡۤ اَخَافُ اللّٰہَ رَبَّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿۲۹﴾ اِنِّیۡۤ اُرِیۡدُ اَنۡ تَبُوۡٓاَ بِاِثۡمِیۡ وَ اِثۡمِکَ فَتَکُوۡنَ مِنۡ اَصۡحٰبِ النَّارِ ۚ وَ ذٰلِکَ جَزٰٓؤُا الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۚ۳۰﴾ فَطَوَّعَتۡ لَہٗ نَفۡسُہٗ قَتۡلَ اَخِیۡہِ فَقَتَلَہٗ فَاَصۡبَحَ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿۳۱﴾ فَبَعَثَ اللّٰہُ غُرَابًا یَّبۡحَثُ فِی الۡاَرۡضِ لِیُرِیَہٗ کَیۡفَ یُوَارِیۡ سَوۡءَۃَ اَخِیۡہِ ؕ قَالَ یٰوَیۡلَتٰۤی اَعَجَزۡتُ اَنۡ اَکُوۡنَ مِثۡلَ ہٰذَا الۡغُرَابِ فَاُوَارِیَ سَوۡءَۃَ اَخِیۡ ۚ فَاَصۡبَحَ مِنَ النّٰدِمِیۡنَ ﴿ۚ۳۲﴾
Dan ceritakanlah kepada mereka kisah dua anak Adam dengan benar ketika keduanya mempersembahkan korban maka salah seorang dari mereka itu dikabulkan sedangkan dari yang lain tidak dikabulkan, ia berkata: “Niscaya engkau akan aku bunuh.” [Saudaranya] berkata: “Sesungguhnya Allah hanya mengabulkan [korban] dari orang-orang yang bertakwa. Jika engkau menjangkaukan tangan engkau terhadapku untuk membunuhku, aku tidak akan menjangkaukan tanganku terhadap engkau untuk membunuh engkau, sesungguhnya aku takut kepada Allah Tuhan seluruh alam. Sesungguhnya aku menginginkan supaya engkau menangggung dosaku dan dosa engkau sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni api, dan demikianlah balasan bagi orang-orang yang zalim.” Tetapi nafsunya telah membujuknya supaya membunuh saudaranya, lalu ia membunuhnya dan ia pun menjadi di antara orang-orang yang rugi. Maka Allah mengirim seekor burung gagak yang menggaruk-garuk tanah, supaya Dia memperlihatkan kepadanya bagaimana ia harus menyembunyikan mayat saudaranya. Ia berkata: “Celaka aku! Tidak sanggupkah aku berbuat seperti gagak ini sehingga dapat aku sembunyikan mayat saudaraku ini?” maka ia menjadi di antara orang-orang menyesal. (Al-Māidah [5]:28-32).
Sunnatullah yang Senantiasa Berulang
Apa yang diisyaratkan dalam ayat-ayat ini adalah suatu peristiwa yang serupa dengan apa yang dikemukakan di dalamnya mengenai dua anak Adam, tetapi peristiwa yang mengandung arti jauh lebih luas lagi penting itu akan terajadi kelak di kemudian hari ketika seorang nabi (rasul) Allah akan dibangkitkan dari kalangan saudara Bani Israil – yakni Bani Isma’il – dimana kenyataan tersebut telah menimbulkan kemarahan kaum Bani Israil terhadap Nabi Besar Muhammad saw. – yakni Nabi yang seperti Musa (QS.46:11; QS.73:16-17; Ulangan 18:15-19) -- dan mereka akan menjadi haus darah karena disulut rasa dengki, persis seperti Kain menjadi haus darah terhadap saudaranya, Habel.
Rasul Allah tersebut – yakni Nabi Besar Muhammad saw. – bukan sembarang wujud, karena dialah yang akan menjadi Pembaharu Dunia dan ditakdirkan membawa syariat abadi bagi segenap umat manusia, yang seluruh masa depannya bergangtung padanya, karena itu membunuhnya sama dengan membunuh seluruh umat manusia dan menyelamatkan jiwanya berate sama dengan menyelamatkan seluruh umat manusia, karena Nabi Besar Muhammad saw. adalah Rasul Allah yang dibangkitkan untuk seluruh umat manusia sampai Hari Kiamat (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.24:39). Sehubungan dengan hal tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman:
مِنۡ اَجۡلِ ذٰلِکَ ۚۛؔ کَتَبۡنَا عَلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اَنَّہٗ مَنۡ قَتَلَ نَفۡسًۢا بِغَیۡرِ نَفۡسٍ اَوۡ فَسَادٍ فِی الۡاَرۡضِ فَکَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِیۡعًا ؕ وَ مَنۡ اَحۡیَاہَا فَکَاَنَّمَاۤ اَحۡیَا النَّاسَ جَمِیۡعًا ؕ وَ لَقَدۡ جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا بِالۡبَیِّنٰتِ ۫ ثُمَّ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ بَعۡدَ ذٰلِکَ فِی الۡاَرۡضِ لَمُسۡرِفُوۡنَ ﴿۳۳﴾
Oleh sebab itu Kami menetapkan bagi Bani Israil bahwa barangsiapa yang membunuh seseorang sedangkan orang itu [tidak membunuh] orang lain atau telah mengadakan kerusakan di bumi maka seolah-olah ia membunuh seluruh manusia. Dan barangsiapa menyelamatkan nyawa seseorang maka ia seolah-olah menghidupkan seluruh manusia. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan Tanda-tanda yang nyata kemudian sesungguhnya kebanyakan dari mereka sesudah itu melampaui batas (Al-Māidah [5]:33).
Walau pun ketetapan Allah Swt. tersebut secara khusus tertuju kepada upaya pembunuhan yang dilakukan para pemuka kaum Bani Israil (Yahudi) terhadap Nabi Besar Muhammad saw., tetapi ketetapan tersebut berlaku pula bagi setiap upaya pembunuhan terhadap para Rasul Allah dari zaman ke zaman, akibat kedengkian para pemuka kaumnya terhadap mereka.
Salah satu bentuk dari “seakan-akan membunuh seluruh umat manusia” adalah ketetapan Allah Swt. bahwa akibat pendustaan dan penentangan secara zalim kepada para Rasul Allah dari zaman ke zaman senantiasa mengakibatkan berbagai bentuk azab Allah Swt. menimpa kaum-kaum, karena Allah Swt. tidak pernah membinasakan suatu kaum sebelum terlebih dulu diutus kepada mereka seorang Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka, supaya tidak ada alasan bagi mereka untuk menyalahkan Allah Swt. (QS.6:132; QS.11:118; QS.17:16-17; QS.20:135; QS.26:209; QS.28:60; QS.29:15-42).
Ada pun ketetapan-ketetapan Allah Swt. sebagai akibat upaya pembunuhan yang dilakukan oleh para pemuka kaum Yahudi terhadap Nabi Besar Muhammad saw. lebih lanjut Dia berfirman:
اِنَّمَا جَزٰٓؤُا الَّذِیۡنَ یُحَارِبُوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ یَسۡعَوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ فَسَادًا اَنۡ یُّقَتَّلُوۡۤا اَوۡ یُصَلَّبُوۡۤا اَوۡ تُقَطَّعَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ اَرۡجُلُہُمۡ مِّنۡ خِلَافٍ اَوۡ یُنۡفَوۡا مِنَ الۡاَرۡضِ ؕ ذٰلِکَ لَہُمۡ خِزۡیٌ فِی الدُّنۡیَا وَ لَہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿ۙ۳۴﴾ اِلَّا الَّذِیۡنَ تَابُوۡا مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ تَقۡدِرُوۡا عَلَیۡہِمۡ ۚ فَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿٪۳۵﴾
Sesungguhnya balasan bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya serta berupaya mengadakan kerusakan di bumi yakni mereka dibunuh atau disalib atau dipotong tangan dan kaki mereka disebabkan oleh permusuhan [mereka] atau mereka diusir dari negeri. Hal demikian adalah penghinaan bagi mereka di dunia ini, dan di akhirat pun mereka akan mendapat azab yang besar; kecuali mereka yang bertaubat sebelum kamu berkuasa atas mereka, maka ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Maidah [5]:34-35).
Dua Kali Terusirnya Bani Israil Dari “Tanah yang Dijanjikan.”
Ada pun arti “mereka diusir dari negeri” berkenaan dengan Bani Israil adalah bahwa akibat kedurhakaan terhadap Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. – sehingga mereka dikutuk oleh kedua Rasul Allah tersebut QS.5:79-80) – maka mereka dua kali terusir secara hina oleh Allah Swt. dari “negeri yang dijanjikan” (Kanaan/Palestina).
Berikut adalah beberapa peristiwa kedurhakaan yang dilakukan oleh orang-orang kafir di kalangan Bani Israil mepada Nabi Daud a.s. – dan juga Nabi Sulaiman a.s. – serta kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.: (1) Mereka berusaha membunuh Nabi Daud a.s. dengan cara secara diam-diam masuki mihrab beliau (QS.38:22-27), (2) Mereka melakukan gerakan-gerakan rahasia terhadap kekuasaan Nabi Sulaiman a.s. (QS.2:103), (3) mereka berusaha membunuh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban (QS.4:156-159), sehingga mereka dikutuk oleh Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿۷۹﴾ کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿۸۰﴾ تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿۸۱﴾
Orang-orang kafir dari Bani Israil dikutuk oleh lidah Daud dan Isa Ibnu Maryam, hal demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas. Mereka tidak saling mencegah dari kemurkaran yang dikerjakan mereka itu. Benar-benar sangat buruk apa yang senantiasa mereka kerjakan. Engkau akan melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong. Benar-benar buruk apa yang dikirimkan oleh mereka lebih dulu bagi diri mereka sehingga Allah murka kepada mereka dan di dalam azab inilah mereka akan kekal. (Al-Maidah [5]:79-81).
Firman-Nya lagi:
وَ اِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّکَ لَیَبۡعَثَنَّ عَلَیۡہِمۡ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ مَنۡ یَّسُوۡمُہُمۡ سُوۡٓءَ الۡعَذَابِ ؕ اِنَّ رَبَّکَ لَسَرِیۡعُ الۡعِقَابِ ۚۖ وَ اِنَّہٗ لَغَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿۱۶۷﴾
Dan [ingatlah] ketika Tuhan engkau mengumumkan bahwa niscaya akan mengutus kepada mereka hingga Hari Kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang mengerikan. Sesungguhnya Tuhan engkau sangat cepat dalam menghukum dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang (Al-A’rāf [7]:168).
Dari antara semua nabi Bani Israil, Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa ibnu Maryam a.s. tergolong paling menderita ditangan orang-orang Yahudi. Penganiayaan orang-orang Yahudi terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mencapai puncaknya ketika beliau dipakukan pada tiang salib (QS.4:148-159), sedangkan penderitaan serta kepapaan yang dialami oleh Nabi Daud a.s. akibat kedurhaan kaumnya yang tidak tahu bersyukur itu tercermin di dalam Mazmur Nabi Daud a.s. yang sangat merawankan hati.
Dari lubuk hati yang penuh kepedihan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengutuk mereka. Kutukan Nabi Daud a.s. mengakibatkan orang-orang Bani Israil dihukum oleh Allah Swt. melalui penyerbuan dahsyat raja Nebukadnezar dari kerajaan Babilonia, yang menghancur-luluhkan kota suci Yerusalem serta membawa orang-orang Bani Israil sebagai tawanan ke Babilonia pada tahun 556 sM. Keterusiran mereka yang pertama dari “negeri yang dijanjikan” tersebut mencapai kurun waktu selama 100 tahun (QS.2:260).
Ada pun sebagai akibat kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mereka kembali ditimpa bencana dahsyat ketika pada tahun 70 Masehi Panglima Titus dari kerajaan Romawi kembali menghancurluluhkan kota suci Yerusalem serta menodai rumah-rumah ibadah dengan menyembelih babi, binatang yang sangat dibenci oleh orang-orang Yahudi – di dalam rumah-ibadah itu. Ketika peristiwa mengerikan itu terjadi Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. masih hidup di wilayah Hindustan, yakni di Kasymir (QS.23:51), karena menurut Nabi Besar Muhammad saw. ketika Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. wafat beliau berusia 120 tahun, firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ اِلٰی رَبۡوَۃٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪۵۱﴾
Dan Kami menjadikan [Isa] Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami memberi mereka berdua pelindungan pada dataran tinggi dengan lembah-lembah [subur] dan [sumber-sumber] air yang mengalir (Al Mukminūn [23]:51).
Peringatan Bagi Umat Islam
Dengan demikian ditampilkannya ayat-ayat mengenai dua kali pengusiran Bani Israil dari “negeri yang dijanjikan” setelah ayat mengenai peristiwa Isra Nabi Besar Muhammad saw. tersebut mengandung suatu nubuatan (kabar-gaib) bagi umat Islam (Bani Ismail), bahwa dua peristiwa mengerikan yang telah menimpa saudara mereka dari kalangan Bani Israil juga akan dialami pula oleh umat Islam atau Bani Ismail, yakni “negeri yang dijanjikan” atau kota suci Yerusalem atau Baitul Muqadas akan dua kali terlepas dari kekuasaan umat Islam sebagai akibat berbagai bentuk kedurhakaan yang dilakukan oleh umat Islam terhadap Allah Swt. dan Rasulullah saw, padahal menurut Allah Swt. diwariskannya “negeri yang dijanjikan” kepada suatu kaum merupakan tanda bahwa kaum tersebut merupakan “kaum terpilih” pada masanya, dan ketika “kaum terpilih” tersebut melakukan kedurhakaan terhadap Allah dan Rasul-Nya maka mereka akan terusir secara hina dari “negeri yang dijanjikan” tersebut, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ بَعۡدِ الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿۱۰۶﴾ اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوۡمٍ عٰبِدِیۡنَ ﴿۱۰۷﴾ؕ وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿۱۰۸﴾
Dan sungguh Kami benar-benar telah menuliskan (menetapkan) di dalam Zabur, sesudah Pemberi nasihat itu sesungguhnya negeri itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih. Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang menyembah [Allah]. Dan Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam (Al-Mukminūn [23]:106-108)
Kedua peristiwa pengusiran Bani Israil dari “negeri yang dijanjikan” (Kanaan/Pelestina) tersebut dirangkum dalam firman-Nya berikut ini – yang juga merupakan peringatan bagi umat Islam:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ ﴿۲﴾ وَ اٰتَیۡنَا مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ جَعَلۡنٰہُ ہُدًی لِّبَـنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اَلَّا تَتَّخِذُوۡا مِنۡ دُوۡنِیۡ وَکِیۡلًا ؕ﴿۳﴾ ذُرِّیَّۃَ مَنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوۡحٍ ؕ اِنَّہٗ کَانَ عَبۡدًا شَکُوۡرًا ﴿۴﴾ وَ قَضَیۡنَاۤ اِلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ وَ لَتَعۡلُنَّ عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿۵﴾
Maha Suci Dia Yang memperjalankan hambanya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masdijil Aqsha, yang sekelilingnya telah Kami berkati, supaya Kami memperlihatkan [sebagian] dari Tanda-tanda Kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. Dan Kami telah memberikan Kitab [Taurat] itu kepada Musa dan Kami menjadikannya petunjuk bagi Bani Israil [dengan perintah]: “Janganlah kamu mengambil penjaga selain Aku, hai keturunan orang-orang yang Kami angkut [dalam bahtera] bersama Nuh, sesungguhnya ia seorang hamba [Kami] yang bersyukur.” Dan Kami telah sampaikan dengan jelas kepada Bani Israil dalam Kitab itu: “Niscaya kamu akan melakukan kerusakan di bumi dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar (Bani Israil [17]:2-5).
Nubuatan Dalam Peristiwa Isra Nabi Besar Muhammad saw.
Jadi, inti dari kedua peristiwa besar tersebut adalah berupa pengusiran Bani Israil dari “negeri yang dijanjikan” yakni dari Kanaan (Palestina) atau dari kota suci Yerusalem, yang di kota tersebut Nabi Sulaiman a.s. telah membangun Baitul Muqadas yakni “Masjidil Aqsha”. Ada pun yang menarik mengenai kedua peristiwa pengusiran Bani Israil dari “negeri yang dijanjikan” (Yerusalem) tersebut dimulai oleh ayat Al-Quran tentang peristiwa Isra Nabi Besar Muhammad saw., yang juga menyinggung tentang Masjidil Aqsha, firman-Nya:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ ﴿۲﴾
Maha Suci Dia Yang memperjalankan hambanya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masdijil-Aqsha, yang sekelilingnya telah Kami berkati, supaya Kami memperlihatkan [sebagian] dari Tanda-tanda Kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Bani Isrāil [17]:2).
“Masjidil Aqsha” (masjid yang jauh) menunjuk kepada rumah ibadah (kenisah) yang didirikan oleh Nabi Sulaiman a.s. di Yerusalem. Kasyaf atau pengalaman ruhani yang disebut mengandung nubuatan yang agung. Perjalanan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. ke “Masjidil Aqsha” berarti hijrah beliau saw. ke Madinah dimana di sana beliau saw. mendirikan mesjid Nabawi, yang ditakdirkan kelak akan menjadi Pusat Islam. Ada pun peristiwa bahwa dalam kasyaf tersebut Nabi Besar Muhammad saw. mengimani shalat berjamaah bersama para nabi lainnya mengandung arti bahwa “agama baru” (agama Islam) tidak akan terkurung di tempat kelahirannya saja di Mekkah melainkan akan tersebar ke seluruh dunia dan para pengikut dari semua agama akan menggabungkan diri kepadanya.
Perjalanan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. ke Yerusalem dalam kasyaf tersebut dapat pula mengandung arti bahwa beliau saw. akan diberi kekuasaan atas daerah yang terletak Yerusalem di di sana. Nubuatan ini telah menjadi sempurna di masa Khilafat (kekhalifahan) Sayyidina Umar bin Khaththab r.a., yang untuk menggenapi kasyaf tersebut di Yerusalem telah dibangun masjid Al-Aqsha.
Pengalaman ruhani Nabi Besar Muhammad saw. dalam peristiwa Isra itu pun dapat mengisyaratkan kepada suatu perjalanan ruhani beliau saw. ke suatu “negeri yang jauh” di masa yang akan datang, berupa kemunculan beliau saw. secara ruhani dalam wujud seorang pengikut sejati beliau saw. di suatu negeri yang sangat jauh dari tempat beliau saw. diutus (QS.62:3-5; QS.36:14-29), yakni Hindustan.
Walau pun Bani Isma’il (bangsa Arab) telah mendapat karunia Allah Swt. menjadi kaum terpilih, karena dari kalangan merekalah Rasul Allah yang mengenai kelahiran 3000 tahun sebelumnya telah didoakan secara khusus oleh Nabi Ibrahim a.s., ketika beliau membangun kembali Rumah Allah (Ka’bah) bersama puteranya, Nabi Isma’il a.s. (QS.2:128-129).
Namun dalam kenyataannya, ketika doa Nabi Ibrahim a.s. tersebut dikabulkan Allah Swt. – berupa pengutusan Nabi Besar Muhammad saw, tetapi kaum beliau saw. bukan saja telah mendustakannya serta menganiaya beliau saw. dan orang-orang yang beriman kepada beliau saw., bahkan sebagai klimaks dari kezalimannya mereka berusaha untuk membunuh Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ اِذۡ یَمۡکُرُ بِکَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِیُثۡبِتُوۡکَ اَوۡ یَقۡتُلُوۡکَ اَوۡ یُخۡرِجُوۡکَ ؕ وَ یَمۡکُرُوۡنَ وَ یَمۡکُرُ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ خَیۡرُ الۡمٰکِرِیۡنَ ﴿۳۱﴾
Dan ketika orang-orang kafir merencanakan makar [buruk] terhadap engkau supaya mereka dapat menangkap engkau atau membunuh engkau atau mengusir engkau. Dan mereka membuat makar [buruk] tetapi Allah pun membuat makar [tandingan], dan Allah sebaik-baik perancang makar (Al-Anfāl [8]:30).
Duel Makar & Pewarisan “Negeri yang dijanjikan” Kepada Umat Islam
Ayat ini mengisyaratkan kepada perundingan rahasia para pemuka kaum kafir Quraisy yang diadakan di Darun Nadwah (Balai Permusyawaratan) di Mekkah, ketika mereka melihat bahwa semua usaha mereka mencegah berkembangnya aliran kepercayaan baru – yakni agama Islam -- gagal, dan bahwa kebanyakan orang-orang Islam yang mampu meninggalkan Mekkah telah berhijrah ke Medinah serta mereka telah jauh dari bahaya, maka mereka berkumpul di Darun Nadwah untuk membuat rencana ke arah usaha terakhir guna menghabisi Islam.
Sesudah dilakukan pertimbangan mendalam maka terpikir oleh mereka suatu rencana makar buruk yakni sejumlah pemuda dari berbagai qabilah (suku) Quraisy secara serempak akan menyergap Nabi Besar Muhammad saw. di malam hari – sebagaimana yang sebelumnya pun makar buruk seperti itu telah dilakukan oleh para penentang Nabi Shalih a.s. (QS.27-46-54).
Tetapi tanpa setahu mereka pada malam yang telah ditentukan itu Nabi Besar Muhammad saw. secara diam-diam meninggalkan kota Mekkah pada tengah malam, ketika para penjaga dikuasai kantuk berat, lalu beliau saw. bersama dengan Abu Bakar Shiddiq r.a. menjelang sampai Medinah sempat terlebih dulu berlindung di gua Tsaur, karena para pengejar yang haus darah sudah menemukan jejak kaki keduanya (QS.9:40), dan akhirnya dengan pertolongan Allah Swt. keduanya sampai dengan selamat di Medinah, firman-Nya:
اِلَّا تَنۡصُرُوۡہُ فَقَدۡ نَصَرَہُ اللّٰہُ اِذۡ اَخۡرَجَہُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ثَانِیَ اثۡنَیۡنِ اِذۡ ہُمَا فِی الۡغَارِ اِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا ۚ فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوا السُّفۡلٰی ؕ وَ کَلِمَۃُ اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا ؕ وَ اللّٰہُ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿۴۰﴾
Jika kamu tidak menolongnya maka sesungguhnya Allah telah menolongnya ketika ia diusir oleh orang-orang kafir, sedangkan ia kedua dari yang dua ketika keduanya berada dalam gua, maka ia berkata kepada temannya: “Janganlah engkau bersedih sesungguhnya Allah beserta kita.” Lalu Allah menurunkan ketentraman-Nya kepadanya dan menolongnya dengan lasykar-lasykar yang tidak kamu lihat, dan Dia menjadikan perkataan orang-orang kafir itu rendah sedangkan Kalimah Allah itulah yang tertinggi. Dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana (Al-Taubah [9]:40).
Itulah kenyataan yang terjadi mengenai peristiwa hijrahnya – atau terusirnya – Nabi Besar Muhammad saw. dari kota Mekkah, tetapi dalam ayat awal surah Bani Israil Allah Swt. telah menyatakan bahwa pada malam terjadinya makar buruk tersebut Allah Swt. Sendirilah yang “telah memperjalankan” Nabi Besar Muhammad saw. dari Mekkah menuju Medinah yang “sekelilingnya diberkati Allah.”
Dari kota Medinah inilah -- setelah peristiwa Fatah Mekkah -- pada masa umat Islam dipimpin oleh Khalifah Umar bin Khaththab r.a. maka “negeri yang dijanjikan” (Kanaan/Palestina) – yang sebelum ada dibawah kekuasaan kerajaan Romawi – jatuh ke dalam kekuasaan umat Islam sebagaimana yang telah ditetapkan Allah Swt. dalam firman-Nya sebelum ini:
وَ لَقَدۡ کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ بَعۡدِ الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿۱۰۶﴾ اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوۡمٍ عٰبِدِیۡنَ ﴿۱۰۷﴾ؕ وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿۱۰۸﴾
Dan sungguh Kami benar-benar telah menuliskan (menetapkan) di dalam Zabur, sesudah Pemberi nasihat itu sesungguhnya negeri itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih. Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang menyembah [Allah]. Dan Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam (Al-Mukminun [23]:106-108).
Dengan demikian sempurnalah kabar gembira yang terkandung dalam peristiwa Isra yang dialami oleh Nabi Besar Muhammad saw. secara ruhani, yakni:
سُبۡحٰنَ الَّذِیۡۤ اَسۡرٰی بِعَبۡدِہٖ لَیۡلًا مِّنَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ اِلَی الۡمَسۡجِدِ الۡاَقۡصَا الَّذِیۡ بٰرَکۡنَا حَوۡلَہٗ لِنُرِیَہٗ مِنۡ اٰیٰتِنَا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ ﴿۲﴾
Maha Suci Dia Yang memperjalankan hambanya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masdijil Aqsha, yang sekelilingnya telah Kami berkati, supaya Kami memperlihatkan [sebagian] dari Tanda-tanda Kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Bani Isrāil [17]:2).
(Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar